Sabtu, 10 Januari 2015

Indonesian Poetry Battle on Facebook 6 Winners!


Indonesian Poetry Battle on Facebook 6 Winners!

10897860_10204222989069959_1372669919723464590_n
photo credit by Afrizal Malna
Happy New Year!
New Hope. New Life.
Curators:
1. Kurnia Effendi (Poet)
2. Ita Siregar (Author)
3. Yuno Delwizar Baswir (Visual Artist & Founder of IACA)
4. Indah Darmastuti (Author)
5. Sartika Sari (Poet)
6. Timur Budi Raja (Poet)

Choosing:
Abu Nabil Wibisana
Setelah Kembang Api
Jembatan dari serabut api. Labirin cermin. Reranting kering tumbuh di atas pecahan kaca. Angin dingin.
Bulan tembaga. Sebuah lakon dengan alur adegan yang tak pernah bisa kauduga.
(Bello, 2015)

Abu Nabil Wibisana
After the Fireworks
A bridge of fire fiber. Maze of mirror. Dry twigs grow on broken glass. Cold wind. Copper moon. A play which its plot you could never guess.

Tri Jengky
Ubah-ubah asa
Gantungkan baju lama
Baju baru sudah kadung dosa
Asa bagai angin
Baunya cuma sebentar

Tri Jengky
changing the sense
hang the old clothes
new clothes have already
overgrown
by sin
sense is like the wind
it smells just for a while

Tan Muda
pada uban di kepalaku, aku sudah menaruh dirimu
agar waktu tak mati, agar waktu tak memutih
mungkin esok adalah hari yang telah diputuskan
aku menantikanmu, seribu tahun sebelum dan yang akan datang
penjelasan-penjelasan memang selalu rumit
aku memutuskan memilihmu, engkau memutuskan untuk menaruh jam dinding pada gamelan itu
untuk kau tabuh, bersamaku,bersamamu,
kita adalah pemusik itu yang memainkan “lagu hidup”

Tan Muda
the gray hair on my head, I’ve put you in
so that time
not stopping
so that time
not whitened
maybe tomorrow is an obvious day
i was expecting you,
a thousand years before
and which will come
explanations are always complicated
i’ve decided to choose you, you’ve decided to put a clock on the wall of the gamelan orchestra
for you to thump, with me, with you,
we are musicians
who play ‘the song of life’

Ratna Ayu Budhiarti
ATM DALAM KOTAK KADO
Jika esok aku menaruhmu di antara barisan hp bekas
Di etalase toko BEC*, jangan salahkan
Sebab di tahun-tahun lewat kau mèmburu cinta
Dari yang tiada.
Asal kau tahu, tahun ini
Dompet telah kujejali kartu-kartu ATM baru
Tiap saat biar kuambil rindu yang disimpan
Toh sudah banyak mesin sepanjang jalan,
atau di Indomaret, di Alfamart,
yang serupa jamur di musim hujan
Tahun ini, harapan kubungkus hati-hati
Dengan kotak dan pita cantik
Sesuai presisi.
02012015
*BEC: Bandung Electronic Center, pusat perbelanjaan elektronik di kota Bandung, Jawa Barat.

Ratna Ayu Budhiarti
Bank card in a gift box
If i put you in used mobilephone lines tomorrow
In a BEC outlet, do not blame me
Because in the past, you hunted for a love
From the nothingness
Just so you know, this year
I stuffed my wallet with new ATM cards
Every moment, I can take all the longing collected there
Yet there are many machines along the way
or in Indomaret, or in Alfamart,
like cultivated mushrooms in rainy season
This year, i keep the hope carefully
closed
with a box and a gorgeous ribbon
in an appropriate precision.
* BEC: Bandung Electronic Center, electronic shopping mall in Bandung, West Java Indonesia.

Ratu’Archy Laraz
Nisbi, menguap
Tak berwarna tak berasa
Ramuan ampuh untuk cinta
Namun meninggalkan jejak
Aroma di tanganmu

Ratuarti Laras
virtual
yawn
colorless, tasteless
intoxicated potion for love
however it leaves a track
of smell
in your hand

Dedy Tri Riyadi
Curahan Baru
Setiap pagi, harapan dicurahkan
seperti embun di atas daun, cahaya
pada pucuk-pucuk pohonan,
supaya kita bisa tahan pada masa
bersusah, ketika malam tiba, dan
ketika kita hilang rasa percaya
pada segala yang tampak menyenangkan,
dan kita lalu tiba-tiba juga merasa
dunia ini berhenti, hidup membosankan,
dan pergumulan tak henti memperdaya
kita. Setiap pagi, harapan dicurahkan
agar semuanya binasa
dan di atasnya tumbuh yang baru dan
berkilau, seperti minyak di atas kepala
lalu turun ke janggut dan doa-doa akan
mekar sempurna, seperti baru saja dibangkitkan
dari tidur sepanjang masa.
2015

Dedy Tri Riyadi
the new outpouring
every morning, hope is poured
like dew on the leaves, the lights
on top of the trees,
so we can hold on
time
so hard, when the night comes, and
when we lost confidence
on everything that looks nice,
and we suddenly felt
the world has stopped, life has turned to be so boring,
and then the struggle endlessly mesmerizing
us. every morning, hope is poured
perishing all being
and on it grown
a new and
shiny, like oil poured on my hair
down to the beard and prayers will
bloom, as a resurrection
from
forever sleep.
2015

Abu Nabil Wibisana
Tepi Tahun, Tepi Daun
Semilir angin citrus. Dedaun tanggal serupa angka yang bersalin rupa di lembar kalender. Hitam hiatus, merah menyela: warna menjalin siklus. Di tepi tahun kaulepas sukaduka. Begitu saja—tanpa ratap tanpa harap, serupa embun yang menetes dari tepi daun. Begitu sahaja—tanpa rencana tanpa upaya.
(Bello, 2015)

Abu Nabil Wibisana
The Edge of the Year, the Edge of the Leaf
Citrus breeze. Foliage falling like varying numbers in the calendar sheet. Hiatus black, interrupt red: cycle of color. At the edge of the year, you took off joy and sorrow. Just like that, without sobbed, without hoped—as if dew dripping at the edge of the leaf—so natural, without a plan, without tension.

Ishack Sonlay
Aku yang Memeluk
Khairunnisa dan buli-buli minyak di tangannya. Aku mengasihimu. Eva pun tidak mengguncangkan pohon untuk mencuri buah yang terlarang. Petang ini. Sembilan.
Kupang, 2 Januari 2015

Ishack Sonlay
Hugging me
khairunnisa and
the jar of
oil in
her hands.
i love you.
eve did not shake the tree
to steal the forbidden fruit.
this afternoon. nine.
Kupang, January 2, 2015

Alburhan Ash-shiddiq
Clarts,
Sampai juga kita di awal tahun yang mekar namun gemetar.
Harapanku padamu hanyalah minyak wangi yang mengalun di udara dari derita ke derita, dari bahagia ke bahagia.
Aku meraba raba asa yang tak terbaca. Menduga duga cintamu yang telah binasa. Mungkin di atas dunia yang kejam, mimpiku akan segera karam.
Padahal, Aku hanya inginkan cintamu agar hidup yang kubayangkan sewangi harapanku.

Alburhan Ash-shiddiq
Clarts,
soon we arrive at
the beginning of a bloom, but
trembling.
my hope for you
is just a fragrance
that floated in
the air from suffering
to suffering, from
unhappy to happy.
I fingered the unreadable feelings.
Suspecting that
your love has been destroyed.
Perhaps over the cruel of the world,
my dream will soon be sinking.
In fact, I just want
your love so this little life
as frangrance as my
hope.

Gustu Sinduputra
matahari.terbit.dalam.sajakku
tahun.cahaya.membuat.puisiku.tidak.lagi.gelap
aku.membuka.penutup.mataku
seekor.kambing.hitam
menyentuh.ibujari.kakiku
suaranya.sepekak.terompet.akhir.tahun.yang.basah
senantiasa:senyap.dan.tanpa.gema

Gustu Sinduputra
sunrise in my poem
fairy lights of the year has made
it no longer dark
i opened my blindfold
a scapegoat
touching the thumb of my feet
its voice like a trumpet
in the end of the wet days
always:
silent and
without echo

Rakhmad Hidayattulloh Permana
Parfum Tahun Baru
Tubuhmu penuh peluh masa lalu
Bau asam ketakutan, pada ketiak
Bau anyir darah, pada dadamu
Selusin harapan yang tak kunjung mekar
Kini menjelma sulur-sulur beracun
Maka sucikanlah tubuhmu
Dengan sebotol parfum dari surga
yang kau pungut bersama seruap doa
Kelak, harapanmu akan tumbuh
Menjelma matahari yang teduh
Percayalah
2015

Rakhmad Hidayattulloh Permana
New Year Parfume
your body sweat from the past
sour smell of fear, in the armpit
the stench of blood, on the chest
a dozen of hope that never blooms
now incarnated as poisonous tendrils
purify your body
with a bottle of perfume from heaven
which you collected together with prayers
later, your hope will grow
transformed the sun shade
believe me
or not

Ardy Priyantoko
PROSEDE
saat terjaga dalam naungan bulan
kudapati bunga malam berkabar
tentang perpanjangan musim
aku bergegas mengembara
ke tempat-tempat yang masih
menyimpan rahasia Tuhan
memungut, merangkainya
jadi doa-doa bagi perjalanan
yang akan terus berlepasan

Ardy Priyantoko
proceed
waking up in the shadow of the moon
i found the night flower telling me stories
on the extension of
the season
i rushed to wander
to secret places
picking, weaving
so that devotions of trip
which will keep
on ravel

Yanwi Mudrikah
Kata dan doa
Kuncup-kuncupmu telah mekar
Seperti mawar di musim semi
Semoga kabar dari langit segera beredar
Sekalipun agak sunyi
Purwokerto, 2015

Yanwi Mudrikah
Word and prayer
your buds have bloomed
like a rose in spring
hopefully the news of the sky
soon be dispersed
although
somewhat
stillness

Aditya Ardi N
Ekstase
malam ini kugotong sendiri mayatku, tanpa
pelukan-ciumanmu melewati labirin waktu
dengan maut yang tak kuasa menjilat kulitku yang tropica
mari kita bermetamorfosa menjadi apa
saja untuk bisa bersama, mengangkangi
waktu, dan sok-sok an ikut merayakan
tahun baru..

Aditya Ardi N
ecstasy
this evening i’ll carry
my own corpse, without
your hugs—kisses
through the labyrinth of time
with the death that could
not lick my tropical skin
let us morphed into anything
just to be together, straddling
time, and too early celebrating
the new beginning

Gusmel Riyadh
AKITRAS
Selain mimpi
Sajak adalah tempat penderu sendu beranak pinak
Biar kubuatkan kandang- kata perempuan di facebook
Tukangtukang sajak pun berkembang biak
Beserta harapanharapannya yang merisau almanak

Gusmel Riyadh
AKITRAS
besides dream,
a poem is a propaganda of sadness
i’ll make house—said a woman
on facebook
poetry artisan
popped out
with their hopes
dissipated along
the almanac

Mas Triadnyani
INGATLAH WANGI INI
Hidup menekan bahkan
kerap menggiring pada selokan
Pada saat demikian boleh engkau mengingat
beberapa wangi yang pernah singgah
Setetes kelopak mawar pada tengkuk
Besok putih melati pada lengan
Berganti kesegaran cendana
Pada tempat yang rawan
Berharap bertahan dan belokkan hidup yang terus-terusan gawat

Mas Triadnyani
Remember This Perfume
Life presses
even
often leads
to the gutter
at such times you may remember
fragrance that never stopped by
a drop of rose petals on the neck
tomorrow white jasmine on the arm
then turns to the freshness of sandalwood
in prone areas
hope to survive
and acute steered life

Lucia Dwi Elvira
Apakah harapan bisa dipegang serupa minyak wangi?
Apakah keinginan dapat dikecup seperti manis bibirmu?
Dalam hal-hal yang kukejar dalam pelarianku,
Dalam mimpi yang bukan bunga tidurku, yang selalu tabah kuimani.
Dan demi langit luasku yang sabar menunggu.
Maka saat-saat batu menyandungku, serta jatuh mengenai giliranku.
Minyak wangi dan manis bibirmu menjelma penawar yang membangkitkanku.
Adalah penawar yang membangkitkanku.

Lucia Dwi Elvira
if hope can be touched like a fragrance?
if desire can be kissed like your sweet lips?
in my escape, i chased things
in a dream that is not
my flower
i chased to believe.
for the sky who waits for me.
then when the stone tripped me down
and fell on the turn
the perfume and your sweet lips transformed to
a bidder who wakes me up
a bidder who wakes me up

Ade Riyan Purnama
Amonia
Harapan adalah angin yang terhempas
Seperti harum yang diterbangkan pada pemiliknya
Pada segala musim menjelang pesta kembang api
Yang menari-nari di langit
Bukankah udara tak dapat dipeluk serta
Seperti harapan yang dibentuk atas dasar kepercayaan
Sedangkan waktu menebarkan percikan ke segala arah
Tepat pada angin pergantian

Ade Riyan Purnama
ammonia
hope is the slammed wind
as fragrant flown on the owner
in every season ahead of
fireworks
dancing in the sky
do you believe that the wind can be embraced?
as expectations formed on the basis of trust
while time spread in all directions
right at
turnover
of the wind

Muhamad Rifqi
5 cm
Kumemandang jauh tertuju pada satu titik
Kudekati
Kudapati aroma mega 5 cm sejauh pandangan

Muhamad Rifqi
5 cm
I looked from a far
focusing on a single point
I approached
I find the scent
of a cloud
5 cm
as far
as the view

Yuliana Sari
SETELAH LUKA
seperti itulah, pertemuan adalah takdir
masih ada rindu
dan kenangan yang minta diulang
meski duri telah menyambangi beberapa ruas di jantungku
menjadikanmu puisi adalah pilihan, siap terluka juga gembira
lalu, adakah tawa yang bisa kita urai setelah kedukaan panjang?
di tubuhmu, aku menyimpan banyak harapan
sebab kaulah pemilik kerinduan
; kembalikan kita seperti waktu lalu, sebelum jarak merenggut segalamu

Yuliana Sari
after wound
so that is it
meeting is destiny(?)
and yet longing still remains
and yet we could ask
if we can reproduce the memories
thorn visited
several fractions
of my heart
to alter you to a poem is
a choice
ready to hurt
is also a happiness
is there laughter
after a long grief?
in your body, i’m loathing hopes
because you’re the owner of
ardor
to return us
before the distance
claimed

Didik Siswantono
Aku melangkah di awal Januari
di jalan sajak yang sunyi
menciumi bau wangi rambutmu
yang bukan untukku !
Didik Siswantono
i stepped in
early January
the lonely
road of rhyme had
kissed
fragrance hair
which is
not
for me

Alda Muhsi
WISUDA
Kau datang pada waktu yang tak kuingini
Setiap malam pada ruang mimpi
Adakah kau akan singgah
Membasuh wajah-wajah lelah
Yang penuh guratan asa
Lalu menjelma nyata
ah, wisuda

Alda Muhsi
GRADUATION
You came in time I
may not long
every night
in dreamy space
will you stop
to purify a weary face
full of strokes
up
then incarnate
the real
ah,
graduation

Trioki N
Gemulai tanganku menggamitnya
Membuka pelindung, menekan kepala, menyemburkan wewangian
Seketika H2 mengikat semerbak yang menyegarkan
Sungguh sebenar-benarnya niat, asa seperti wewangian itu

Trioki N
my graceful hands start to clutch
his
uncovers
presses
his
head
spraying fragrance
hydrogen
binding instantly the smell
hope is like fragrances
if you intended to

Miftahul Abrori
Bolehkah sesekali kubeli waktu luangmu?
Bolehkah sesekali kubeli waktu luangmu?
Atau aku perlu menukar spidol merahku dengan kalendermu?
“………………..”
“………………………………………………..”
Kau rembulan
Berhentilah menatap matahari
Pagi segera datang
Tak peduli malam masih menyisakan kenangan
Jalan Slamet Riyadi, Solo. 01 Januari 2015 01:28

Miftahul Abrori
can i buy your spare time?
can i buy you spare time?
or can i exchange my red markers
to your calendar?
‘………………..’
‘………………………………………….’
you’re the moon
stop staring at the sun
morning will stop by
soon
no matter the night
endures
the remembrance

Amoy AiRior
PERHATIAN!
Ada harapan yang kuletakkan di laci nakas meja kerjamu
Setahun lalu ia di sana, usang dan lapuk.
Kau tak bisa membukanya,
Sebab aku sengaja menelan kuncinya dan kekenyangan
Hingga tertidur abadi.
Dan harapan itu,
Kini sedang merangkak keluar
Melalui pori-pori serat mejamu lantas menelusup di botol minyak wangi
Yang rutin kau semprot
Awas! Tubuhmu kini akan bemandikan harapan

Amoy AiRior
CAUTION!
there is hope that I placed in your desk drawer
nightstand
a year ago it was still there
worn and weathered
you can not open it
because i accidentally swallowed the key
and feel like a balloon
to sleep forever with the air
that hope
crawled out now
through the pores of fiber in your table
then infiltrating in to perfume bottles
that you spray
watch out!
your body will now
be bathed by expectations

Anton Sulistyo
BUKU HARIAN
Di dalam buku harian penganggur
Harapan adalah daun-daun gugur
Dan wangi parfum kekasih
Hanyalah mimpi indah
Di luar jam tidur

Anton Sulistyo
DIARY
in a diary an unemployed
hope is the fallen leaves
and perfume of lover
just a beautiful dream
outside the hours of
sleep

Rani Fitriana Jambak
Aku kau menyekap kata
Mencumbu rajuk dalam jarak
Menyatu rayu dalam detak
Restu merindu harap rasa
Jikalau kita hilang menghilang
Aroma tubuh intim mengerang
Cinta seorang gadis dan bujang
Meraih tangan hingga sebrang
Lihatlah
Aku kau ; anggun

Rani Fitriana Jambak
i and you confined the words
fondle in within
converging cooed in the beat
hope is just a flavor
if we lost it, disappear
intimate scent of moans
the love of a girl and a flunky
reaching a hand
to the other side
take a Look
i and you;
nimble

Astina Purba
Harum minyak wangimu yang tak sengaja ku endus
Di sebuah ruangan pengap
Tak lama kemudian menguap, lenyap
Pun kita,
Didekap harap, meski tanpa cuap-cuap
Sembari samsara merayap-rayap
Oh, kita tak lagi bersayap
Padahal kita belum hinggap

Astina Purba
fragrant oil that was accidentally sniffed
by me
in a stuffy room
shortly thereafter evaporate, vanish
and we,
are hold by hope, even without talks
samsara while crawling
we have no more wings
though have we not
landed

Abdullah Mubaqi
ENIGMA
Ini Aneh. Orang-orang pulang
membawa penguk tubuh
dinding kamar lengket keringat
kau, apakah
masih percaya parfum?
2015

Abdullah Mubaqi
ENIGMA
it is strange
people return home
with smelly armpit
the wall with sticky sweat
you, do you even now
swallow in
perfume?
2015

Ang Jasman
MIMPI BUNGA
Mimpi-mimpi yang kau tulis itu
Lanjutkan meski matamu terjaga.
Tinggalkan kehangatan ranjang
Teruskan kisahmu di pelataran dan jalan-jalan.
Awas. Ada jejak menyimpan cerita
Tak hendak sudah sampai kerontang tintamu.
Simak bisik rahasia itu
Di bibir kelopak bermekaran.
Serahkan mimpimu di warna-warninya
Dan hanyutkan dirimu di wanginya yang tuba.
21015

Ang Jasman
Dreams of flower
The dreams that you write
Continue
even if your eyes awake
Leave the warmth of the bed
Forward your story
in the courts and the streets.
Watch Out. There were traces of a story
parched your ink. Unwilling.
Listen the whisper of a secret
Blooming petal on the lips.
Submit your dreams in the colors
And flush yourself in the fragrance
that tube.
2015

Niken Kinanti
kau intip masa depan dari sebuah kloset
apakah harum kitab kitabmu membuat kau lihai berceloteh mengenai kekosongan?
kau cumbui bbm fb twitter instagram linkedln friendster google+ blogspot wordpress yahoo picsart pinterest whatsapp line beetalk wechat dan semua medsos yang semakin mbelgedhes
kau melupa pada tetanggamu yang patah tangannya yang lapar perutnya yang hilang anaknya yang meninggal mertuanya yang encok punggungnya yang kudis kakinya
kau biarkan sajak sajak masuk ke telinga, mengganti apa saja dengan kalender tua
07.57.03.01.15

Niken Kinanti
you voyeur
the future from
a toilet
if fragrant book
that makes you chattering about
emptiness?
flattery
with fb twitter myspace linkedIn instagram google +
blogspot wordpress yahoo picsart pinterest
whatsapp line beetalk WeChat and all social media
mbelgedhes
You forgot the
reality of
the neighbor
who broke his hands
hungry stomach
missing his son
that scabies legs
you let the rhyme
replace anything
with the old calendar

Ang Jasman
MENUAI MUSIM
Di kedalaman keringat
Ditanam senyumnya juga
Bola mata bininya
Dan lagu dolanan anak-anaknya.
Pada cangkul sering dia berbisik,
“Kau telah beri kami musim pada bulir-bulirnya.”
Di hangat mentari tiap pagi
Matanya mengenali wangi padi bertumbuh
[Disaksikan ratusan burung pipit]
Menembangkan musim menuai.
2015

Ang Jasman
Reap the season
in the depths of sweat
he had planted a mile
of smile
his wife’s eyeball
and the song his child’s game
in a hoe he often whispered
‘you have given us the season in its grain’
in the warm sun each morning
his eyes grew
recognizing the fragrant rice
[witnessed by hundreds of sparrows]
to sing the harvest songs.

Watipu Ichijo
Purba
Terlalu purba
Jika wangi mesiu
masih di bajumu
Sejak semalam
Padahal masih banyak
Yang harus dijual
Kecuali kenangan
Air mata,
Bekas rumah
yang kini penuh ilalang
Meski terlampau purba
Keringat bercampur mesiu
Menjadi parfum terwangimu
3 januari 2015

Watipu Ichijo
ancient
too ancient
If the scent of the gunpowder
licked in your chlothes
overnight
though there are many
which must be sold
except memories
tears,
former home
full of weeds
too ancient
your sweat mixed with gunpowder
the most fragrant smell in the world
for you
3 January 2015

Andrian Eksa
NATAL NANTI
tetap saja kuharapkan
Santa Claus datang kembali
membaca suratku
tentang bapak yang hilang
dan kucari nisannya
Jogja, Januari 2015

Andrian Eksa
Next Christmas
still expecting
Santa Claus coming
reading my letter
about the missing
father
and I’m looking for
his
tombstone

Fajar Setio Utomo
SURAT ETALASE
Dalam ruang pribadi
Aku kirimkan doa-doa nakal, yang terdiri dari tiga inti.
Doa pertama bersyaratkan gairahku akan bumi berserta isinya.
Doa kedua terpusat pada wujud lain dari dosa yang aku cinta.
Sampai doa penutup, aku hanya memberikan sepucuk pengharapaan pada segala keburukan yang datangnya dari kau..
Ya, dalam kerinduan yang kalang kabut, doaku menjelma bayi dalam rentetan puisi.
April 2014

Fajar Setio Utomo
A letter of window shops
in a private room
I’ve written down some prayers which consist of three core.
The first is about passion,
for the earth.
The second is on another form of sin
I love sins.
and the last would be
the hope for gloom
merely from you
yeah in a frantic desire,
my prayers is a baby
incarnated in poems.

Gayatri Mantra
doa kugantung seperti awan yang melukis rupa surealistiknya
sembari kusibuk menjemur baju basah biar segera tiris
apakah udara segera kering ato lembab?
sambil mengerling bentuk kapas di langit
udara memberiku nafas

Gayatri Mantra
I hung my hope such a cloud
in a surrealistic painting
I’m busy too
Hanging the clothes I washed sometime ago
If the air is humid or dry?
while ogling the form of
cotton in the sky
the breath of mine
is the breath of the breath

Asni Furaida
Harapan itu omong kosong,
layaknya minyak wangi yang tertempel pada tubuh dan bajumu,
yang akan menyublim ke udara.
hilang tanpa ucapan sampai jumpa.

Asni Furaida
hope is nonsense
like perfume
from the body
and clothes
sublimate into the air
lost without saying good bye.

Sakinah Annisa Mariz
Api di langit-langit
Kembang di pucuk bulan sabit
Seekor kunang-kunang tersesat di telapak tangan Ibu
Jejak rindu yang kusut dan setangkai bunga ros
Tak pernah Ibu tahu akan diberi anak yang mana
Kata orang cinta itu merah jambu seperti malam tahun baru
Kata Ibuku cinta itu adalah harap yang dilumuri awalan ber-
Medan, Januari 2015

Sakinah Annisa Mariz
The fire in the ceiling
Fireworks at the top of the crescent
A firefly lost in the palm of my hand
Traces of tangled covetous and rose garden
Mothers who never know
Whoever becomes her child later
They say that love is pink like the color of New Year’s Eve
My mother said that love is
hope
Smeared by prefix -to

Deri Hudaya
Di Atas Batu, Tahun Baru
Pada parfum yang lekat sekejap. Mawar yang mekar sebentar. Pesta kembang api yang semarak. Sejenak. Kita diam. Angin dan waktu. Diam. Sementara ada keabadian. Sebelum langit jadi langsat ditelanjangi pagi, telentang di atas batu hampar itu. Aku selalu ingat. Ingatanlah yang berkhianat.

Deri Hudaya
above the stone, a new year
in the blink of tacky perfume.
roses that bloom briefly.
vibrant fireworks.
a moment.
we are silent.
wind and time. in a harmony.
while there is immortality.
before the sky got tanner
stripped off by a morning
stretched out
on the flagstones.
i always remember.
and that memory itself is
a traitor.

Sastro Taruno Satoto
KEPALA
Pagi-pagi juga kau buka jendela, jendala yang kau pasang dalam dada :namamu udara
Lalu katamu pada pagi pagi itu “tak mengapa kaki terluka, bahkan tongkatpun masih menyanga, tapi bila tubuh tanpa kepala, siapa tahu hendak kemana?”

Sastro Taruno Satoto
HEAD
early in the morning
you open the window,
a window
plugged in your chest: air is your name
then you say that, early morning
‘it is okay that your legs hurt
even a stick can sustain, but if
the body without head
where to go?’

Ocarina Coueffe
Tahun Baru
bila hutanmu melengkap semak, jalan keriangan, sunyi sampai ke mataku. di langit abu-abu yang kugambar, tidurlah di situ. di tempatku yang utuh menangkup dan mengekalkanmu.

Ocarina Coueffe
New Year
when your jungle
bush
the gaiety
my eyes
the gray sky
that I drew,
sleep on it.
cupped by my own ground
intact and
make you eternal

Fendy Arif Rimbayana
Sajak Awal Tahun
masihkah langit di sisiku?
jika di luar sudah tak berdebu dan pertengkaran orang orang sudah reda.
ceritakan tentang malam, kunang kunang yang benderang
lalu, gemerlap bintang bintang sebisa engkau bahasakan.
malam dan taman tak lagi dipenuhi gerai rambut perempuan tenggelam
harapan mengembang.
Surabaya, 2015

Fendy Arif Rimbayana
poem in the beginning of the year
the sky
is it still on my side?
if outside is not as dusty as
it used to be
and the quarrels have stopped
tell me about the night, the bright fireflights
then, sparkling star
as much as you translated
the night and the park
was again filled with
women’s sinking hair
inflating the trust

Wadie Maharief
Minyak wangimu
Membuatku mabuk
Karena palsu
Kebanyakan alkohol
Menusuk hidung
Kau buat aku pusing
Siiing…..

Wadie Maharief
Your perfume
makes me drunk
because it’s not original
to much alcohol
offensive
you make me dizzy
zy

Yanwi Mudrikah
Puzzle doa
Barangkali seperti minyak wangi
Ketika engkau menyentuh sebuah kebaikan
Doa-doa para manusia
Purwokerto, Januari 2015

Yanwi Mudrikah
puzzle of prayer
Perhaps like perfume
when you touch a kindness
the prayers of human

Novia Rika
kembang mekar tengah malam
luruh jadi abu
jadi debu,
doa mekar tengah malam
terbang ke langit ketujuh
pelita kalbu,
mekar jiwa ditempa doa
laku hati menyatu
dunia baru

Novia Rika
The flowers bloom
midnight
become ashes
dust,
prayers bloom
midnight
fly to the seventh floor of
heaven
fusing the behavior of heart
new world

Peni Apriani
ASA MATAHARI
Di pucuk pagi aroma matahari
Sebarkan asa serupa minyak wangi
Merebak di penjuru jiwa
Untuk kemudian melekat pada nurani
Hadirkan asa dalam nyata
nyata di pandangan mata

Peni Apriani
The feel of sun
At the top of morning, the smel of sun
Spread the feelings like perfume
Spread throughout life
then attached to the conscience
bring up the real
real in the eye

Rio SHi FiVerz s’Jti
CUKUP
Cukup menoleh ke belakang
Kemudian melangkah ke depan
Sesungguhnya itu lebih baik
Untukku mengapai segenggam asa
Padang, 2 Januari 2015

Rio SHi FiVerz s’Jti
ENOUGH
enough to look back
then stepped forward
surely it’s better
reaching a full hand of
feelings

Mif Baihaqi

Berharap Harum
Kemarin kuwu diharap-harap tapi dana desa ditilap.
Kemarin camat diharap-harap tapi gadis desa digarap.
Kemarin bupati diharap-harap tapi telah lengser ditangkap.
Kemarin gubernur diharap-harap tapi dua periode tak cakap.
Seperti Angel, ibu tak harap. Seperti Anas, politik tak harap. Seperti Atut, rakyat tak harap, Seperti Akil, hukum tak harap. Seperti harum, padahal tak tak tak. Tak!

Mif Baihaqi
The wish of sweet scented
in the past we hoped the best for kuwu, but he corrupt the village funds.
in the past we hoped the best for subdistrict heads but he raped a country girl.
in the past we hoped the best for the regent he has stepped and arrested.
in the past we hoped the best for the governor but two periods proved incompetent.
As Angel, mother’s despair. As Anas, no politics please. As Atut, desolation. As Akil, law of dejection. As fragrant, but not
do not do not do not. Not!

Gampang Prawoto

S E L I S I H

Kau
berjalan dengan detik
sedangkan yang lain menghitung menit
Wajar
kalau kita ada persepsi berbeda
Walau
sesungguhnya kita akan bertemu
pada jam yang sama

Jambon,13032014

Gampang Prawoto
DIFFERENCE

you
running in seconds
while others count
the minutes
fair
if we have different perceptions
although
in fact we will meet
at the same time

Melati Suryodarmo
Aku ingin menyelinap dibalik kulitmu.
Sambil berkedip mata mengintip cermin.
Bersolek dibawah lekuk tengkukmu.
Berbisik angin lembut bulu kudukmu
Sebab aku rindu
Dan lupa bau malu

Melati Suryodarmo
I want to sneak behind your skin.
With a twinkle in the eyes peeping the mirror.
Preening under the curve of your neck.
Gently breezing whisper on your skin
Because I miss you
And forget the smell
of shame

Linggar Rimbawati Puwrowardhoyo
Bagaimana Jika Aku Berharap untuk Mati?
belum terlambat untuk menulis harapan, bukan?
;mati
pergi
musnah
punah
hingga aku tak merasakan kesakitan lagi
2015

Linggar Rimbawati Puwrowardhoyo
What If I Hope to die?
not too late to write, right?
; dead
go away
destroyed
extinct
so I do not feel
the pain anymore

Mujahidin Belantara
PINTU MAKAM.
itu malam bising riuh kendaraan sepanjang jalan
mereka berduyun-duyun memenuhi kota
suasana desa mendadak hening ditinggalkan jejak-jejak gila.
tak apa
sedang aku di pintu makam
sengaja menziarahi makam malam ini sepi
menemani sambil mengaji dan bersila sendu memalingkan riuh.
(Pati 02/01/15)

Mujahidin Belantara
TOMB DOOR.
The noisy night
boisterous vehicles along the way
they flocked in the city
abandoned village.
no problem
I’m at the door of the tomb
deliberately
making pilgrimage
to the tomb of lonely night
accompany you with a cross-legged
wistfully turning
rowdy.

Dendi Madiya
BEKAS MUNTAHAN SEORANG TEMAN: besok adalah air
tidak, besok adalah air yang dibendung
bukan, besok adalah aliran dalam got perumahan
non-imaji
besok adalah isi perutku yang terbawa oleh kaki temanku yang sedang pulang ke rumahnya
isi perutku ikut menginap di rumah itu
aku tidak dibangunkan sampai pagi datang yang membuatku bingung bagaimana menyibak gorden jendela
tapi rumah itu seperti besok
rumah dengan jendela yang selalu tertutup
rumah yang mengenali waktu melalui gorden berwarna merah-ungu pudar.

Dendi Madiya
A Friend’s Vomit
tomorrow is water
no, tomorrow is dammed water
not, tomorrow is the flow in the gutter
non-image
tomorrow is my insides carried away by my friend’s leg
returned to his home
my stomach stays in the house
he was not knock on me
til morning
baffles me how to uncover the window curtains
but it’s like a tomorrow’s home
a home with the windows always closed
a home that recognize time
through a faded red-purple curtains

Maria Ansul
DI TANGAN DEMONSTRAN
Di tangan demonstran
harapan menjadi yel-yel sangar
Matahari membakar dendam
di luar pagar kekuasaan
Lapar dan jurang kemiskinan
seperti awan berarak ke mana-mana
Menjauhkan wangi surga
yang dikotbahkan para biarawan!

Maria Ansul
in the hands of a demonstrator
in the hands of a demonstrator
expectations become fierce yells
the sun burns revenge
outside the fence of power
hunger and poverty
like clouds everywhere
distanced the perfume of paradise
which is preached by the monks

Didik Siswantono
SUJUD TERAKHIR
Ia menghitung takdir
pada sujud terakhir,
lalu menitipkan doa-doa
ke usia yang semakin tua.
Sujud itu pun menghilang.
Tinggal gulungan harapan
dan wangi dari kejauhan.

Didik Siswantono
the last prostation
He calculates destiny
in the final prostration,
leaving prayers
to something called
older age.
the prostration is disappeared.
except the rolls of hope
and the fragrance
from
a distance.

Tria Achiria
Duh, tubuh musim hilang dalam sekedipan, tapi tahun baru selalu gagal menculikku dari sekap dekap harum kenangan.

Tria Achiria
ouch, body of season has disappeared
in a blink of eyes,
but the new year always
failed to kidnap me
of fragrant memories
captured in the folded arms

Dewandaru Ibrahim
Melihatmu bersolek seperti melihat sebuah taman
Aku merubah diriku menjadi sebotol parfum
Agar bunga bunga bertebaran bersamamu

Dewandaru Ibrahim
Seeing you
preening
like seeing a garden
i have changed myself into a bottle of perfume
to keep the flowers
strewn with you

Dewandaru Ibrahim
Sebotol parfum
Impian yang menjadi kenyataan seperti semerbak harum
Dimana harapan adalah isi dari sebotol parfum

Dewandaru Ibrahim
bottle of perfume
Dream comes true like a sweet fragrant
Where hope is the contents of
a bottle of perfume

Fanny Chotimah
Anakku..
Brigjen Slamet Riyadi sudah mati Riuh terompet dan kembang api takkan membangunkannya
Hidup ini milikmu
Jadilah merdeka!
Solo, 03.01.15

Fanny Chotimah
My Childs ..
Slamet Riyadi street had died
Boisterous trumpets and fireworks can not wake him up
Life is yours
Be free!

Joko Tri
HARAPAN
ah ada-ada saja…
penyelam menggenggam mutiara
menggumam naïf tanpa daya
ini negara pe harta!
petani menyabit ilalang
sorot matanya tajam nyalang
beras kupinta, kerikil kuterima!
Pedanda pun tersilau menangkis surya
hotel itu lebih tinggi dari pura!
harapan mereka menyublim diudara.

Joko Tri
HOPE
ah nonsense …
diver hold a pearl
muttered helplessly naive
this is state or treasure!
farmer mowing weeds
sharp eyes awake
I’m asking more for rice, but I received gravel!
Rauh deflect the solar
dazzled
The hotels are higher than the temple!
their hopes fly in the air

Estria Solihatun Nurjannah
Hujan rahmat gusar berebut turun | asap rasa keju, tahi rasa gula | yang ‘katanya’ kolam susu, boleh juga ! lazuardi kan menyusui pungguk kesemuanya. | tak ada legam tak ada rajam tak ada kejam tak ada suram. | apalagi? harapkanlah ! aku wanita bulan masih sedia untuk -lagi- menipumu. ha ha ha

Estria Solihatun Nurjannah
the rain of grace: furious and scramble down
smoke tastes like cheese, sugar tastes like shit
pool of milk, i like them! the sky will breastfeed the owl.
no praise no stone no cruelity no bleak.
another? hope!
i’m a woman of the moon who is loyal
to lie to you

Muhammad Iqbal
Waktu kian membusuk
berbisik pada tanah
menarik
memaksaku
berbaring didalam tanah.
(bale, 2015)

Muhammad Iqbal
Time increasingly rot
whispered to the ground
sucked me up
forced me down
lying in the soil.
(Bale, 2015)

Wardjito Soeharso
BUKAN FATAMORGANA
Waktuku adalah detik memutar menit mengubah jam menjadi hari menyusun minggu menuju bulan mencapai tahun memberi harap seperti mentari terbit setiap pagi tanpa menimbang terang atau hujan.
Waktuku bukan fatamorgana!

Wardjito Soeharso
Not a Mirage
My time is the sec turning into hour turning into day turning into week turning into month turning into year turning into
the sun rises every morning without
weighing light or rain.
My time is not a mirage!

Aris Rahman Yusuf
BIDADARI
senyum terlukis di wajah mimpi
mencahaya pada bibir langit
mekar pada tangkai mawar
rindu-rindu menggebu
bisu pada sunyi malam
dalam pekat terucap ulang tentang sebuah nama
tahun berganti menuju harap
aku kamu jadi kita
2015

Aris Rahman Yusuf
FAIRY
smile painted on the face of a dream
linghting on the lips of the sky
blooms on roses
missing is passionate
mute on silent night
in a black wall
spoken again about a name
the change towards hope
I you becomes us
2015

Cahyatunisa
bisakah bintang di langit sana kugenggam sedangkan kabut gelap terkadang menutupinya
senyum dari bulan dan lambaian angin malam memberikan sedikit harapan
mengajak bersujud
membuka tabir suci

Cahyatunisa
can I held the star in the sky
covered by the dark mist
the smile of the moon and the night wind
waving have given us a little hope
invited
prostration
unmasked
sacred

Ken Hanggara
Hari ini aku mengambil sebatang mimpi di atas meja | Kubeli dia sepulang menonton festival ganti masa | Dengan sisa-sisa uang yang tandas | Dan yang tak laku berkat kadaluarsa | Maka kupotong mimpi itu, lalu kutata sedemikian rupa di atas piring | Mengundang saudara, sahabat, kerabat, dan tetangga | “Adakah kalian lapar? Makanlah, makanlah,” kataku berharap kami menelan mimpi sama-sama | Hingga nanti saat berkeringat ada bau mimpi | Dan saat berak dan kencing pun ada bau mimpi | Biar kita tidak pikun, bahwa terlalu banyak waktu yang sudah tergadai atau setidaknya mimpi itu bersemayam dalam nadi. (3-1-2015 _ @kenzohang)

Ken Hanggara AKA Ken Zohang
Today I picked a dream up on the table
I bought it after watching the festival of new year’s eve
The remains of the demolished money
And some which are not sold due to expire date
So I cut the dream, then line it on a plate
Inviting relatives, friends, and neighbors
“are you hungry? Eat, eat it” I said hoping we swallow that dream together
later when there was a smell of a sweaty dream
peeing and pooping
the smell of dream
will spread over
Let us not senile,
too many times already pawned
or at least dream dwelling
in the pulse

Ugo Untoro
Kau selalu tidak sekarang
Senyumu hanya buat besok
Berjalan tak menyisakan jejak
Berhenti di tiap cabang jalan
Ragu mengepungmu
Lalu entah kemana hilangmu
2015

Ugo Untoro
You’re always not now
Your smile is only for tomorrow
Walking and leaving no traces
Stop at each crossroads
doubt surrounds you
Then lost in
Somewhere I don’t know
2015

Hadi Sastra
Harapan yang Tersisa
Pagi masih menyimpan surya
Aku mulai kembali menata
Secuil harapan yang masih tersisa
Setelah sebagian melayang sirna
Dihempas putaran masa
Aku harus memegang erat harapan ini
Jangan sampai melayang lagi
Sebab bisik batin begitu yakin
Kelak akan seharum minyak wangi
Membalur sekujur raga ini
Tangsel, 03012015

Hadi Sastra
The Remaining Hope
Morning still
saving solar
I began to reorganize
A piece of remaining hope
After partially floated and vanished
slammed by the future
I had to hold on tight
to this expectation
let it not drift again
For inner whispered
so sure
later will it as fragrant as the perfume
Caress the body

Riyadhus Shalihin
Aku tidak pernah ingat minyak yang lain selain minyak kayu putih. Setiap pagi ibu membaluri minyak kayu putih di punggungku. Ayah yang flu dan adik yang berangkat sekolah.
Pagi yang dingin di kota bandung dengan baluran minyak kayu putih. Perjalanan ke kota jogjakarta, terjepit di dalam udara pengap kereta ekonomi, dengan riuh rendah penjaja makanan dan cemilan murah. Perut yang mulai mual , maka rumah akan selalu menemniku. Karena minyak kayu putih kuhirup.
Klak .. Katupmu kubuka dan rumah selalu ada
di antara perut dan punggung yang terbalur

Riyadhus Salihin
I never remember any oil except of eucalyptus oil.
Every morning my mother smear them on my back.
Father who catched a cold and brother who went to school.
Cold morning in the city of Bandung with eucalyptus oil glaze.
Travelling to Jogjakarta, wedged in the stale air of economic train, with boisterous hawkers and cheap snacks. My stomach began to nausea, then the house will always be with me. Because of the smell from the oil i breathe.
Clack .. your valve is opened and the house is always there
between your rubbed stomach and spine

Yoga Rusdiana Kawasen
Apa yang bisa aku baca dari puisi hari ini?
Kata-katanya tumpul dan mati rasa,
Sungguh aku tak berselera!
Tapi lupakanlah
Karena aku harus berbohong untuk bisa memujanya
Yoga Rusdiana Kawasen
What can I read of poetry today?
The words were blunt and numbness,
Really I am not in the mood!
but forget that
Because I had to lie in order to
worship her

Saktya Rini Hastuti
Bisakah kau pegang, janji-janji kemarin yang keluar tanpa ayal?
Mimpi-mimpi akan sejahtera, kau jual semurah minyak wangi jalanan.
Pada buruh, pada petani, pada nelayan, bahkanpada ribuan ibu rumah tangga, kau berjanji murahnya kehidupan.
Tak kau lihat kini inflasi mencekik kami?
Roda-roda tetap berputar, tapi kami merugi dan perut anak kami tak terisi!
Tolong, jangan jadikan tanah air kami sebagai lahan investasi.
Agar kami, tidak mati di tanah sendiri.
Janjimu yang tanpa ayal, galilah kembali agar tak kau lupakan.
Jangan kau buang di pinggir jalan, yang kau lewati untuk bertemu para penghisap negeri.
Bukankah bumi dan air adalah untuk kemakmuran kami?

Saktya Rini Hastuti
Can you hold, promises of yesterday
out without a doubt?
Dreams will be prosperous,
you are selling as cheap perfume in the streets.
On workers, farmers, fishermen, even on thousands of housewives, you promise the cheapness of life.
Don’t you see the inflation now?
The wheels keep spinning, but we lose our children and unfilled stomach!
Please, do not make our homeland as a land of investment.
In order for us, not die on its own land.
your promise without a doubt, dig it back so you do not forget.
Don’t you throw that on the street,
passing the road to meet the foreign exploiters.
wasn’t the earth and water
are for our prosperity?

Galeh Pramudita Arianto
ALMANAK
ada yang lebih penting dari rupa-rupa angka dan peristiwa
adalah kita yang masih saja
mempersoalkan gerah
dan selalu saja cuaca, waktu dan suasana jadi tameng untuk berlindung bersama kaleidoskop yang serakah.
03, Januari 2015

Galeh Pramudita Arianto
ALMANAC
Nothing is more important than all manner of figures and events
it is that we are still
Questioning the sultry
and always
the weather,
the time and
the atmosphere
becomes a shield to shelter
along kaleidoscope
of greedy.

Galeh Pramudita Arianto
WISATA WAKTU
badanmu apek, oleh waktu yang sering kamu godain karena detik bisa kamu ubah lewat jam tanganmu.
otakmu beku, oleh kota yang sering kamu pukulin karena empuknya bukan main
lalu, kapan aku mampir ke labirin surgamu?
(Ruang retrospeksi-progresif, Januari 2015)

Galeh Pramudita Arianto
TOUR TIME
your body is musty,
by the time you seduce
because often you change
a sec be an
hour.
your brain freeze,
by the city that you
smacked
then, when can I pop into
the maze of your heaven?

Sastro Taruno Satoto
CINTA YANG MEMATIKAN
Pagi hari, Antono dan
pacarnya
Pisah di ujung jalan
setelah cekcok.
Antono jalan ke kanan
pacarnya ke kiri.
Tujuan antono adalah SD
tempatnya mengajar.
Setelah sampai di kelas
wajah Antono masih murung.
Siswanya salah jawab
disabet pake penggaris.
Sang siswa menangis
berlari pulang.
Sang ayah tiba membawa
parang.
Keesokanya, di surat
kabar bagian kriminalTertulis
“seorang guru tewas tersabet parang!”

Sastro Taruno Satoto
Deadly Love
Morning, Antono and
his girlfriend
Split at the end of the road
after a quarrel.
Antono is way to the right
his girlfriend to the left.
Antono’s goal is the elementary school
where he teach.
After arriving in the classroom
Antono’s face was glum.
on of the student answer his question
but false
He uses a ruler. And smeck her head
The student cries home.
The father come to the school bringing
a machete.
the next day, in the news written down:
“A teacher killed by a Machete!”

Watipu Ichijo
Almanak
Kau gantung ia
Setelah kau merahi
Semua angkanya

Watipu Ichijo
almanac
You hang it on
after you make it red
all the numbers

Adi Purnomo Wartam
Langit tidaklah biru
Kau tawarkan aku sepasang sayap
Yang melesatkanku ke langit biru
Hingga benar sampai di sana
Birulangitku hilang, entah
Dan yang paling buruk
Aku tak bisa pulang
Wangon, 03 Januari 2015

Adi Purnomo Wartam
The sky is not blue
You offer me a pair of wings
Which fly me to the blue sky
right up there
Lost my blue sky, either way
And the worst
I can not go home

Mochammad Asrori
Biduan
tahun ini kan kukejar biduan
tanpa perlu banyak alasan
cukup merdu suaranya klangenan
biar susah senang ia lantunkan
deretan lagu hangat peraduan
tahun ini benar, bukan tahun depan
karena ke depan, biar susah senang
bersama anakanak kami tuan puan
tanpa banyak alasan kan kusiapkan
orkestra kehidupan
2015

Mochammad Asrori
singer
This year I’ll chase a singer
without the need for a lot of reasons
melodious voice
of Klangenan
she sings it gladly
song’s row in a love
This year I’m sure, not next year
together with our children
without a lot of the reason
I prepared
a life orchestra

M Alif Marufy
Carilah, maka kau ditemukan
Kepastian adalah harapan yang dipalsukan
Terbunuh dua kali olehnya bukanlah kebetulan

M Alif Marufy
Seek and found
Certainty is the hope that forged
Killed twice by it
is not a coincidence

Dyah Setyawati
Harapan kuharap mewangi ;meski belum kesturi..kusiram doa dan usaha tiap hari.pada teriknya dan temaram malam .energi yang tak pernah pupus; meresap hingga pori pori asam ketiak untuk tetap semangat memburu warna biru

Dyah Setyawati
The scent of hope is the scent of scent
:although not a flower scent
I pour it over
prayer and effort each days.
On the heat and energy
dim night
that never die;
seep up pores the armpit
acid to keep
the spirit
hunt blue

Aris Rahman Yusuf
SECARIK HARAP
bunga api…
lepas
meletus satu-satu
di langit bebas
munajat terlafadz
merupa wangi kembang
merekah cinta, bahagia
2015

Aris Rahman Yusuf
A piece of please
sparks …
loose
erupted
one-on-one
The free sky
supplications
be the fragrant flowers
broke in love,
happily



https://indonesianliterarycollective.wordpress.com/2015/01/09/indonesian-poetry-battle-on-facebook-6-winners/

Kamis, 27 November 2014

Kawi - Jarwa

Kawi - Jarwa, Dirjasupraba, 1931, #1263

Katalog:Kawi - Jarwa, Dirjasupraba, 1931, #1263
Sambung:-
--- [0] ---
Bausastra: Kawi-Jarwa
Dening Radèn Dirjasupraba
Cap-capan sapisan
Isinipun: 1. Bausastra (Ha - Nga), 2. Pratelan namining kewan-kewan, 3. Namaning peranganing badan, pangangge sarta rêrêngganing badan, 4. Namaning têtuwuhan, sêsêkaran, sarta woh-wohan.
Bukhandêl S.M. Diwarna, Kuthagêdhe saha Mataram
No. 21-B, Rêgi F ...
--- [0] ---
[Iklan]
--- 1 ---
Bausastra Kawi-Jarwa sarta Pathibasa Kawi-Jarwa
Isinipun ± 3000 têmbung, anggitanipun Radèn Dirjasupraba. Cap-capan sapisan, 1931 Musnèng batang angèsthi wiji[1]
Isinipun: 1. Bausastra (Ha - Nga), 2. Pratelan namaning kewan-kewan, 3. Namaning peranganing badan, pangangge sarta rêrêngganing badan, 4. Namaning têtuwuhan, sêsêkaran, sarta woh-wohan. Kawêdalakên dening:
[Grafik]
--- 2 ---
...
--- 3 ---
Bausastra Kawi - Jawi

Ha
a = hora, tanpa.
aom = hom, nênêkung, tapa, pahomman, patapan, pamujan.
anala = gêni, ati.
analana = dolanan, dolan, dolan-dolan.
analika = nalika: niti priksa, maspadakake.
ananta = tanpa watês, tanpa wêkasan, ula gêdhe bangêt.
anitya = langgêng.
anila = angin.
anih = lumuh, suthik.
anindha = linuwih, ngluwihi.
anung = nung: kuwasa, pintêr, linuwih, anak anung: anak kang pintêr bangêt, paranung-anung: para pintêr, para linuwih.
anwam = anom.
anya = ana.
--- 4 ---
anyang = boyongan.
acala = cala: gunung.
anauti = anauti: cacing.
ari = dina, adhi, arinta, rinta: adhimu.
arina = kidang.
ariyak = alun.
aris = alon, sarèh.
arimong = rimong: macan.
are = bodho.
arok = awor, têmpuh, angrok, ngrok: nêmpuh.
aru-ara = horêk, gègèr, sasaran.
arus = pantês, ili, arusan: banyakan, tan arus: ora pantês.
arum = wangi, lêgi, wadon.
arêgud = nyêbrak, nyêndhal.
akasa = kasa: langit, awang-awang.
aking = garing.
adiraja = sabar, sugih pangapura.
--- 5 ---
aditya = srêngenge.
ata = sigêg.
atanapi = tanapi: utawa, sarta, apadene.
atakara = teja.
atap = tumpuk, sungsun, undhung.
atag = akon, prentah.
atis = adhêm, matis: krasa adhêm, kadhêmên.
atri = tri: rame, têlu.
atruh = truh: udan, trutruh: udan ricik.
asa = pawadonan, kuwat, rosa.
asada = ilat.
asung = sung: awèh, wèwèh.
asrêt = alot.
asrama = tapa. pasraman: patapan. ngasrama: lagi tapa, manggon ing patapan.
awanda = pêtêng.
awinda = padhang.
--- 6 ---
awiyat = awang-awang. ngawiyat: ing awang-awang.
awig = bêcik, bisa.
awran =[2] mêndhung.
awun-awun = ampak-ampak.
alaya = jahe.
alwang = kalong.
aliwawar = prahara.
apan = pan: awit, tur, sanajan.
apituwi = utawa.
apus = tali, pring apus: pring tali, apus buntut: tali buntut.
adhing = jodhang.
ajar = pandhita, nujum.
aji = ratu.
aywa = ywa: aja.
ayu = bêcik, slamêt.
ayun = arêp, kêpengin. pangayunan: ngarêpan.
anyut = kèli, larut.
--- 7 ---
ama = pasu, wari.
amah = murka, alu amah: kamurkan.
amla = mla: kêcut.
amit = pamit.
amrik = wangi.
amêm = antêng, mênêng.
amrêta = tômba, banyu urip.
agra = gra: pucak, pucaking gunung.
agya = gya: enggal, kasusu, banjur.
agung = gung: gêdhe.
agêr-agêr = ganggêng.
abi = luwih, baris, abirawa, birawa: muruh, luwih rowa, abi sêtiya têmên bangêt, abi mana linuwihing ati, abi sama, bisama wicaksana.
abra = bra: warata, gumêbyar, ambranang.
anging = nanging, mung.
anguwuh = surak, ambêngok.
angrês = wêdi, miris, giris.
--- 8 ---
andaka = banthèng.
andaga = mancal, ambalela, anjêjak.
andini = sapi.
andimapa = mokal, nglêngkara, kaandimapan kamokalan.
andon = nêba.
andupara = dupara: mokal, nglêngkara, bobat.
andulu = andêlêng, nonton.
andul = sungsun.
andrawina = sênêng-sênêng ngombe.
anta = wêkasan, luwih.
antah = êmbuh.
antanu = mangsi.
antarala = awang-awang.
antar = lantas, bantas.
anti = manganti, nganti, ngêntèni.
antuk = olèh.
antêlu = êndhog.
--- 9 ---
antya = luwih. kaantiyan: kaluwihan.
andhah = asor, andhahan: sorsoran.
andhali = tiba, mantiyung, tumêlung.
andhêm = rungkêp, kandhêm: krungkêb, ngandhêmi: nyungkêmi, ngrungkêbi. andhêman: rungkêban dhadhane kidang jaran utawa liyane.
anthok = tlakup.
arcamana = raup.
arka = hyang arka: srêngenge.
arkamaya = teja, banyu mandi.
arda = murka, luwih, bangêt. rôga-tiharda: lara bangêt. ardawalepa: ambalèkake ujar.
ardana = rêdana: dhuwit.
ardawalika = ula.
ardi = gunung.
arta = dhuwit. hartana: ênggon dhuwit, tukang nampa dhuwit.
artati = lêgi, luwih.
artala = madu.
--- 10 ---
arti = sumurup, têgês.
arsa = arêp, bungah.
arsaja = anak pambarêp.
arsaya = bungah. kaharsayan: kabungahan.
arpat = klumpuk. marpat: nglumpukake.
arja = rêja, têntrêm, slamêt. raharja: slamêt. karaharjan: kaslamêtan.
arjana = kaslamêtan, bêcik.
arjuna = jêmbangan, banyu jêmbangan.
aryana = budi.
aryas = watu, intên.
arga = gunung.
argya = kurmat. pahargyan: pakurmatan.
aksara = gêgaman.
aksama = apura. pangaksama: pangapura.
atma = atmaja, anak.
atmaka = mati, nyawa.
ascarya = eram, gumun.
--- 11 ---
astana = kuburan, kraton.
astati = rayap.
astani = bantal.
astawa = sêmbah, bêkti. umastawa, ngastawa: ngabêkti. pangastawa: pangabêkti.
astama = sênêng-sênêng.
astra = gêgaman, astrawara: panah.
asti = gajah.
astuti = astutiya, sêmbah, bêkti. pangastuti: pangabêkti.
asmana = pikat.
asmara = sêdhih, sêngsêm. kasmaran: kasêngsêm, asmaradana: nêngsêmi. asmaranala: sêngsêming ati. asmaralaya: suwarga. asmaragama: sêngsêming sanggama.
astha = wolu, bahu.
asthaga = wolu, angus.
asthi = sêdiya, gajah, hastina: ênggon gajah.
alpa = kurang, tuna.
--- 12 ---
apsara = dewa.
apsari = widadari.
hyang = dewa, hyang brahma, hyang siwah, hyang hiswara, hyang sri lan liya-liyane.
ancala = cala: gunung.
ancur = ajur.
anculan = kala.
ancêm = pola.
anjana = gajah.
anjrah = warata, sumêbar.
anjrêm = anjêrum.
ampang = ènthèng.
ampeyan = pinggir, sikil. garwa ampeyan: garwa paminggir.
amba = kula.
ambahak = ngrayah, anjarah rayah.
ambawang = pakèl.
ambar = ngambar: wangi, sumêbar, sumrambah.
--- 13 ---
ambartala = ara-ara.
agna = kaku.
agni = hyang agni: gêni.
angkya = aku.
angkara = gumêbyar, luwih, murka. angkaramurka: murka, luwih murka. mangkara-kara: gêbyar-gêbyar.
angkus = êcis.
angkên = upama, pindha.
angsa = ôngsa: banyak.
angsaka = mungsuh, satru.
angga = awak, wujud, upama.
anggana = ijèn, ayu.
anggara = dina Salasa.
anggas = walang, gadhing, ibêr-ibêran.
anggarjita = anggagas, ngangên-angên, ngeling-eling.
anggarbini = mêtêng, ngandhêg.
anggop = towong, kêndhat.
--- 14 ---
anggung = tansah.
anggi = bumbu.
ina = cacad, kuciwa, nistha.
ira = intên.
irawati = angin gêdhe, gêtêr-patêr irawati: prahara.
irah = jêroan.
ikanang = kang.
iku = buntut.
iti = êntèk, rampung, wêkasan.
itina = sigêg, lèrên.[3]
ituwa = luwing.
itêm = irêng.
ile = anèh, kumaki.
iluta = arih-arih. miluta: ngarih-arih.
iswara = ratu.
inyang = biyung.
ima = imawan: mega.
--- 15 ---
indriya = ati, rasa, pôncaindriya: rasa lima.
indupati = rêmbulan.
inte = injên. nginte: nginjên. juru panginte; mata-mata, têlik.
ir = intên.
istadha = bathuk.
imbal = gênti, nyêlani.
ingsun = aku.
ingwang = aku.
inggut = lirik. nginggut: nglirik.
inggong = ngong: aku.
èni = pèni.
ènu = rêmbulan.
erang = isin, wirang. ngerang-erang: ngisin-isin, mirang-mirangake, gawe wirang.
èrêm = cêplok.
eka = siji, ijèn.
etu = mula, hetun: hetuniyo, hetuni: mulane, sêbab saka iku.
--- 16 ---
ewrên = horêg, gègèr.
epya = repot. kaepyan, karepotan.
èmêng = pêtêng, susah, sêdhih.
endra = ratu, linuwih, endraloka: jagat linuwih, kayangan, kadewan, suralaya, endrapada, endrabawana.
endung = mega.
endhan = gila.
endhe = tamèng.
hèr = har: banyu. hèrnawa: sagara. hèrtati: udan.
èksa = waspada.
èstha = upama, karêp, sêdhiya.
èsthi = karêp, sêdhiya, gajah.
onêng = kangên, mangonêng: kangên, sêdhih.
ota = piranti, pasangan, adon-adon.
otêr = gègèr, horêg.
ojat = suwur. kojat: kasuwur.
opya = alok.
--- 17 ---
ôndakara = srêngenge.
ôntakara = srêngenge.
ôntarapura = kraton.
or = ahor, gêtar.
oncom = tempe bosok.
oncong = colok.
ompak = ganjêl.
una = linuwih. wisa una, wisuna: wisa linuwih, wisa mandi.
uni = nguni: biyèn.
uninga = wêruh, gêni.
unu = kècèr, kicir.
unar = suwur.
ucup = lêpas. ingucup: dilêpasake.
uradati = anggêgirisi.
ure = udhar, ucul.
uruh = unthuk. muruh: kaya unthuk.
urus = tata, bênêr.
--- 18 ---
ukip = ulap. ukipên: sulap.
ukup = sabuk.
uda = banyu.
udara = dara. dhara: wêtêng.
udaka = banyu.
udakara = kira-kira.
udanagara = tata-krama.
udaya = sagara.
udyana = taman.
udrasa = tangis.
udani = wêruh. atur udani: awèh wêruh. ngudanèni: mêruhi, nyumurupi.
uta = lintah.
utara = lor. ngutara: ngalor, ing lor.
utari = mangkono, mangkana.
utawaka = gêni.
utamangga = êndhas.
--- 19 ---
utêr = bundêr.
usara = êbun.
usada = usadi: jamu, tômba.
uswa = ambung. nguswa: ngambung. kinuswa-kuswa: diambungi.
uswasa = swasa: ambêkan.
uwun = wurung.
ulinga = nêpsu bangêt.
ulu = êndhas. swara, ulon: swara, uni, têkèk mati ing ulone: paribasan: mati saka swarane (gunême) dhewe.
ulun = kula, kawula.
upa = êlas. saupa: saêlas.
ujana = udiyono: taman.
ujwala = sorot, gêbyar, cahya. ngujwala: sumorot.
uji = dadar, lèlèr.
ujung = pucuk, pinggir, pongol. ujungan: pucukan.
ujêl = wêlut.
unya = uniya: uni, munya. munia: muni.
--- 20 ---
umarah = ngangkah, golèk.
umi = wiji, biyung.
umiyat = miyat: andêlêng, nonton.
umyar = angon, ngawat-awati.
umyus = midit, sumilir.
umyung = rame.
ubaya = jangji. cidra ing ubaya: cidra ing jangji.
uthuh = lalêr. nguthuh: kaya lalêr.
untar = wudun.
untung = bêgja.
undhagi = pintêr, wasis.
undhan = pancikan, pancadan.
udsaha = usaha: panguripan, upajiwa: ngudsaha: anggaota, nyambut gawe.
usnipah = tutup gêlungan.
ungkih = angkah. ngungkih: ngangkah, marsudi.
ênu = dalan. ing ênu: ing dalan.
--- 21 ---
êla = eman, puji. ela-ela: eman-eman. ingela-ela: didama-dama, dieman-eman, diugung.
êntar = begal. ngêntar: ambegal. kaêntar: kabegal.
êntyar = êntèk.
ênting = êntèk, katog. ngênting: ngêntèk, ngêtok. êntingan: êntèk-êntèkan, pungkasan.
êrdawa = mangsi.
ênjali = sêmbah, bêkti. ngênjali (mangênjali): nyêmbah, ngabêkti.
Na
nahên = nandhang, mangkene, ngampêt, nahan. nahênkung: nandhang susah. nahênwaspa: nahan êluh.
nauti = anauti: cacing.
naraca = traju.
nara = wong lanang.
nari = wong wadon.
naraiswara = naradipa, naradipati, naradipatiya, narapati: ratu.
--- 22 ---
narawôngsa = turuning ratu, trahing ratu.
narawung = ambarêng. narawungi: ambarêngi.
narèswari = ratu putri.
narendra = ratu.
naki = iki.
nakoda = nangkoda: sudagar alaku prau.
nadi = kali, bêngawan, sagara.
nadukara = manadukara: anjurungi.
nadya = bêbayu.
nata = ratu.
natin = nglirik.
natar = latar.
nasa = dewa.
nasika = irung.
nasun-ya = nasunya: suwung.
nawa = padhang, sanga.
nawala = layang.
--- 23 ---
nawung = nganggit. sinawung: dianggit.
nala = ati, gêni.
nalika = niti priksa, maspadakake.
napang = nabok.
naya = nayana: ulat, polatan.
nayaka = pangarêp, panggêdhe, têtunggul. nayakaningrat: kangjêng nabi Muhammad. nayaka waktra: patih.
nayadi = sumèh.
nayogyani = ngrujuki, anjurungi.
naga = ula. nagapati, nagaji, nagaraja, nagendra: ratuning ula.
nabi = wudêl.
nanda = êlèng.
nandi = bayu.
nanta = watês, wêkasan. ananta: tanpa watês, tanpa wêkasan.
narpa = ratu. narpa dayita, narpa duita, narpa umi, narpa wadu: ratu putri.
narpati = ratu.
--- 24 ---
narmada = kali.
natpada = nonton, ngabêkti.
natmata = nonton, maspadakake, namatake.
nasthaka = lingir.
nambak = ambêndung.
nampeka = nêlik.
nambrama = ambagèkake. panambrama: pambage.
nambula = nginang.
nangkil = seba, ngadhêp.
nanggulang = ngêndhak, nyêgah, ambalèkake.
nrang = nêrang. manrang: nrajang, nêmpuh.
nihan = niyan: mangkene, mangkono, mangkana.
nikanang = kang.
nikèn = wong wadon.
niditya = linuwih.
nitra = nulis, mata.
nitya = nitiya: ulat.
--- 25 ---
nityasa = netiyasa, sanetiyasa: tansah.
nitêh = ulêr.
nisaka = rêmbulan.
niwata = newata: panganggo.
nila = angin, biru, manik. nila warsa: udan angin. nila pracandha: angin pangabaran.
nilakrama = takon.
nilap = nyilip, andhêlik, nyidra.
nilip = nyilip, andhêlik, nyidra.
nipuna = nimpuna: nglumpuk, mumpuni.
nidhikara = muji.
niyata = yêkti, nyata.
niyasa = langgêng.
ningêp = nyaput.
nindya = linuwih. nindya mantri: mantri linuwih, patih.
nindi = midih.
nindita = pintêr, linuwih. anak anung aninditi:[4] anak kang pinter bangêt.
--- 26 ---
ninta = andhêmêni.
nindha = narub, mayu.
nir = ilang, êntèk, tanpa. nirdeya: tanpa gawe. nirhantara, nirantara: tan pêgat, ora kêndhat, ora lêt, tansah. nirrasa, nirasa: tanpa rasa.
nirlaba = tuna.
nis = ilang, tanpa, ora ana.
niscaya = masthi, tan kêna ora.
niskara = saniskara: samubarang, barang-barang.
neka = warna. neka-neka, neka warna, maneka warna: warna-warna, rupa-rupa.
netra = mata.
netyasa = sanetyasa: tansah.
nendra = turu.
nono = mangkono, mangkana.
nor = ngasor.
non = dêlêng. panon: pandêlêng.
nuning = andêlêng, nonton.
nuraga = digdaya, pêngpêngan. kanuragan: kadigdayan.
--- 27 ---
nukarta = nyruwe, ngaru biru, nyikara.
nuding = ngutus.
nusa = nuswa: pulo.
nuswapada = donya, jagad.
nugraha = bêgja, ganjar. kanugrahan: kabêgjan. sinugraha: diganjar.
nung = pintêr, linuwih.
nênêr = tètès.
nêrês = nugêl.
nêlahi = madhangi.
nêbah = tlapukan, kêlud.
nêmbah = nyêmbah.
nênggih = inggih.
Ca
cacata = gludhug.
cacak = coba, jajal.
--- 28 ---
carana = athi-athi, urang-uranging mata.
caraka = utusan.
carat = pancuran, mancur.
cakil = canthèlan.
cakra = bundêr, buwêng. cakrawati: jagad bundêr, buwênging jagad. cakrawala: bundêring langit.
cakarwa = mliwis putih.
catur = papat, araning dolanan.
cawaca = cuwaca: padhang bangêt.
cala = nistha, gunung, anjarag, calaina: cacad nistha, picak.
calimi = cukup. mantu calimèn: mantu sacukupe.
capa = gandhewa.
caga = bêburon.
canga = lombok.
canguk = têlik, mata-mata.
candu = lalar, pathi.
candhala = ala.
--- 29 ---
canthoka = kodhok.
canthang = kêprak.
car = mlaku. carraka, caraka: wong kang gawene mlaku, kongkonan.
carya = ascarya: gumun, eram.
carma = kulit, walulang.
carmin = pangilon.
caksu = caksuh: suluhan, urêng-urênging mata.
cancala = obah, polah.
campah = pênggak.
cambul = cêmêthi.
cangkrama = dolan-dolan, amêng-amêng.
ci = kali.
citra = warna, rupa, tulis, juru panitra: juru tulis, juru nulis. cinitra: tinulis.
cintya = bêcik, ayu. acintiya: panggêdhe.
cintaka = manuk cêkaklak.
cintra = cacad. cintraka: cilaka, sangsara.
--- 30 ---
cinthaka = bilai.
ceda = cacad. cineda: dicacad.
coli = culi: towok, kudhi.
côndra = rupa, sasi, rêmbulan. yuswa wolung côndra: umur wolung sasi. candra sangkala: taun rêmbulan, taun kang manut lakune rêmbulan.
cuni = ilang, panunggul (ali-ali suwêng).
cucuh = cocoh, suduk.
cucur = manuk kêdhasih.
curiga = kêris.
cumanthaka = kumlungkung, kumaki.
cundaka = têlik. cumandaka: nêlik.
cumbu = bali.
cêla = cacad.
cêdhis = lêthêk, andharidhis.
cêguk = busuk.
cêndhani = cêndhana.
cêmbing = jenggot.
--- 31 ---
crêmih = juwèh.
cêthèthèt = kêcipir.
Ra
rana = pêrang, paprangan. trining rana: gêni paprangan. kasambut madiyaning rana: mati pêrang, mati ing paprangan.
ranu = banyu. singa ranu: baya.
rara = prawan.
raras = runtut, bêcik, asri, laras.
raditya = srêngenge.
rata = kreta, tunggangan. rata gothaka: kreta gêrbong, kreta pêtêng, kreta tutupan.
rati = ratih: rêmbulan.
ratri = latri: bêngi.
ratuh = hratuh: lumut.
rasa = nênêm, kaya, upama.
rasika = bungah, suci, bêning.
--- 32 ---
rasêksa = buta lanang.
rasêksi = buta wadon.
rawi = srêngenge.
rawan = mêndhung.
rawanda = rondha.
rapa = lapa: luwe.
rapuh = lara, susah, lêsu.
rajatadi = raja brana, barang mas intên.
rajah = ciri, tulis.
raya = gêdhe. riyaya, riaya: dina gêdhe.
rayung = glagah.
ramaja = bajing.
ramya = rame.
ramon = sarah, kambang, bantên.
raga = awak, wadhah.
ragi = bumbu. paragiyan, pragèn: ênggon bumbu, wadhah bumbu, bumbon.
--- 33 ---
rago = êlèng, guwa.
rabasa = rusak. nrabasa: ngrusak. rinabasa: dirusak.
rangas = giras, galak.
rangin = laras, dhadhap.
rangu = gajêg. rangu-rangu, kapirangu: gajêg-gajêg, gojag-gajêg.
rahsa = wadi, rasa.
rantan = tata, rancang.
randhi = mênjangan, ranggah.
randhêh = randhu.
raksasa = buta, buta lanang.
raksasi = buta wadon.
rat = jagad.
rancang = ukir. trancangan: ukiran.
ranji = kranjang.
ranju = borang.
rambi = èmpèr.
ranggon = gubug.
--- 34 ---
ri = dina, adhi. rinta: adhimu.
rini = wadon. siswa rini: murid wadon.
ririh = alon, sarèh.
riris = udan.
risakan = kiring.
risaksana = nuli, tumuli.
riwe = kringêt.
rimong = macan.
riba = ruba: pawèwèh, bêsêl, kamelikan.
ringa = duga. ringa-ringa: duga-duga, kira-kira.
ringan = maringan: ènthèng.
rimbit = jodho. sarimbit, srimbit: sajodho, sakaloron, sakalian.
rimbon = simpênan. parimbon, primbon: simpênan, pasimpênan, buku simpênan.
rimbu = simpênan. parimbon, primbon: buku simpênan.
ringgahan = kandhang.
rena = biyung.
--- 35 ---
rewônda = kêthèk.
regoh = lumpuh.
rota = galak. rotadanawa: buta galak.
rowangga = bawera.
roga = lara. roga tiharda: lara bangêt.
robaya = pantês, mêngko.
rontaka = bêndhe.
rondhon = godhong.
rok = têmpuh, trajang. angrok: nêmpuh, nrajang.
rompak = begal, begal sagara, bajag.
ruhun = rumuhun: biyèn, dhisik.
ruci = bajang. Dewa Ruci: dewa bajang.
rurah = lêbur, rusak, angkah. ngrurah: ngrusak, nglêbur. rumarah: golèk, ngangkah. pangrurah: pangrusak.
rudah = rusak. rudhatin, rêdatin: rusak atine, susah.
rudita = prihatin.
rutan = pênjalin.
--- 36 ---
ruwastha = ugêl-ugêl.
ruwida = susah.
ruwiya = warata.
rujit = anggit, suwèk, suwir. rinujit: dianggit, disuwèk. pusparujit: gubahan. rinujit-rujit: disuwèk-suwèk.
rubaya = jangji.
rubiyah = bojo.
rungas = pêrung.
runtik = muring, nêpsu, bêndu.
rukti = rakit, pasang, rumat.
rukmi = êmas.
rumpaka = gubah, anggit.
rumpuk = sungsun.
rumbah = jangan. rumbahan: janganan. ngrumbah: anjangan.
rumbu = sêgêr.
rêrêng = rêngrêng: asri, ngêngrêng, anggamêng.
rêkatha = yuyu.
--- 37 ---
rêke = mangke.
rêdatin = rudatin, rudahtin: susah.
rêtu = rusuh, gègèr, horêk, suksukan.
rêtuh = buthêk, bukêt.
rêsi = pandhita, rêsindra: pandhita ratu.
rêsigana = dewa.
rwawa = luntas.
rêjasa = arjasa: asri, bêcik.
rêgêm = gêgêm. ngrêgêm: anggêgêm, rinêgêm-rinêgêm: digêgêm.
rêngya = rungu, prungu. karêngiya: krungu, kaprungu.
rêngut = jêngkêrut, mrêngut: anjêngkêrut.
rêkta = abang. palarêkta: bolu.
rêtna = intên. manik nawarêtna: barang intên warna sanga. rêtna wadu: bêcik-bêcike wong wadon.
rêspati = pidêksa, pantês.
rêsmi = asri, rêsêp, sêngsêm. sarêsmi: padha sêngsême, padha rêsêpe, cumbana.
--- 38 ---
rêncana = godha.
rêncaka = ribêd, susah.
rêncêm = rêmuk, pêcah.
rêmbaka = rêmbuyung, kêtêl. ngrêmbaka: ngrêmbuyung.
rêbda = ngrêpda. ngrêda: andadi, sumêbar, warata.
rêngrêng = asri, ngêngrêng, anggamêng.
rêngka = bênthèt, nêla. mulwa rêngka: srikaya.
rênggut = sebrak, sêndhal, jambak. ngrênggut: anjambak, nyêndhal, nyêbrak. rênggut-rumênggut: jambak-jambakan.
rênggêp = candhak, cêkêl. ngrênggêp: nyêkêl, nyandhak.
Ka
kahastaman = kabungahan.
kahargya = kajèn.
kaharsayan = kabungahan.
kahomitan = susah, kasusahan.
kahopan = kopèn.
--- 39 ---
kahosmurda = kêthu.
kahol = crita.
kahêntar = kabegal.
kanaka = êmas.
kanan = têngên.
kanin = tatu.
kanang = kang.
kacundhuk = kapêthuk, kapranggul.
kacung = le, thole, bocah lanang.
kacêmba = kacêmbang: kêcut.
karana = jalaran, sabab, awit, amarga.
karaca = kijing.
kariti = sêmut.
karuna = nangis.
karas = kothak, papan.
karêngya = krungu, kaprungu.
karêndar = krêndar: sungsum.
--- 40 ---
karêndhi = mênjangan, mênjangan tutul.
karangulu = bantal.
karês = balur.
kaka = kakang, gagak.
kaki = sikil, anggèr.
kakiki = nyata.
kakôndha = gandera, lêlayu.
kada = kunthing.
kadalurung = kêbanjur.
kadya = kaya.
kata = têmbung, crita.
katiga = gêni.[5]
katiwang-tiwang = katula-tula, kalunta-lunta.
kater = tambir.
katêka = têkan.
katang = kêkatang. katang-katang: sukêt.
katong = ratu.
--- 41 ---
katrêsan = giris, miris.
kasatika = tutut.
kasida = lêstari.
kasusra = kasuwur, misuwur.
kasung = katur.
kasub = misuwur, kasuwur.
kaswada = kalong.
kaswasih = mêmêlas, mêlas asih.
kaswas = kasyas: katur.
kawaca = panganggo, kaprabon.
kawawa = kuwat, kuwagang, kangkat.
kawanda = kawandha: gêmbung.
kawindra = kawiradiya: pujôngga.
kawilut = kagubêd, kapulêt.
kawistara = katara, katon.
kawuri = kapungkur.
kawuntat = kapungkur.
--- 42 ---
kawuryan = katon.
kawêwang = mêrak.
kawêlak = kapêlak: suwèk.
kala = jaman, nalika.
kalika = nalika.
kalingking = jênthik.
kalingga = kapundhi, kaadêg.
kale = pênding.
kaloka = kondhang, misuwur.
kalurak = kapundhung.
kalulun = kelut, katut.
kalêntit = dubur, itil.
kapa = ulês, lurup.
kapracondhang = kataton, katiwasan.
kaprajaya = kataton, katiwasan.
kapwa = kapya: padha, kabèh.
kapang-kapang = dhampyak-dhampyak, katebang-katebang.
--- 43 ---
kapi = kapati, sêmu, bangêt. kapirêkta, kapurônta: jambon, jambon, ênom. kapilare: sêmu bocah, kaya bocah. kapidêrêng, kapiadrêng: adrêng bangêt, karêp bangêt.
kapirangu = mangu-mangu, sêmu gajêg-gajêg, ribêt.
kapila = kêpila: putih.
kapiluyu = katut, kelut, kapencut.
kapita = kagèt.
kapidhara = klêngêr, sêmaput.
kadhana = lanang.
kadhini = wadon. kadhana-kadhini: anak loro lanang wadon.
kayun = karêp. ngayun: ngarêp.
kamantya = luwih, ngluwihi, bangêt.
kamal = asêm.
kamijara = sêre.
kamutya = kamutiyan: kamuktèn.
kamohitan = sênêng, bungah.
kaga = manuk.
--- 44 ---
kagum = kagèt.
kagyat = kagèt.
kabul = katurutan, kalakon.
kabyaktan = kayêktènan.
kabyatan = kabotan.
kandarang = kêndhali.
kantaka = klêngêr, sêmaput.
kantar = ulat, tamèng.
kantu = klêngêr, sêmaput.
kandha = kôndha: crita. maca kandha, maca kôndha: maca crita. darma kôndha: crita bêcik.
karna = kuping, sungu.
karni = ambaning kuping, sungu.
kardi = gawe. kinardi: digawe.
karta = têntrêm, slamêt.
karti = gawe, banyu.
kartika = lintang.
--- 45 ---
karsana = bungah.
karya = gawe. kinarya: digawe. pakaryan: pagawean, panguripan.
karma = tata, basa, tata krama.
kaksan = sanalika.
kas = kuwat, santosa.
kalpa = ali-ali.
kalpika = ali-ali.
kalbu = ati.
kapti = karêp, sêdiya.
kancana = êmas.
kampita = kagèt, lindhu.
kambil = abah-abah jaran.
kambing = wêdhus.
kanggêg = kandhêg.
kratalasa = bulus.
krama = patrap, pratingkah.
kramika = ulêr.
--- 46 ---
kyasa = sêpêt.
kyama = bulus, pênyu.
kirana = rêmbulan, sorot.
kirata = wong alasan. kiratabasa: basane wong alasan.
kitiran = manuk pêrkutut.
kisi = susuk kondhe, kancing gêlung.
kintaka = layang.
kirna = sakèhe. palakirna: sakèhe woh-wohan.
kirtya = makirtiya: gawe.
kisma = lêmah.
kingkin = susah.
kridha = ulah. kridhasara, kridha astra, kridhastra: ulah gêgaman.
kriya = tukang.
kerah = karêp.
kering = kiwa. kanan kering: kiwa-têngên.
ketang = kilang.
keswa = rambut, gêlungan.
--- 47 ---
kewala = bae.
kelikan = kêsèd, sungkan.
kewran = kèwuhan.
kejani = lutung.
kengis = katon sathithik.
kèn = prawan, wadon.
kentar = katut, kèli.
kendhang = kèli, buwang.
ko = kowe.
kohên = kowe.
konêng = kobêr.
kocika = palanangan.
koce = sondhèr.
kosara = kusara: êbun.
koswa = rêngga, panganggo, kaprabon.
koligha = sadulur sinara wadi, sadulur sinara wèdi.
kolêm = kulah.
--- 48 ---
komis = brêngos.
kongas = ngambar, sumêbar. ngongasake: ngetokake, ngumukake, mamèrake.
kontab = kondhang, misuwur.
kotbuta = kaya buta, mêdèni, anggilani.
kongkal = kasingsal, kontal, kasongkèl.
krodha = muring, nêpsu, mêta.
kroya = karoya: wit waringin.
kunarpa = bangke, mayit, layon.
kunira, kumkuma = kunir.
kunêng = sigêg, lèrèn.
kuras = rêsik.
kuranji = asêm.
kurug = kalung.
kurita = rante, oyod.
kucumbi = bojo.
kukila = manuk.
--- 49 ---
kukuwung = cumlorot, sumorot.
kukya = kuku.
kuda = kudaka: jaran.
kutêr = putêr.
kutu = tuma.
kuswa = ambung, isêp, kinuswa-kuswa: diambungi.
kuswara = kasêbut.
kusuma = kêmbang.
kusung-kusung = kêsusu, ngaya-aya.
kuwawa = kawawa: kuwat, kuwagang, kangkat.
kuwu = dhepokan palerenan.
kuwôndha = mayit, bangke, layon.
kulita = rakêt, rumakêt.
kulup = thole, anggèr.
kuji = kanthong, kujian: kanthongan.
kumara = kumandhang.
kumuda = kêmbang tanjung.
--- 50 ---
kumut = kêbês, têlês kêbês.
kuthira = pasêr.
kuthila = kêthèk.
kuthip = bajang.
kun = aku.
kurma = kurniya: bulus pênyu.
kunjara = kandhang gajah.
kumbayana = wadhah banyu, gênthong, klêmuk, jêmbangan, klênthing.
kumbi = selak, mukir.
kung = susah, sêdhih, prihatin.
kêni = kêna.
kêning = alis.
kêta = gumêtêr.
kêtur = candhana.
kêlir = aling-aling.
kêping = gèpèng, pèsèk, kimpès.
kêjar = bêdhak, mburu.
--- 51 ---
kênya = prawan.
kênyar = gêbyar, sorot, kumênyar: gumêbyar, sumorot.
kêmat = kaluwihan, pamèr.
kêmit = jaga.
kêndhuru = wit gêndhuru.
krêdya = kagèt.
krêdyat = kêrdiyat: kagèt.
krêpuk = pèpèt, sompok, kakrêpuk: kapèpèt, kasompok.
krêmun = grimis.
krêsna = irêng, wage.
Da
dahana = gêni.
dahat = bangêt.
daut = dhaut: bêdhol, pêdhot.
danawa = buta.
daniswara = sugih tur priyayi, sugih singgih.
--- 52 ---
danu = dhanu: mega, panah, gandhewa.
danuja = satriya linuwih.
danurja = turune wong pintêr, turune wong sugih ngèlmu.
dara = dhara: wêtêng, lintang gêdhe, prawan.
darana = drana: sabar, sarônta.
darani = caping.
daraka = draka: sabar, sarônta.
darapon = supaya.
daruna = sabab, jalaran, wiwitan, bêbuka. paran darunanira: apa sêbabe, kêpriye bêbukane.
dadya = dadi.
data = padu, para data, pradata: para padu, pangadilan, jêksa. andata: madu, padon.
datan = ora. datanpa: tanpa, ora nganggo.
dasa = batur lanang, sapuluh.
dasi = batur wadon.
dasih = kawula, abdi batur. andasih: ngawula.
--- 53 ---
dalasa = dalah, kêlayan
daya = kuwat, rosa. kadayan: kêkuwatan karosan.
darsa = darsana: tuladan, tuladha. sudarsana: tuladan bêcik.
darpa = kumudu, kadêrêng, bangêt.
darma = wèwèh, bêcik. darmawasita: pitutur bêcik.
darbe = duwe.
daksina = ênggon, kidul, wêkasan. daksinalaya: kuburan wêkasaning pati.
dagda = limpat. widagda: luwih limpat.
dang = kukus. dangan: kukusan.
drana = sabar, sarônta. sabar drana: sabar têmênan.
drawina = ombe. drawinan: ombèn-ombèn. andrawina: sênêng-sênêng ngombe.
drawaya = mili, dlèwèran.
drawasa = trajang, tiwas. kadrawasan: katiwasan. andrawasi: niwasi.
drawita = bêngkah, bênthèt.
drastha = makutha.
--- 54 ---
drasthi = alis.
dwara = lawang.
dwaja = umbul-umbul.
dyana = dhuwit, ganjaran. diyanawimala: rajabrana, ganjaran luwih lara.
dyah = putri.
dyasa = sirna.
dirada = gajah.
dite = dina Ngaad.
ditya = srêngenge, ngluwihi.
diwasa = môngsa, sêdhêng.
diwangsa = diwôngsa: sanak, akrab.
diwangkara = srêngenge.
dipara = gajah.
dipôngga = gajah.
dipan = padhang. andipani: madhangi.
diya = sulaya. diya-diniya: pasulayan.
dimapa = nglêngkara, mokal.
--- 55 ---
dimèn = supaya.
dibya = linuwih, pêng-pêngan, utama. sudibya: luwih utama, linuwih.
dik = bangêt, awang-awang, keblat papat. diksura, dêksura: kuwanènên.
dirja = slamêt.
dirya = katon, katara.
dirga = dawa. dinirgakna ingkang yuswa: diganjara umur dawa.
dirgama = borang.
dirgantara = awang-awang.
dwi = loro.
dwija = guru, pandhita. dwijawara: guru linuwih, pandhita gêdhe.
dwistha = karêp, sêdiya.
dri = gunung. wanadri: alas pagunungan.
driya = ati.
de = dene.
dewata = dewa lanang.
dewati = dewa wadon.
--- 56 ---
deya = mardeya: gawe.
denta = anggone.
doradasih = daradasih, duradasih: nyawa têrus impèn ana nyawane, impèn duwe nyawa, impèn têrus.
don = papan, ênggon, panggonan. andon: nêba.
duhita = putri. narpaduita: ratu putri.
dura = asin, adoh.
duratmaka = maling.
dukacipta = nêbsu batin, prihatin.
dukut = sukêt.
duta = utus, utusan. dinuta: diutus.
dulya = dêlêng, dahwèn.
dulu = dêlêng. dinulu: didêlêng.
dulur = iring. dinulur: diiringake. andulur: ngiringake.
dupara = nglêngkara, mokal.
dupi = barêng, têkan
dumaya = mêndhung.
--- 57 ---
dumadi = tumitah, kang dititahake.
duhkita = susah, sêdhih.
dur = ala. durjana: wong ala. dursila, duryasa, durniti: patrap ala, panggawe ala. durcara: gunêm ala. duratmaka, dur atmaka: nyawa ala, maling, buta.
duryan = durèn.
duryat = sorot, pêngpêngan.
durma = macan.
durmas = drumas: kuningan.
durga = ala, pakewuh, bêbaya.
duk = tuju, dhèk, nalika. duksamana: nalika samana. dukdinuk: tuju-tinuju.
duksina = kidul.
duskarta = sangsara, ora slamêt.
drustha = ala.
dlurung = banjur. kadlurung: kêbanjur.
dêlaha = dalahan, dêlahan: pungkasan, ing têmbe, mati, jaman kalanggêngan. praptèng dêlahan: têkan jaman kalanggêngan, têkan mati.
--- 58 ---
dêring = bêras. padêringan, padaringan: gênthong wadhah bêras, simpênan bêras.
dêling = cêtha, ujar, kôndha.
dêmi = thithik, saksi. sadêmi: sathithik. dêmi Allah: kalawan saksi Allah.
dêmung = gêndhing.
dênta = gadhing, untu.
drêdya = trêsna, asih. kadrêdiyan: katrêsnan.
drêman = wêrdèn.
Ta
tahên = ampêt, tahan, kayu taun sandhang. nahên: ngampêt, nahan, nandhang. mangkene nahênkung: nandhang susah. nahên waspa: nahan êluh, ngampêt êluh.
tanapi = utawa, sarta, apadene.
tanaya = anak.
tanu = blungon, mangsi.
taratya = kêmbang trate.
--- 59 ---
taru = godhong.
taruna = anom. prabu taruna: ratu anom.
taruwara = kêkayon.
tarêm = tandur. tarêman: tanduran.
taka = pati.
tata = angin, gêtih ing otot.
tatab = kêbuk, maras.
tasik = sagara, pupur.
tawan = boyong. tawanan: boyongan. katawan: kaboyong.
tawak = tôngga.
tawo = madu.
tala = lêmah, tawon. pratala: sap-sapaning lêmah, warna-warnaning lêmah.
taling = kuping.
talu = wiwit.
taluh = blêthokan, kringêt.
tapang = angin, glêpung.
tajum = antêng.
--- 60 ---
tajêm = mênêng, ayêm, têntrêm, antêng.
tayuh = drajat, kaluhuran.
taman = ora.
tamuhana = tamuyana: manuk prênjak.
taga = sato.
tagyana = pacangan.
tabid = tabib: dhukun.
tabuh = jam.
tan = datan: ora.
tandya = banjur, nuli, têrus.
tantra = tôntra: bala.
tansipi = tansah, bangêt.
tandhana = gandera.
tanya = takon.
tanbara = dhudha.
tanbuh = tambuh: ora wêruh. tumambuh: api-api ora wêruh. mitambuhi: api-api ara[6] mêruhi.
--- 61 ---
tar = ora. tarlèn: ora liya.
tarkas = endhong.
tarpa = tanpa.
tartamtu = tar tamtu: masthi.
tanjak = ngigêl, mênthang.
tampang = bandhul, êmblèg.
tampis = êntèk.
tamping = pinggir.
tampo = tape.
tampu awang = dhampu awang.
tampêr = wêdhi. uyah tampêr: uyah wêdhi.
tambang = tali, opah. panambang: kanggo nalèni. tambangan: opahan.
tambula = kinang. nambula: nginang.
tambêng = budhêg, tamèng.
tang = kang.
tangkar = pêncar.
tangkil = seba, adhêp. tinangkil: sineba, ingadhêp.
--- 62 ---
tangke = êpang.
tangkêp = tutup. tumangkêp: nutup.
tanggap = tampa. tumanggap: nômpa. pananggap: juru nômpa.
tranggana = lintang.
trantang = kudhi.
tyas = ati. matiyas: mikir.
tiarda = bangêt. rôga-tiarda: lara bangêt.
tinon = katon.
tirah = têtirah: pinggir.
tikin = iki, iku.
titi = êntèk, katam, tamat.
têtika = solah, tindak, pariksa.
titir = kêrêp.
tiwar = simpar. katiwar-tiwar: kasimpar-simpar.
tiwikrama = mêsu, prihatin bangêt.
tiwe = swiwi.
tila = ratus.
--- 63 ---
tilarsa = lêmpuyang.
tilam rum = tilam wangi: paturon.
tilam sari = paturon
tidharsa = manuk kêdhasih.
tidhêm = sirêp, surêm.
timun = timun.
tingêl = budhêg.
tinting = pilih.
tindha = payon, payu, tarub.
tirta = banyu. tirtamarta: banyu urip.
tikta = pait. wila tikta: maja pait.
tiksna = landhêp, gathèkan.
tikbra = susah.
tismasa = môngsa adhêm, badhidhing.
timpung = pincang.
timbul = kumambang.
tri = atri: têlu, rame. trimurti: têlu-têluning atunggal. trisula: gêgaman alandhêp têlu.
--- 64 ---
tèki = taki: tapa. têtèki, tèki-tèki: mangun tèki: martapa nglakoni tapa.
tekang = kang, sing.
tètèh = cêtha, têrang.
tetah = tuntun.
tèlèr = wit kelor, kuwat, umbêl.
towang = towong, kêndhat.
toya di = banyu rêsik, banyu suci. katoya rasa upaya: kêna mêmanising ruba, dibêsêli.
tôntra = bala.
tuhu = têmên. mituhu: tumêmên. nuhoni: nêmêni, nêtêpi.
tunu = obong. tumunu: kobong.
turida = susah, prihatin.
turôngga = jaran. turôngga rata: jaran rakitan.
tuding = êkon, tinuding: diêkon.
tuwêk = kêris.
tulya = tuli: tulèn, têmênan.
--- 65 ---
tumuntur = mèlu.
tumpak = dina Sabtu.
tumpal = sèrèt, tumpang.
tungkat = têkên.
tungguk = tunggu, jaga.
tunggul = unggul, dhuwur, gêndera.
tunggung = gêtun.
truna = banyu, ênom, bodho, jaka.
truni = ênom, prawan.
truh = udan. truhtruh: udan-udan, udan ricik.
trustha = bungah, êlèng.
trusthi = êlèng.
têrusan = lawang butulan.
têkit = cêthik.
têlari = lêmari cilik.
têpi = pinggir.
têpu = dhêdhak.
--- 66 ---
têdhuh = mêndhung, timbrêng, srêngenge ora katon.
têguh = rosa, kuwat, wêntala.
têbêng = aling-aling.
têngran = aran.
têrbis = jurang, pèrèng.
têmpayang = gênthong.
têmbaya = jangji. patêmbayan: prajangjian.
têmbing = pinggir.
trêna = êlung.
Sa
sahaya = kônca, batur, rewang.
sahar = unthuk.
sahab = jêjêl, sêsêk.
saha = mrica.
sahid = pintêr, cukup.
sahing = cabe.
--- 67 ---
saudara = sadulur, kadang.
sana = ênggon, panggonan.
saniskara = sabarang, samubarang.
sanepa = upama, tuladha, pasêmon.
sanetyasa = sanitiyasa, nitiyasa: tansah.
sanubari = ati.
sara = panah, lêlandhêp.
sarasidya = kêmbang tunjung.
sari = kêmbang.
sarija = itil.
saroja = rangkêp. kasaroja: karangkêp. sinaroja: rinangkêp. mata sinaroja: mata rangkêp, mata ronyok, têmbung sinaroja: dwi lingga.
saruni = sruni: suling.
sakatha = kreta.
sakèthèng = lawanging kutha.
sadana = wèwèh, sêkti.
sadarpa = kadêrêng, bangêt.
--- 68 ---
sadarga = kira-kira.
sadak = kancing gêlung.
sadêmi = sathithik.
sata = pitik.
satata = tansah.
satak = satus.
satiti = langgêng.
satikswa = sathithik.
sato = kewan. sato iwèn: kewan iwèn. sato galak: kewan galak.
sasa = lintang.
sasana = sana: ênggon, panggonan. asana: manggon.
sasaki = akik.
sasadara = sasadhara: lintang gêdhe, rêmbulan.
sasra = sèwu. sasra bau: bau sèwu.
sasi = rêmbulan.
sasôngka = rêmbulan.
sawala = gèsèh, sulaya. data sawala: sulaya padune, sulaya rêmbuge.
--- 69 ---
sawaja = swaja: bêlo.
sawastu = mêsthi, têmênan.
sawega = piranti, mrabot, sadhiya.
sawung = barêng. sinawung: binarêng, dianggit.
sawunggaling = jago êmas, jago patohan.
sawêgung = kabèh.
salatara = mlandhingan.
salaba = slaba: laron sulung.
salemuka = pilingan.
saloka = upama, pasêmon.
salu = ambèn.
sapala = sapele, sathithik, utama.
sapangu = sadhela.
sadhawara = atur. manadha wara: matur.
sajuga = siji, sawiji.
saya = piranti. sayèng kaga: kala.
sayaka = panah.
--- 70 ---
sayasta = kasur.
sayoga = sumêta, sêdhiya.
sayogya = prayoga.
samadya = gajah.
samatra = sathithik.
samapta = sumêta, sadhiya, miranti.
samirana = angin.
samodra = sagara.
samuha = bêcik, kumpul. manganggo samuha: manganggo bêcik. samuhan: tontonan manganggo bêcik. lagune bêcik, jogède bêcik. pasamuan: kumpulan bêcik, jagongan.
samêndhang = sadhela.
saban-saban = sabên-sabên.
sangara = sêngara: banyu.
sandi = samar, wadi, samun. sandi sastra: tulis kang disamar, tulis kang digawe wadi. sandi upaya: paêkan ngrêmit.
sandeya = sandiya: kuwatir, sumêlang.
--- 71 ---
santa = sabar, sarèh, bêcik.
santika = sêkti.
santya = mênging, muji, santiya pudiya, santiya budiya: mêmuji, nênuwun.
sandhang = anggo. nyandhang: ngangga[7]
sandhangan: anggon-anggon.[Belum dialihaksara]
sandhang walikat = kêris.
sarkara = lêgi.
sardana = sugih.
sardala = siyung.
sardula = macan.
sarpa = ula. sarpa krêsna: ula dumung.
sarjana = wong pintêr.
sarju = sênêng.
saksana = nuli, tumuli.
sad = nênêm. sadrasa, sadrasa: rosa[8] nênêm. sadpada: sikil nênêm, bangsa kinjêng, bangsa kombang.
satmaka = urip.
--- 72 ---
sastra = tulis. parama sastra: tulis kang linuwih. sastra sandi: tulisan kang digawe wadi, tulisan wadi. sastraji: layanging ratu.
sapta = pitu.
sancaka = srawungan.
sancaya = srawungan.
sampêt = rampung, cukup.
sambrama = bage. panambrama: pambage. manambrama: ambagèkake.
sabda = gunêm cêlathu.
sangkala = taun.
sangkaya = pantês. datan sangkaya: ora pantês.
sangkin = saya, sangsaya. sangkin andadra: saya andadra.
sangkêp = ganêp, cukup.
sangsipta = mulane, jalaran saka iku.
sanggya = kabèh.
sanggraha = dhepokan, omah palèrènan.
srawa = sêmut.
sraya = rewang, tulung. minta sraya: njaluk tulung, njaluk direwangi.
--- 73 ---
swanita = kringêt.
swakuda = jaran.
swasa = uswasa: ambêkan.
swami = garwa, pramèswari.
swamipa = pinggir, pasisir.
swandana = tunggangan, kareta.
sinipi = bangêt, kapati-pati.
sinidhikara = didongakake, dipujèkake.
sinom = wadon, pradapa.
sinukarta = dirêngga, disruwe, diaru-biru.
sira = kowe.
sirung = pêtêng, lindhuk.
sikara = tangan, bau.
siking = gêni, upêt.
sida = prasida: lêstari.
sidi = bênêr. pramana sidi: awas têmênan.
sidik = waskitha.
--- 74 ---
sita = luwih.
sitarêsmi = rêmbulan.
sitibêntar = sêtinggil.
sitèngsu = rêmbulan.
siswa = kônca, wêtu.
siwah = beda.
siwi = anak, seba. sumiwi: sumeba. sumiwèng: seba ing.
siwi bantya = anak mantu.
sila = patrap, pratingkah. dursila: patrap ala, maling.
silar = singkir. sumilar: sumingkir.
sipi = bangêt, kapati-pati.
sidhikara = puji, môntra, donga.
siyaga = dandan, miranti.
siyasat = siksa.
sigra = enggal, rikat, wahing.
singanadi = baya, bajul.
singaranu = baya.
--- 75 ---
singangsana = dhampar palênggahaning ratu.
sindu = banyu.
sindura = mêthuk.
sindung riwut = lesus, prahara.
sirna = ilang, musna.
sipta = cipta.
slira = salira, mênyawak.
sri = ratu. sriwêdari: tamaning ratu. srinata, srinarpati, srinarendra, sripamasa: ratu.
sribupati = ratu.
sing = saking.
singsim = ali-ali.
singgang = poking dami.
sena = prajurit pikukuh.
seta = putih.
setra = kubur tan kapêndhêm.
seswa = murid. seswarini: murid wadon.
--- 76 ---
sewa = sewaka: seba. sumewa: sumeba, seba. pasewakan: paseban. sinewaka, siniwaka: sinowan.
sèntèl = kempol.
sona = asu.
sori = ratu putri.
soroh = wèh, wèwèh, sinorohwadi, sinarawèdi: diwèhi wadi.
soka = susah.
sokana = sêdhih, susah.
sokanandi = abang ênom sêmu kuning.
sota = rasa.
sowang = dhewe, ijèn. sowang-sowang: dhewe-dhewe, ijèn-ijèn.
sonya = suwêng.
song = rong, lèng.
su = luwih, bangêt.
suhun = sunggi, pundhi. sinuwun: kang dipundhi, disunggi. sinuhun-suhun: dipundhi-pundhi, disunggi-sunggi, diaji-aji. susuhunan: wong kang dipundhi-pundhi.
--- 77 ---
sunya = sunya, suwung.
sunar = sorot.
sunu = anak, sorot.
sura = wani, kêndêl, linuwih.
sura duhita = widadari, putri linuwih.
sura wadu = widadari, putri linuwih.
suralaya = kadewan.
suraya = gêgêdhug, kêndêl.
surastri = sulastri: widadari.
suka = bungah, sênêng. kasukan: kasênêngan, suka-suka, sênêng-sênêng, bungah-bungah.
sukarta = rêngga, aru-biru, sruwe.
sukra = dina Jumuah, cèlèng.
sudama = lintang, bodho bangêt.
sudarsana = darsana: tuladan bêcik.
sudarma = bapa, bêcik. sudarman: kabêcikan.
sudra = sangsara, asor nistha.
sudira = kêndêl.
--- 78 ---
sudibya = linuwih
suta = anak.
sutikna = sutikna: landhêp, anggitan.
susra = suwur. kasusra: kasuwur.
susila = patrap bêcik.
suweda = sweda: driji.
sulayah = angglimpang, klumah.
sulah = slumbat, sunduk, sujèn.
sulaksana = awak.
sulastri = widadari, patrêm.
supadi = supadiya: supaya.
sujita = turune wong linuwih.
suyati = pandhita.
suyasa = yasa: dalêm.
sumawana = apadene.
sumantri = mantri linuwih, patih.
sumarsana = kêmbang kanthil.
--- 79 ---
sumêne = sumaya.
sumêngka = munggah.
sumirat = sumorot, gumêbyar.
sumyar = ambyar, sumêbar.
sugata = suguh. pasugatan: suguhan.
subadya = subadi: santasa.[9]
sundara = bêkisar, sawangan.
sunya = suwêng.
sumbaga = misuwur, gunasêkti. sugih sumbaga: sugih guna sêkti.
sung = awèh. sinung: diwènèhi. kasung: katur. pisungsung: pawèwèh.
sungkawa = susah.
sru = sêro,[10] bangêt.
sênên = sorot, cahya.
sêca = sêtiya: têmên.
sêrah = suruh.
sêrang = têmpuh, trajang. nêrang, manrang: nêmpuh, nrajang.
sêkung = adrêng, bangêt.
--- 80 ---
sêkêl = susah.
sêlah = kêmbên.
sêbit = suwèk. sinêbit: disuwèk.
sêndhaya = para nyai.
srênggala = asu, asu ajêg.[11]
Wa
wahana = banyu, tunggangan. wadiya wahana: prajurit jaranan.
wail = pancing.
waudadi = sagara.
wauwa = wawa.[12]
wanara = kêthèk.
wanadri = alas pagunungan.
wanawasa = alas ngrètèk, alas trataban.
wanarga = wana arga, wanagiri: alas pagunungan.
wanita = wadon.
wanodya = wadon.
--- 81 ---
wacana = gunêm, cêlathu.
wacu = klambi. wacu kambala: klambi ôntra kusuma.
wara = wadon, linuwih. wara sêmbadra, wara srikandhi. wara hastra: gêgaman linuwih, panah. wara duita: putri linuwih, widadari. wara wadu: putri linuwih, widadari. dwijawara: guru linuwih, pandhita gêdhe.
wara taruna = jaka, jêjaka.
wara taruni = prawan.
wara sana = dhampar palênggahaning ratu.
wara wirêsmi = rêmbulan.
warana = aling-aling, wêsi.
warayang = panah, bêdhil, gênthong.
warastra = wara astra: gêgaman linuwih, panah.
warang = pacang, pingit, sêngkêr. warangan: pacangan, pingitan, sêngkêran.
waranggana = widadari.
warêgung = gudhe.
warih = banyu.
wadya = bala. wadiyawahana: prajurit jaranan.
--- 82 ---
wadanta = widara.
wadu = wadon, putri. narpawadu: ratu putri. warawadu: putri linuwih, widadari.
wati = jagad. cakrawati: jagad bundêr. dwarawati: lawanging jagad.
wasa = rusak, sêdhêng. wanawasa: alas rusak, alas trataban, alas ngrètèk.
wasi = pandhita, sabab.
wasita = pitutur. darmawasita: pitutur bêcik.
wasir = wasèrèn: nayaka, panggêdhe.
wasistha = wicaksana.
wawa = gawa, tandhing. wawan: gawan. winawa: digawa. wawan sabda: tandhing gunêm, padu.
wala = bocah.
waluya = slamêt, waras.
waju = klambi. waju kambala: klambi ôntra kusuma.
waya = banyu.
wayasa = wyasa: gagak.
waga = pawadonan.
--- 83 ---
wahya = wêtu, lair. kawahya: kawêtu, kalair.
wahdat = wadat: ijèn.
wanda = wônda: awak.
wandawa = sanak, kulawarga.
wandu = sanak.
wantu = bantu, watak, winantu: kabantu. mawantu: ambantu.
wanteya = manuk garudha, luhur.
warna = banyu, ucap, crita. winarna, kawarna: kocap, kacrita.
wardaya = ati.
wardugangga = lintah.
warsa = warsi: udan, taun. triwarsa: têlung taun. warsaya: mangsa rêndhêng.
warsita = wursita: ucap, crita, winursita, kawarsita: kocap, kacrita.
waktra = rai. nayaka waktra: patih.
wastra = jarit.
wastu = èstu, masthi.
waswa = wastu: èstu, masthi, têmênan.
--- 84 ---
waspa = êluh.
walgita = layang.
wancak = walang, palang. wancak driya, walang kayun: walang ati, sumêlang. walang sangkêr: wêwalêr.
wakawa =[13] awang-uwung, kêkuwung, kluwung.
wangsa = wangsa: bangsa, sanak.
wangwang = banjur, nuli.
wra = mawra: warata, sumêbar.
wraha = cèlèng, warata.
wrahat = arahan. wrahat bala: bala arahan.
wrahatsari = kêmbang cêpaka.
wratmaka = kêmbang gambir.
wi = luwih, bangêt.
wihara = wiyara: patapan, susah.
winata = kêmbang tunjung.
winaya = anggang-anggang.
winarna = kocap, kacrita.
--- 85 ---
winiwi = wira-wiri.
wicara = gunêm, ujar.
wicitra = rupa luwih bêcik, ayu bangêt.
wira = prajurit, pêngpêngan, panggêdhe, kuwasa. wira utama, wirotama: prajurit utama.
wirangrong = susah, kedanan.
wirong = susah, purik, pasang, rimong.
wirungan = pawon.
wikan = wêruh.
wiku = pandhita. sangawiku: sang pandhita.
widada = tulus, lêstari.
widadara = dewa.
widayaka = pujangga.
widayat = pulung, wahyu.
widagda = limpat putus.
widi = dewa.
widik = keblat papat, awang-awang. widik-widik: awang-awang, katon sadhela.
--- 86 ---
widigda = alun, putus, luwih limpat.
widung = kupu.
witana = sitinggil.
witaradya = bangsa luhur, trahe wong mêngku nagara.
wisata = lêlaku, lunga, lêlungan.
wisaya = panggawe, piranti, paeka. misaya: golèk.
wisesa = kuwasa. misesa: nguwasani, ngêrèh. kawisesa: kêrèh. mantri wisesa, mantri sesa: mantri kuwasa, patih.
wiso = iso: usus.
wisuna = wisa linuwih, wisa mandi.
wisudha = unggah. misudha: ngunggahake. kawisudha: diunggahake.
wiwaha = rêngga, bêcik, adi. wiwahan: rêrênggan. pamiwaha: pangrêngga.
wiwara = lawang.
wiwaga = piranti.
wila = maja. wilatikta: maja pait.
wilaca = limpe. winilaca, kawilaca: dilimpe, dilimpèkake.
wilasa = wêlas, pêlêm.
--- 87 ---
wilasita = êlèng.
wilapa = layang.
wilaja = maja alasan, wulu cumbu.
wilaya = lêpas.
wilaba = andaru.
wilis = ijo.
wipra = pandhita.
wipanca = dlima.
widhe = lêncir.
wijah = bungah. mawijah-wijah: bungah-bungah.
wijaya = unggul, mênang. wijaya kusuma: kêmbang kang unggul dhewe.
wijayanti = luwih unggul, luwih sêkti.
wijil = wêtu. mijil: mêtu: kawijil: kawêtu.
wiyara = wiyar, patapan.
wiyadi = susah.
wiyata = wulang. pawiyatan: pamulangan.
--- 88 ---
wiyati = awang-awang, langit.
wiyat = awiyat: awang-awang.
wiyoga = susah.
wiyôngga = kodhok.
wimala = luwih lara, lara bangêt.
wimursita = mursita: klêngêr, sumaput, tiba.
wigati = pêrlu, luwih pêrlu.
wigêna = prihatin, susah.
wibawa = mukti, kawibawan: kamuktèn.
wibajra = angin linuwih, prahara.
wibi = biyung.
winda = ambu, wisa. windaka: ambon-ambon.
windu = wayu. windu tirta: banyu wayu.
wirya = luhur, mukti. wiryawan: kaluhuran, kamuktèn.
wisma = omah, wismaka: kêthu.
wima = wêtu. mimba: mêtu.
wimbuh = wuwuh.
--- 89 ---
wignya = pintêr.
wingwrin = wêdi, giris.
wrin = wêruh. tanwrin: ora wêruh.
wriga = kidang.
we = banyu.
wèni = rambut.
wèri = mungsuh.
weda = wedha. wediya: ngèlmu, kawruh.
wèstri = bêbaya. jaga wèstri: jaga baya.
wèsthi = pakewuh, bêbaya. jaga wèsthi: jaga baya.
wèdha = gêni.
wre = kêthèk.
wônda = awak, wujud.
wot = êmot, oyod. winot: diêmot.
wotsari = wot santun: nyêmbah.
wot sinom = nyêmbah.
wong = êmong. winongwong, winong-wong, winong: diêmong.
--- 90 ---
wurahan = sumêbar, gègèran.
wuri = buri. kawuri: kapungkur.
wuruk = kusir.
wukir = gunung.
wuduk = gurih. sêga wuduk: sêga gurih.
wuwus = wêtu, gunêm, ujar tangis.
wulan = rêmbulan.
wulangun = sêngsêm, kangên, sumêlang.
wulinga = berag, bêsus.
wuling = uling.
wulon = rambutan.
wuyung = susah. wayang-wuyung: susah bangêt, poyang-paying.
wuntat = buri. kawuntat: kapungkur.
wuntu = buntu.
wurya = wiwit, katon, wuryan: wiwitan, tontonan. tigas kawuryan: anyar katon.
wursita = ucap, crita. winursita, kawursita: kocap, kacrita.
--- 91 ---
wuk = uwuk, suwuk: wurung.
wênês = mêlês.
wêca-wêca = bangkong, kongkang.
wêruju = waruju: wuragil.
wêka = anak.
wêdari = taman. sriwêdari =: tamaning ratu.
wêtis = pace.
wêlada = woh êlo.
wêlagar = obong. kawêlagar: kaobong, kobong.
wêgang = tikus.
wêgig = putus, pintêr, baud.
wêrcita = cacing.
wêrka = wrêka: ulêr.
wêrdi = jarwa, andadi, akèh wohe.
wêrjit = cacing.
wrêsa = udan.
wrês = dêrês.
--- 92 ---
wrêsti = udan.
wrêdha = tuwa. mantri wêrdha: patih.
wrêksa = kayu.
wrêgil = wêrgil: paran, ênggon.
La
lahita = gada.
lana = langgêng, lêstari, jajah. lêlana, malana: anjajah.
lanat = cucuk. lumanat: nucuk.
larwan = laron.
laris = laku. lumaris: lumaku.
larung = kèli, labuh.
ladrang = lancap.
lata = oyod.
latuha = lumut.
latak = latêk: êndhut.
latang = latêng.
--- 93 ---
lawana = pêdhês.
lawan = karo, sarta, mungsuh, timbang. lawanan: timbangan, mungsuhan.
lawad = lumawad: awor.
lawat = lawata: muluk.
lawiya = wajib.
lawu = pêrèng,[14] èrèng-èrèng.
lawun = pêdhut.
lawung = umbaran, ngamuk, landheyan.
lawên = sorot, cahya.
lalahi = saradan.
lalawora = lalawara: tanpa gawe, ala nganggur.
lalang = alang-alang.
lalis = mati.
lapa = luwe, ngêlih.
ladha = lombok.
laju = têrus.
laya = alaya, pralaya, malaya: mati.
--- 94 ---
layap = liyêp, rayap.
lanyo = umuk.
lama = lawas.
lamun = yèn, manawa.
laga = pêrang, paprangan. palagan: paprangan.
lagya = lagi.
langên = sênêng. lêlangên: sênêng-sênêng. kalangênan: kasênêngan.
langon = langên: sênêng. lêlangon: sênêng-sênêng.
langun = langên: sênêng.
landhi = mênjangan rangkah.
larwa = gangsir.
laksana = laku. lumaksana: lumaku.
laksita = laku. lumaksita: lumaku.
laklak = têlak.
lancar = lêpas, lumancar: lumêpas, nglêpasi.
lanji = lunyu, lonthe.
lamlam = sênêng. nglamlami: nyênyênêng.
--- 95 ---
lampita = pralampita: pralambang, pasêmon.
lampus = mati.
lambang = ijol. lambang sari, lambang santun: ijol sari, cumbana, bedhangan.
lagnyana = wuda.
langkap = gandhewa. mênthang langkap: mênthang gandhewa.
langking = irêng. pête langking: pête irêng, kêdhawung.
linang = ilang, pindêng, luminang: mêndêng, ngrusak.
lirip = towong, kêndhat.
lidhah = ilat, kilat.
lidhi = sada.
limaya = jêruk.
limut = lali. linalimut: dilali-lali.
limus = timun.
lindhih = tumpang, tindhih. lumindhih: numpang, nindhih, nindhihi.
lindhung = lindhu, aling-aling.
lir = pêdhot, kaya, kabèh. saliring: sakabèhing.
--- 96 ---
lirwa = cidra, tinggal, rèmèh.
liklik = sêntil.
listya = alus, endah, bêcik, ayu. sulistiya: wong ayu.
limput = kêmul, aling-aling, kodhêng.
limbang = iling. lumimbang, nglimbang: ngiling.
limbe = kimpul.
lingga = adêg, pundhi, sunggi. kalingga: kaadêg, kapundhi, kasunggi. dahat kalingga murda: disunggi-sunggi bangêt, dipundhi-pundhi bangêt.
linggar = oncat, lunga, linggaran: lungan.
lena = mati.
lèjêm = lêjêm: sêmuning rai.
lèn = liya. tarlèn: ora liya.
lèndhi = lonthe.
lembak = kambang. lembak-lembak: kambang-kambang.
lona = pêdhês.
locana = êluh, pasuluhan, urang-uranging mata.
--- 97 ---
locita = unandika, graita. nglocita: ngunandika, anggraita, ngangên-angên.
loka = jagad. loka endra, lokendra: jagad linuwih, kahyangane bathara endra. loka pala: wohing jagad. lokananta, lokanônta: watêsing jagad, pungkasaning jagad, gamêlan ing suralaya. triloka: jagad têlu, jagad têtêlu.
lowe = luwing.
londho = kêndho.
luhung = adi, angur, aluwung.
lunas = mati.
lukita = têmbung.
luda = tlutuh.
ludaka = cêthik.
ludra = dewa, srêngên, nêpsu, galak.
ludira = rudira: gêtih.
lusi = cacing.
lulus = lêstari.
lupa = marlupa: lungkrah, lêmês, lêsu, lali.
ludhaha = banyu idu.
--- 98 ---
lumalat = nonton, andêlêng.
lumrang = warata, ngambar, sumêbar.
lumung = duwe êlung, ngêlung.
luba = murka, kêthaha.
lungaya = gulu.
lungid = anggitan, landhêp, gathèkan.
lunda = alun.
lungsir = sutra.
lêtuh = buthêk, bukêt, rêgêd.
lêlayu = gêndera.
lêmak = gajih.
lêguta = kulina, udi, rêmbug. linêguta: diudi, dibudi, dikulinakake, dirêmbug.
lêngis = wit waru.
lêntur = lêmês.
lêntang = lumah. lumêntang: mlumah.
lênjing = alu.
--- 99 ---
lêmbi = walang.
lêmbora = iwak tômbra.
lêbda = lêmês, pintêr, olèh. lêbda jiwa: olèh urip.
lêngka = pait, langu.
lêngkawa = teja, kêkuwung.
lênglêng = sêngsêm, asri, dhêlêg-dhêlêg.
lênggana = langgana: sungkan, suthik, mopo. datan lênggana: ora mopo, saguh. langganan: sungkanan.
Pa
pahala = pakolèh, pituwas.
pahat = pêrês, pipit, saring sarana umêb.
pail = oncat. pailan: mangsa koncatan pangan.
paing = gêthing.
pae = beda, seje.
paès = ilo. paesan: pangilon.
pahom = puja, mahom: muja. pahoman: pamujan.
--- 100 ---
panaha = pangira.
panahên = pangampêt.
panalika = paniti priksa, pamriksa.
panasbaran = brangasan.
pani = godhoh, kuping.
panika = kalam, palanangan.
panon = pandêlêng.
panukma = panêlik, panitis, samun.
panêkar = priyayi cilik.
panêpi = sèrèt, sèrèting sêmbêt.
panêmbung = panggitik, cêmêthi.
pacara = kêna supata.
pacima = kulon, pacimatara: lor kulon.
pacu = sikut.
para = kowe, raka para: kakangmu.
parahi = timun
parama = linuwih. parama sastra: tulis kang linuwih. parama yoga.
--- 101 ---
paran = apa, kapriye, kêmbang gêdhang. ana paran: ana apa. kadi paran: kaya apa, kapriye. paran darunanira: apa sababe, kapriye sababe.
parasdya = rasaning ati.
parangmuka = satru, mungsuh.
pari = luwih. parimurti: linuwih. parimarma: luwih wêlas, wêlas bangêt, kawêlasan, pangowêl, pangeman. paribasa: basa kang linuwih. paripurna: rampung têmênan, rampung-rampungan. pariminta.
paris = tamèng.
pakarti = panggawe, pagawean. pakartinya: pagaweane.
pakirtya = panggawe. makirtiya: anggawe, gawe.
pakuwon = pamondhokan.
pakênira = kowe.
pada = sikil, ênggon. marcapada: ênggon uwong, jagad, donya. ngèstupada, nguswa pada: ngabêkti.
padarakan = urakan. pidak padarakan: turune wong urakan.
paduka = sampeyan, sikil, trumpah.
patani = ambèn, èmpèr.
--- 102 ---
pataka = bilai, mati.
patra = godhong.
patik = trètès. pinatik: tinrètès.
patikbra = kawula.
patêmbaya = prajangji, sêmaya.
pasraman = patapan.
paso = jêmbangan.
pawana = angin. pawanan: kanginan.
pawaka = gêni.
pawal = krikil.
pawitra = bêning, rêsik.
pawitarja = dhêdhasar bêcik. rèh-pawitarja: dhêdhasar pratingkah bêcik.
pawongan = para nyai.
pala = woh. pala rêkta: woh abang, bolu. pala gumantung: woh gumantung.
palana = lapak, lapak gajah.
palakrama = pala-krami: salaki-rabi.
--- 103 ---
palastra = mati.
palastha = rampung.
palam = daging.
paliyas = pangluput. paliyasan: pangluputan.
palôngka = dhampar.
palupi = tuladha, lêpiyan.
palugon = paprangan.
papa = asor, cilaka, nistha. papasana: naraka.
padhêm = mati, pinadhêm: dipatèni.
pajampuwa = muga-muga.
pajang = rêngga. pinajang: dirêngga. pajangan: rêrênggan. majang: ngrêngga.
pajungkungan = pamujan.
payudara = susu.
payudan = paprangan.
payuh = ukêl.
payus = pucêt, kucêm.
--- 104 ---
pama = upama
pamasa = ratu.
pamihat = pandêlêng.
pamilawa = jagal.
pagut = tarung, têmpuh, tuju. magut: narungi, nuju, nêmpuh.
pangasih = sumur, pucuk, poncot.
pangastuti = pangabêkti.
pangrawit = pangrajang.
pandara = rêngga. mandara: ngrêngga. pinandara: rinêngga. pinandara sanggyaning pahargyan: rinêngga sakèhing kahurmatan.
pandaya = piranti, paeka.
pandak = tlatèn.
pandam = diyan, pêpadhang.
pandêling = pangucap.
pantaka = pati, mati.
panti = omah.
pantèn = thole, ênggèr.
--- 105 ---
pantên = pari.
pandhana = pandhan.
pandhaya = julik.
pandhak = cebol.
pandhe = pintêr.
pandhuya = pintêr, baud.
pandhêm = balang, bandhêm.
parwata = gunung.
parwasa = rusak, têmpuh, trajang. marwasa, mrawasa: ngrusak, nêmpuh, nrajang.
parpat = kumpul, klumpuk. marpat: ngumpulake, nglumpukake.
parjaya = trajang, têmpuh, suduk, tiwas. marjaya: nêmpuh, nyuduk. pinarjaya: ditrajang, disuduk.
parma = kanugrahan.
paksa = pêksa: uwang, bau, swiwi. paksi: kang aswiwi, manuk.
padni = ratu putri.
padma = kêmbang tunjung.
--- 106 ---
padmasana = dhampar.
pascima = kulon.
palwa = prau.
palwaga = kêthèk.
panjuta = ting, obor, diyan.
prana = ati, tuju, kapranan: katuju.
pranaja = dhadha.
pracadi = pracaya.
pracalita = thathit, kilat.
pracika = kalajêngking.
pracima = kulon.
pracôndha = prahara.
pracondhang = tiwas, tatu. kapracondhang: katiwasan, kataton.
prakatha = surak, rame, gumuruh, gumêdêr.
prakuswa = putus, rosa.
prakêmpa = gonjing.
pradana = ganjaran, loma.
--- 107 ---
pradata = paradata: para padu, jêksa.
pradipta = urub, gêbyar. mradipta: murup, gumêbyar. pradiptaya: luwih gumêbyar.
pradôngga = gamêlan.
pratala = lêmah, sapsapaning lêmah. saptapratala: lêmah warna pitu, lêmah sap pitu.
pratama = bêcik, putus, pambarêp. yoga pratama, pratama yoga: anak pambarêp.
pratiwa = priyayi, mantri, punggawa.
pratiwi = lêmah.
pratipa = lesus.
pratima = golèk.
pratistha = manggon, mungguh.
pratignya = prajangji.
pratônggapati = srêngenge.
praswa = githok.
prasida = lêstari, sida, têkan.
--- 108 ---
prasêdya = karêp, sêdiya.
prasêtya = prajangji, katêmênan.
prawa = cahya, sorot. prawan: kang duwe cahya, kang duwe sorot.
prawata = gunung.
prawira = prajurit, pêng-pêngan.
prawita = jalaran, wêwinih.
pralaya = mati.
pralampita = pralambang, pasêmon.
pralêbda = pakolèh, pintêr, prigêl.
praja = nagara.
prajaka = kongkonan.
prajaya = tiwas, trajang, têmpuh, suduk. kaprajaya: katrajang, kasuduk.
praya = pikir, karêp, ati.
pramati = linuwih, pêng-pêngan.
pramu = luwih, ômba, jêmbar. pramudita: luwih jêmbar. pramusesa: jajahan ômba.
pragya = susah.
--- 109 ---
pragalba = rosa, galak.
pragosa = kêthèk.
pragola = rukêt.
praba = sorot, cahya.
prabu = ratu, pantês.
prastawa = awas, têrang, dhamang.
prastha = pasangan tikus, githok.
prasthi = alis, sêdiya.
prapta = têka, têkan.
prambayun = susu, pangarêp.
priya = lanang.
priyôngga = dhewe, ijèn.
pribadi = dhewe, ijèn.
pringga = bêbaya, pakewuh. wana pringga: alas kang ambêbayani, alas gêdhe. surapringga: surabaya.
pine = beda. kapine: kabeda. bau kapine: bau kabeda, pilih asih.
picis = dhuwit. maspicis: dhuwit mas.
--- 110 ---
pikut = cêkêl. pinikut: dicêkêl.
pidana = ukuman.
pita = kuning. jalak pita: podhang. kunir pita: têmu.
pilangên = cumbana. kêmbang pilangên.
pidhir = wêdi.
piyarsa = pyarsa: prungu. kapiyarsa, kapyarsa: kaprungu.
piyuh = dèrès.
pingul = putih.
pindêl = bisu.
pindha = kaya, èmpêr.
pirma = eman, wêlas, owêl.
pingging = bodho.
pelag = bêcik, bagus.
peya = panas.
pendah = kukuh, beda, luwih.
pendhe = pêdhang.
pèt = cêkêl, jupuk. pinèt: dicêkêl, dijupuk.
--- 111 ---
ponang = punang: kang, sing.
pônca = lima. pôncaindriya, pônca-ndriya: rasa lêlima. pônca weda: ngèlmu lêlima. pônca baya: bêbaya lima.
pôncakara = tarung, padu, kêrêngan.
pôncawôra = prahara.
pôncaniti = pasowanan.
puha = lara.
puhara = puwara: wêkasan, têmahan.
puhi = manasi, mêrês.
puhun = jêmpol.
puna = pulih.
punagi = punagya: kaul, nadar, jangji.
punah = rusak, sirna. pamunah: pangrusak.
punar = kuning. sêga punar: sêga kuning.
pura = puri: kraton. purana: papaning kraton.
purusa = pêksa, palanangan, lanang.
puruhita = maguru, anggêguru. [anggê...]
--- 112 ---
[...guru.]
pukulun = gusti, panjênêngan dalêm.
pusara = tali.
pusika = kucing.
puwa-puwa = panasan, panasatèn, mêmanasi.
puwun = jêmpol.
pupuh = gitik, campur, campuh. pêrang pupuh: pêrang campuh.
pudhaka = kêmbang pandhan.
puyi = gêni.
puyika = gêni.
puyuh = gêmak.
punya = duwe.
purna = rampung. pari-purna: rampung-rampungan, rampung têmênan.
purwa = wiwit, wetan. purwa-duksina: kidul wetan. murwani: miwiti. purwaka: wiwitan, bêbuka, pambuka.
pustaka = layang, buku. pustaka-warti: layang kabar. radiya pustaka: layang nagara, buku nagara. bale pustaka: gudhang buku.
puspa = kêmbang. puspa krêsna: kêmbang têlasih.
--- 113 ---
puspita = kêmbang.
pusthi = cêkêl. pinusthi: dicêkêl.
punghas = wêkasan. punghaskala: jaman wêkasan, kiyamat, wêktu wêkasan.
punggung = bodho.
pênat = sayah.
pênuh = kêbak.
pênêd = bêcik, asri.
pêra = akas.
pêrot = usus.
pêkathik = tukang ngarit.
pêkik = bagus.
pêlari = lêrak.
pêndil = pêthil.
Dha
dhaèng = panji.
--- 114 ---
dhanu = mega, mêndhung, gandhewa.
dhara = dara: prawan, wêtêng. sasadhara: lintang gêdhe, rêmbulan.
dhatu = ratu. kêdhaton, dhatulaya: kraton.
dhadhak = tlutuh, sabab, jalaran. dhadhakan: sabab, jalaran.
dhandhang = gagak.
dhag = lowong. didhagake: dilowongake. ngêdhag-êdhag: barang tanpa isi tutupe kabukak. ngadhag-adhag: tanpa rewang, tanpa kônca (tumrap wong lara).
dhangkak = bucu.
dhangdhi = gogor.
dhihin = dhisik.
dhiri = awak.
dhingin = dhisik.
dhindhing = aling-aling.
dhepok = patapan. mardhepok, dhêdhepok: manggon ing patapan.
dho = pindho: loro. dhomas: wolung atus.
dhucung = unggul. rêbut dhucung: rêbut unggul.
--- 115 ---
dhukut = sukêt.
dhustha = ala, maling.
dhêdhêp = sirêp, lêrêp.
dhêndha = gada, gitik. bau dhêndha.
dhêstha = ganjil.
dhêsthi = piala, alis. andhêsthi: miala.
drêstha = siyung.
Ja
jana = wong, gajah. durjana: wong ala.
janawi = kali, banyu.
janela = cêndhela.
jati = tuhu, têmên. anjatèni: nuhoni.
jawata = dewa.
jawat = gêpok, senggol, êlar. anjawat: nyenggol, ngaruh-aruhi.
jalanidhi = jala nidi: sagara.
jaladri = jaladhi: sagara.
--- 116 ---
jaladha = mêndhung.
jalagra = riyak.
jalu = lanang.
jaludha = gadhing. jaludha tata gati: gadhing kêmbar.
jaya = unggul, pêng-pêngan, sêkti.
jamul = irêng mêlês. waja jamul: untu sisig.
jabang = bocah.
jatha = siyung.
jahning = banyu.
janma = titis, uwong. manjanma: nitis.
jalma = janmi: uwong.
janggala = kagila-gila.
jinêm = turu, mênêng. jinêmrum, jinêm wangi: paturon.
jirak = kapundhung.
jiwangga = awak.
jinjing = jinjit, cincing.
jimbun = kawak.
--- 117 ---
jingga = abang.
jegos = bisa.
johar = sêsôtia.
jodhi = tiwas, asor. anjodhi: gawe tiwas, ngasorake.
jor = asor, rusak. anjor: ngrusak.
jro = jêro, sajrone.
jurit = pêrang. prajurit: wong kang gawene pêrang.
juti = ala, panggawe ala.
juwita = putri.
jumantara = awang-awang.
juga = siji, ijèn.
jugul = bodho, boncis.
jum = tata, dum. anjum asta: salaman.
jênar = kuning.
jêring = jengkol.
jêngku = dhêngkul.
jrênih = bêning, rêsik, têrang. jinrênih: ditêrangake.
--- 118 ---
Ya
yadi = birahi.
yata = sigêg, mangkene.
yasa = gawe, dalêm.suyasa: dalêm.
yayah = kaya, bapa. yayah kadi: kaya.
yayi = adhi.
yama = jêksa. titikaning yama mungguh: mungguh pamriksaning jêksa.
ywa = aja.
yaksa = buta.
yatna = awas, prayitna, eling.
yatma = yatmaka: nyawa, urip.
yyang-yyang = dewa.
yeka = yèku: iya iku. yèki: iya iki. yèkang: iya iku kang.
yowati = prawan.
yoga = anak, tapa, bêcik. yoga brata: laku bêcik, laku tapa, mêmuja.
yogya = bêcik, prayoga.
--- 119 ---
yogi = bêcik, pandhita. sang ayogi: sang pandhita.
yuda = pêrang. payudan: paprangan. yuda gama: pêrang agama, pêrang sabil. yuda asmara, yudasmara: cumbana. yuda yana: lurahing pêrang.
yuwana = slamêt, tulus.
yuyud = tali.
yumana = ati bêcik, lêganing ati. kayumanan: kaslamêtan.
yuga = yoga: bêcik, prayoga, anak, puja, tapa.
yun = arêp, kapengin. ngayun: ngarêp. pangayunan: ngarêpan. ayun uninga: arêp wêruh, kapengin wêruh. kayun: karêp. kayuyun: kasêngsêm.
yukti = yêkti: têmên, bêcik.
yungyun = sêngsêm, eram. kayungyun: kasêngsêm.
Nya
nyarawidya = nyoroh wadi, nyara wèdi.
nyarandu = mratani, ngratani.
--- 120 ---
nyakrawati = ngubêngi jagad.
nyawung = ambarêng, nganggit, ngêmban.
nyarwètèh = anèh, ora lumrah.
nyidhikara = nyidhikara: muja môntra.
nyitra = nulis, ngrupa.
nyintaka = kaya manuk cêkaklak.
nyu = ênyu: krambil, cêngkir.
nyudênta = ngênyu dênta: ngrambil gadhing, nyêngkir gadhing.
nyuluh = nyoloki, ngobori.
nyugata = nyuguh.
nyundaka = nêlik.
nyêrang = nêmpuh, nrajang.
nyêtha = ambadhe, ambatang.
nyênggut = nyêbrak, nyêndhal.
--- 121 ---
Ma
maha = luwih. maha agung: luwih agung. maha wikan: luwih priksa. maha tirta: banyu agung, banyu gêdhe. maha dwija: pandhita gêdhe. maha rasa: panah linuwih. maha jana: wong linuwih. maha japa: puja linuwih.
mahawan = ngambah, ngliwati.
mahat = mêrês, ngêpuh, nyaring sarana umob.
mahatma = wêkasan.
mahas = nusup, manggon ing pasêpèn.
mahyas = maèsi, ngrêngga.
mahya = alok.
maèswara = maiswara: ratu.
maèrtambang = mêtêng.
maom = muja.
mausadi = jamu, tamba.
maup = mêmule.
mana = ati. yumana: lêganing ati, ati bêcik. kayu manan: kaslamêtan.
--- 122 ---
manahên = nahan, ngampêt, nyandhêt, mênggak.
manaruhi = notohi.
manadukara = jumurung, anjurungi, ngrujuki, ambiyantoni.
manawung = nganggit, ambarêngi.
manawur = nyêbar.
manadha wara = matur.
manabda = calathu, kôndha.
manira = aku.
manitra = nulis.
manilib = nyilib, andhêlik.
maniyup = nyêbul, andamu, nepasi.
manik = sêsotiya. manikmaya: sêsotiya linuwih, sêsotiya gumilang. manik nawa rêtna: sêsotiyawarna sanga.
maneka warna = maneka-neka: warna-warna, mônca warna.
manèp = nglimpe.
manrang = nunjang, nêmpuh, nrajang.
manuwara = ngrêsêpake, tanduk manis, ngarih-arih.
--- 123 ---
manukma = nitis, nêlik, nyamun.
manundha = nungsun, ngundha.
manungku = mêlêng. manungku puja: mêlêng mêmuja.
manêkung = mêmuja.
manêbah = ngadoh. nêbak.
manêngkung = monêngkung: nyêrêng, mêsu, marsudi bangêt.
macarana = ngrêngga.
macu = nyikut.
mara = aku, ayo.
marawaya = mrawaya: mili, andalèwèr. marawayan, mrawayan: dlèwèran.
marikêlu = andhêkukul.
marindang = anggorèng.
maru = timbang, sisih, tandhing.
maruta = angin.
marêki = nyêdhaki.
makala = kancil.
madura = madu: lêgi.
--- 124 ---
madukara = kombang.
madubrata = kombang.
madya = sêdhêng, têngah, samadiya: sêdhêngan, gajah.
madya gantang = awang-awang.
madyantara = awang-awang.
mataya = anjogèt, ngigêl.
matis = adhêm, kadhêmên, krasa adhêm.
matyas = mikir.
masih = maksih. misih: isah.[15]
mawantu = mantu, ambantu.
mawra = warata.
mawèh = gawe.
mawur = sumêbar, nyêbar.
mawuk = murungake, ngamuk.
mawrung = mamprung.
mawêrdi = andadi, tulus.
malaya = lêpas, mlana, lêlana.
--- 125 ---
malat = nênangi, golèk. malatkung: nênangi susah, golèk susah. malat sih: golèk asih.
maleca = cidra. maleca ing jangji: cidra ing jangji.
malela = lêmbut.
maluya = bali.
malêtik = mancolot.
mla = mlê: kêcut.
maya = gumilang, bêning, padhang. maya-maya: gilang-gumilang.
mamak = lamur, picak.
mami = aku.
magut = nrajang, nêmpuh, narungi.
mabonglot = oncat, nglungani, ngoncati.
mangayu bagya = anjurungi, ngrujuki, ambiyantoni.
mangamêr = ngarih-arih, ngrêrapu.
manglah = lara.
mangu = mandhêg tumulih.
--- 126 ---
manguntur = sitinggil. manguntur tangkil: bangsal cilik ing sitinggil kanggo siniwaka.
mangimur = ngarih-arih, ngrêrapu, nglêlipur.
mangintya = ngincêng, nginjên.
mandana = ruwêd, bundhêt.
mandara = ngrêngga, maèsi.
mandari = mimi.
mandakini = bale kambang.
mandakiya = bale kambang.
mandata = madoni.
mandaya = nganggo piranti, maeka.
mandrawa = adoh.
mandira = mandera: wit waringin.
mandriya = mikir.
manduta = anduta: ngongkon, ngutus.
manduk = nuju.
mantya = luwih, bangêt. mantiyani: ngluwihi, sakamantiyan: ngluwihi, bangêt.
--- 127 ---
mantri wrêdha = mantri muka, mantri wisesa. mantri sesa: patih.
mandhaga = pantês.
mandhala = pulo, unèn-unèn, ênggon. mandhalasana: ênggon unèn-unèn.
mandhegani = manggêdhèni, nindhihi.
marna = ngrupa, ngrêngga, nganggit. marnani: rupa-rupa, ngrupakake, ngrênggani.
marca = uwong. marcapada: ênggon uwong, jagad. manusa pada: jagad.
markata = murub, ambranang, mêncorong.
mardawa = lêmês, alus. mardawani: nglêlêmêsi.
mardeya = gawe.
mardu = mêrdu: lêmês, alus.
martana = urip.
marta = adhêm.
martua = mara tuwa.
marpat = ngumpul, ngumpulake, nglumpukake.
marpêki = nyêdhaki, nyakêti.
--- 128 ---
maryana = ambudi.
marma = mula, wêlas. marmane: mulane. sumarma, pari marma: luwih wêlas.
marga = dalan. margalena: dalaning pati, dalane wong mati. samarga-marga: sadalan-dalan, turut dalan. marga suta: dalan bayi.
margana = angin, panah.
margadipa = marga pati: macan.
marbudi = nyipta, anggagas.
marbuk = sumrambah, warata, ngambar.
maksih = masih: isih.
matsika = klabang.
mas = patangatus. dhomas: wolung atus.
masma = angkêr.
masmu = sêmu.
mastuti = nyêmbah, ngabêkti, ngrujuki.
mancala = malik, malih. mancala putra: malik lanang. mancala putri: malik wadon.
--- 129 ---
manjanma = manjalma: nitis.
manjila = mêncil, andhewe, misah.
mangkara = gumêbyar. mangkara-kara: gumêbyar-gêbyar.
mangsêh = mangsah.
manggala = gajah, panggêdhe. manggalani: manggêdheni.
manggilut = ngudi, marsudi, mamah.
manggistha = manggis.
manggrui = nêmoni.
manggung = tansah, calon sêlir.
myang = sarta, karo, lan.
mranani = ngênani, nuju.
mracondhang = natoni, niwasi.
mradipta = murub, gumêbyar.
mrasada = anggêdhong.
mrawasa = ngrusak, nêmpuh, nrajang.
mrajaya = natoni, nêmpuh, nyuduk.
mrabawa = duwe prabawa.
--- 130 ---
miyarsa = krungu, ngrungu.
mina = iwak loh.
micapa = nubruk.
mirata = maras.
miraga = nglarani, gawe lara.
mirong = kêmul, masang, nganggo rimong.
miruda = minggat, lolos.
midosa = ngukum.
misrama = enak, mirasa.
misaya = miranti, golèk sarana piranti. misaya mina: golèk iwak.
miwah = sarta, karo, lan.
milangêni = malangoni:milangoni
gawe asri, gawe bungah, nyênêngake.
milir = ngèli.
miluta = ngarih-arih, mulasara, ngrêrapu.
miya = ngêndhoni.
miyatani = nyatani, nêmêni.
miyaga = miyagah, miyagahi: nguwasani.
--- 131 ---
miyat = nonton, andêlêng
minta = nglugas, anjaluk. mintaya: anjaluk. mintasraya: anjaluk tulung. minta raga: nglugas raga.
mimba = mêtu.
merang = isin, wirang.
mèdi = silit
mèsi = isi
mèpu = sumuk, panas, manasi.
mendaka = cêmpe.
mentar = mintar: lunga.
mèt = mèmèt: golèk.
mèstu = umèstu: nyêmbah, ngabêkti.
mènjèng = lonthe, kênès-mèndès.
moha = murka, kêthaha. drêmba-maha: drêmba tur kêthaha.
mohita = susah. kamoitan: kasusahan, nandhang susah.
moda = wêngku.
mojar = kôndha, calathu.
--- 132 ---
môndra = sugih, luwih.
mong = rimong, arimong: macan. mongging ranu: baya.
môngka = minôngka.
môngga = pisan, anggawêr, anggôndra, têgêg, datan môngga puliha: ora pisan pulih, ora anggôndra pulih.
muara = wêkasan, plabuhan.
munah = ngrusak, nglêbur.
munya = munya: muni.
muni = pandhita. muniwara: pandhita gêdhe. munindra: raja pandhita.
muram = nyimpang.
mure = modot. dirgamure: modot dawa.
muka = rai, mantrimuka: patih.
musika = tikus.
musrik = sêkuthu, madhani.
musus = nguyêg.
muwus = kôndha, nangis.
mudha = ênom. roning mudha: êlung. ratu mudha: ratu anom. mudha pangarsa: panggêdhe ôngka loro.
--- 133 ---
mundhing = kêbo.
murca = ilang, pisah, tiba. murcasing ngêmbanan: pisah saka êmbanan, tiba saka êmbanan.
murcita = klêngêr, sumaput, tiba.
murda = êndhas.
murti = cêcak, linuwih, tunggal. parimurti: linuwih, linuwih bangêt. trimurti: têluning atunggal. murti gung gora sabda: têkèk.
murba = nitahake. murbèng jagad: nitahake jagad.
muksa = musna, sirna anglês.
mungkar = ala.
mêne = saiki, mêngko.
mêjana = sêdhêng. dêdêg mêjana: dêdêg sêdhêngan.
mêlagar = ngobong, nglarag.
mêluk = ngrangkul.
mêta = ngamuk. gajah mêta: gajah ngamuk.
mêmêla = mêmêlas, mêlas asih.
mêrcu = marcu: gêni. mêrcon, mêrcon: dolanan kang mawa gêni.
--- 134 ---
mêpêk = mèh, andungkap.
Ga
gana = lanang, tawon.
ganal = agal, gêdhe.
gatra = êlèng.
gati = pêrlu, têmên, kêkêtêk, wigati: luwih pêrlu. anggatèkake: mêrlokake, nêmêni, tumêmên.
galiga = gliga: uci-uci.
galuh = prawan, wadon.
gapura = lawang, kori.
gadhung = ijo. gumadhung: ijo royo-royo, ijo ijone.
gagal = mrucut.
gagana = awang-awang.
gathita = êjam
gwah = mungguh, bab. gwah laksitaning jana: mungguh lakuning uwong.
--- 135 ---
gandya = wujud. gandyaning wônda: wujuding awak.
gandarwa = dewa, gêndruwo. gandarwa sura: dewa lanang.
gandês = pantês.
gantya = ganti.
gardaba = warak.
garjita = gagasan, angên-angên. anggarjita: anggagas, ngangên-angên.
garba = wêtêng, ringkês. garban: ringkêsan. ginarba: diringkês.
garbini = anggarbini: mêtêng.
gra = agra: pucak. sumêngka agraning wukir: munggah pucaking gunung.
grandim = jagung.
gya = banjur, nuli, enggal.
gambira = bungah, berag.
gambiralaya = sagara.
gambuh = dhamang, pintêr, prigêl.
gini = wadon: gana-gini: barange wong lanang wadon.
--- 136 ---
giri = gunung. wanagiri: alas pagunungan. girindra, giriwara: gunung gêdhe. girilaya: gunung bêbanjêngan, gunung kuburan.
girisa = kêkês, miris.
giro = gila: kagèt kêbogiro: kêbo kagèt (araning gêndhing).
gita = rikat, anggit. ginita: dianggit. gitaya: anggitan, gathèkan.
giwang = sêling.
gili = punthuk, gumuk, pulo. anggili prapta: kaya gumuk têka.
gile = tumbar, katumbar.
gilut = mamah, udi. manggilut: mamah, ngudi, marsudi.
giyota = prau.
griwa = githok, cêngêl.
gintungan = kusambi.
genda = dadah.
gora = gêdhe. gora sabda, goraswara: ambêngok, anggêro. gora pracôndha: prahara. goraya: luwih gêdhe.
goragadha = aru-biru, gludhug, umuk, pamèr.
--- 137 ---
gothaka = gêrbong, guwa, rata gothaka: kreta gêrbong, kreta tutupan, kreta pêtêng.
guna = kapintêran, pangasihan. kêna guna: kêna pangasihan. gunawan: kapintêran linuwih.
gunita = gunêm, rasan. ginitan: gunêman, rarasan. gumunita: anggunêm.
gutis = sikut.
guling = turu. gumuling: gumlindhing, gumlinting.
guluda = gorokan.
gupala = rêca.
gupita = budi, anggit. ginupita: diparsudi, dibudi dianggit.
gupuh = enggal.
gumulung = gumlundhung, glundhungan.
gubah = ronce, anggit. gubahan: roncèn. kagubah: kaanggit.
gundhala = trêbang.
guntur = gludhug.
gurnita = rame, gumuruh, gêlap.
--- 138 ---
gurniti = kilat.
gurnang = gong jumêgur.
gurda = kayu wringin, wit waringin.
gusthi = gunêm, rasan. ginusthi: digunêm, dirasani.
gul-gula = mênyan.
gung = agung: gêdhe.
gênêng = mênggêr, dhuwur, punthuk, gumuk.
gêrah = gludhug.
gêrot = bondhot, bulêd. alas gêrotan: alas bondhotan, alas gêdhe.
gêtêm = bêton kaluwih.
gêlar = tata. ginêlar: ditata. gêlaring prang: tataning prang.
gêpila = kêpila: putih.
gêmpang = sirna, rusak.
gêng-gêng = jèjèr-jèjèr.
grêndaka = banthèng kawak.
--- 139 ---
Ba
bahak = rayah. ambahak: ngrayah. ambêbahak: anjarah rayah.
bauwarna = gêlang.
bana = panah, alas gêdhe. banaarja, bana rêja, banarja: têgal, ara-ara.
banas = setan. banaspati: lêlêmbut gêni mêtu saka ing bumi.
banawa = prau.
bacira = alun-alun, ara-ara.
barong = gombyok. singa barong: macan duwe gombyok. barongan têtironing singa barong.
baruna = banyu.
barung = barêng. binarung: dibarêng.
baki = cèlèng.
basu = têkèk.
basuki = slamêt. andum basuki: andum slamêt.
bawana = jagad. tribawana: jagad têtêlu endrabawana: jagad linuwih. kadewan, kahyangan, suralaya.
bale = ambèn, omah. bale pustaka: gêdhong buku.
--- 140 ---
balendar = blèndèr: lunyu. blèndèran: lunyon, lonthe.
baluwarti = bètèng.
balênggi = blênggi: gombyok. blênggèn: nganggo gombyok.
badhong = pawadonan.
bajra = angin. bajrapati: prahara.
bayu = angin. bayubajra: prahara.
baga = pawadonan.
bagaskara = srêngenge.
bagya = bêgja, slamêt, bage. pambagya: pambage.
babu = biyung.
bathara = dewa.
bathari = widadari.
bathara gana = mega.
bathu = urun. bathon: urunan.
bah rubah = barubah: rusak. barubahing galih: rusaking ati.
bahna = banjir.
bahni = gêni.
--- 141 ---
bandana = beka, tali. kabandana: ditalèni.
bandarakan = padarakan: urakan. pidak bandarakan: turune wong urakan.
bantala = lêmah. bantala rêngka: nêla.
bandhung = gêdhe, sungsun. sumur bandhung: sumur gêdhe, sumur sungsun.
bangkit = bisa, pintêr.
baskara = srêngenge.
bagna = rusak, ilang, lêbur. bagnawirya: ilang kamuktène.
banjar = urut. bêbanjaran: urut-urutan. ambanjari: ngurut, mrênca.
bamban = wiwit.
bra = ratu, murub, ambranang, warata.
brana = barang, tatu. nandhang brana: nandhang tatu, kataton. rajabrana: rajaning barang, mas intên.
brakara = sulung.
brakithi = sêmut.
brata = laku, tapa. yogabrata: laku bêcik. tapa brata: laku tapa.
--- 142 ---
braja = gêgaman.
brama = gêni. bramastra: panah gêni.
bramantya = bramatiya: muring, nêpsu.
bramara = brêmara: kombang.
braminta = susah.
brahma = gêni.
brahmana = pandhita lanang.
brahmani = pandhita wadon.
brastha = rusak, lêbur.
brangti = susah, birai.
byantara = ngarêpan. ngabyantarane: ing ngarêpane.
byakta = yêkti, têmên. kabyaktan: kayêktènan.
byat = bwat: abot. kabyatan: kabotan.
bina = gila, anggilani. kabina-bina: kagila-gila.
birawa = bungah, muruh, luwih rowa.
birat = ilang.
bisama = wicaksana.
--- 143 ---
bisik = bisika: parab, juluk, jênêng. bêbisik: pêparab, jêjuluk.
bijang = pundhak.
bijaksana = wicaksana.
biyada = prawan, wong wadon.
biyas = pucêt, kucêm.
bima = anggêgilani.
bimana = abimana: linuwihing ati, ati bêcik.
bibi = biyung.
binda = tumpang. binda upaya: tumpanging paekan.
bintala = gandhewa.
biksa = lêlêmbut.
biksuka = sapi.
blitar = têmbaga.
blilu = bodho. bodho blilu: bodho bangêt. blilu tau: bodho nanging wis tau.
belu = jagang.
bèji = tlaga, sêndhang, blumbang.
bèngkas = ilang, rusak.
--- 144 ---
bolot = dhangkal, rêgêding awak. kokot bolot: gêbèl dhangkal.
boja = pangan. bojana: mangan. kêmbul bojana: pista. bojakrama: pasuguh, pambage.
boma = bomantara: awang-awang.
boga = pangan, rêjêki. sandhang boga: sandhang pangan. ngupa boga: golèk pangan.
bonglot = lunga, oncat. mabonglot: oncat, ngoncati, nglungani.
bônda = tlikung, tali, pêrang. bondawala: pêrang ijèn, pêrang tandhing. bondawala pati: pêrang ijèn rêbut pati. angrok bondawala pati: nglabuhi pêrang ijèn rêbut pati.
botrawi = sêndhang.
brôngta = birai, susah.
burat = borèh.
budaya = budi, pikir.
buwahpada = dlamakan.
buja = bau, tangan.
bujakara = kêlat bau.
--- 145 ---
bujôngga = ula gêdhe.
bumi = lêmah.
bungkul = wungkul: wutuh. bungkulan, wungkulan: wutuhan. sabungkul: sawutuh. wiji wungkul: wiji wutuh.
buntala = panah, gandhewa.
bêsta = bonda. kabêsta: kabonda.
bêntar = dhuwur. sitibêntar: sitinggil.
Nga
ngacari = ngancari: ngaturi.
ngacarani = ngancarani: ngaturi, ambagèkake.
ngacintya = andhêmêni.
ngaras = ngambung.
ngarip-arip = ngarêm-arêmi. pangarip-arip: pangarêp-arêp.
ngadiraga = ngasrèni awak, manganggo bêcik.
ngadiyah = ngluwihi.
ngawiyat = awang-awang.
--- 146 ---
ngalika = nêlik.
ngalul = ngulinakake.
ngalunapung = tansah nêpsu, têrus nêpsu.
ngapilangên = nyumbana.
ngayap = ngiringake, ngadhêp, ingayap: diiringake, diadhêp.
ngayubagya = jumurung, nayogyani.
nganyut = andudut. nganyut driya: andudut ati. nganyut tuwuh.
ngamandaka = gawe-gawe, doracara.
ngamêr = ngarih-arih, nglêmêsi, ngênêng-ênêngi.
ngandani = ambêciki.
ngantaka = matèni.
ngantyani = nganti, manganti: ngêntèni.
ngandhêmi = ngrungkêbi.
ngranuhi = saya krasa, muwuhi.
ngratika = nyipta.
ngrajaniti = ngadili.
ngrantam = nata, ngrancang, anggladhi, ngulinakake.
--- 147 ---
ngrantêg = ngiyêg-iyêg.
ngrancana = anggodha, nganggit, ngrêngga.
ngrancaka = ribêd.
ngaksi = nonton, andêlêng.
ngascaryani = anggumuni, ngeram-eramake.
ngastawa = nyêmbah, ngabêkti. pangastawèng ulun: pangabêkti kula.
ngastuti = nyêmbah, ngabêkti. nawala kanthi pangastuti hamba: sêrat saha pangabêkti kula.
ngasthaka = anggayuh, ngangkah.
nglancari = nglêpasi.
ngisapu = mangku.
ngimur = nglimur: nglipur, ngarih-arih.
nginte = nginjên. juru panginte: mata-mata, têlik.
ngisthawa = nyana.
ngimpun = ngumpulake.
nginggut = mlirik, nglirik, mlerok.
ngripta = nata, nganggit. pangripta: panata, panganggit, pangarang.
--- 148 ---
ngling = kôndha, calathu.
ngrima = anjambak.
ngèstrèni = anjurungi, ngrujuki, nêksèni.
ngèstupada = ngabêkti.
ngèpi = nyêbari.
nguni = biyèn, dhisik.
nguniwèh = utawa.
ngucup = ngucupi: nglêpasi. ingucup: dilêpasake.
nguruh = ngunthuk.
ngudara = mêtêng.
ngudakani = ngilèni banyu.
nguswa = ngambung.
ngulul = ngrêngga. pangulul: pangrêngga.
ngupadi = ngupaya, golèk, anggolèki.
ngujwala = sumorot.
ngujiwat = awèh ulat. ngujiwati: tansah awèh ulat. pujiwati: wong kang gawene awèh ulat.
--- 149 ---
ngumala = sumorot.
ngênguwung = sumorot, gumêbyar.
ngrujit = nyuwèk, nyuwir, nganggit.
ngrurah = ngrusak.
nglut = ngoyak, amburu, ngêsuk.
ngumbara = ngambara: mabur.
ngrumpaka = ngrupaka, rumapaka:[16]
nganggit, ngrêngga.
ngungkih = ngangkah, ngarah.
ngrompak = ambègal, ambajag.
ngong = aku.
ngongkal = nyongkèl, ambungkar, andhungkar.
ngêla-êla = ngeman-eman, andama-dama, ngalêmbana. ingêla-êla: didama-dama, dialêmbana, dieman-eman.
ngêmasi = mati.
ngêntar = ambegal.
ngênting = êntèk, ngêtog.
ngêndhanu = anggamêng.
--- 150 ---
ngênjali = mangênjali: nyêmbah.
ngêmbun = mundhi.
ngrêngih = ambrêngêngêng, rêngêng-rêngêng, ngidung.
ngrêmbaka = kêtêl, ngrêmbuyung, ngrêmpoyok.
ngrênggêp = nyêkêl.
--- 151 ---
Pathibasa: Kawi - Jarwa.
2. Pratelan namaning kewan-kewan.
anauti = cacing.
arina = kidang.
arimong = macan.
alwang = kalong.
andaka = banthèng.
andini = sapi.
ardawalika = ula.
astati = rayap.
asti = gajah.
asmana = pikat.
asthi = gajah.
anjana = gajah.
angsa = banyak.
anggas = ibêr-ibêran.
ituwa = luwing.
uta = lintah.
ujêl = wêlut.
nauti = cacing.
naga = ula.
nagapati, nagaraja, nagaji, nagendra = ratuning ula
nitêh = ulêr.
cakarwa = mliwis putih.
caga = bêburon.
canthoka = kodhok.
cintaka = manuk cêkaklak.
cucur = manuk kêdhasih.
ramaja = bajing.
--- 152 ---
rimong = macan.
rewônda = kêthèk.
rêkatha = yuyu.
karaca = kijing.
karêndhi = mênjangan tutul.
kariti = sêmut.
kaka = gagak.
kaswada = kalong.
kawêwang = mêrak.
kaga = manuk.
kambing = wêdhus.
kratalasa = bulus.
kramika = ulêr.
kyama = pênyu.
kitiran = pêrkutut.
kejani = lutung.
kukila = manuk.
kuda = jaran.
kutu = tuma.
kuthila = kêthèk.
kurma = pênyu, bulus.
dirada = gajah.
dipara = gajah.
dipôngga = gajah.
durma = macan.
tanu = blungon.
tala = tawon.
tamuhana = prênjak.
tidharsa = manuk kêdhasih.
turôngga = jaran.
sata = pitik.
sawaja = bêlo.
sawung galing = jago atos.
salaba = laron, sulung.
--- 153 ---
samadya = gajah.
sardula = macan.
sarpa = ula.
sadpada = kinjêng, kombang.
srawa = sêmut.
swakuda = jaran.
singanadi = bajul.
singaranu = baya.
slira = mênyawak.
sukra = cèlèng.
sundara = bêkisar.
srênggala = asu ajag.
wanara = kêthèk.
wayasa = gagak.
wanteya = manuk garudha.
wardu gangga = lintah.
wancak = walang.
wraha = cèlèng.
winaya = anggang-anggang.
widhêng = [...][17]
wiyôngga = kodhok.
wriga = kidang.
wre = kêthèk.
wuling = uling.
wêca-wêca = kongkang.
wêgang = tikus.
wêrcita = cacing.
wêrka = ulêr.
wêrjit = cacing.
larwan = laron.
layap = rayap.
landhi = mênjangan ranggah.
larwa = gangsir.
lowe = luwing.
--- 154 ---
lusi = cacing.
lêmbi = walang.
lêmbora = iwak tômbra.
palwaga = kêthèk.
pracika = kala jêngking.
pragosa = kêthèk.
pusika = kucing.
dhandhang = gagak.
dhangdhi = gogor.
makala = kancil.
madukara = kombang.
madubrôngta = kombang.
mandari = mimi.
margapati = macan.
matsika = klabang.
manggala = gajah.
mendaka = cêmpe.
mong = macan.
monging ranu = baya.
musika = tikus.
mundhing = kêbo.
murti = cêcak.
murti gung gora sabda = têkèk.
gana = tawon.
gardaba = warak.
grêndaka = banthèng kawak.
baki = cèlèng.
basu = têkèk.
brakara = sulung.
brakatha = [...][18]
brakithi = sêmut.
bramara = kombang.
biksa = lêlêmbut.
--- 155 ---
biksuka = sapi.
bujôngga = ula gêdhe.
3. Namaning Peranganing Badan, Pangangge, sarta Rêrêngganing Badan.
asa = pawadonan.
asada = ilat.
antêlu = êndhog.
irah = jêrowan.
iku = buntut.
istadha = bathuk.
udara = wêtêng.
utamangga = êndhas.
usnipa = tutup gêlung.
anggas = gadhing.
nadya = bêbayu.
nasika = irung.
nala = ati.
nabi = wudêl.
nandi = bêbayu.
netra = mata.
newata = panganggo.
nêbah = tlapukan.
carana = athi-athi.
carma = walulang, kulit.
caksuh = suluhan.
curiga = kêris.
cuni = panunggul.
cêmbing = jenggot.
rajatadi = mas intên.
riwe = kringêt.
--- 156 ---
ruwastha = ugêl-ugêl.
rukmi = êmas.
kaosmurda = kêthu.
karêndar = sungsum.
kaki = sikil.
kawaca = kaprabon.
kawanda = gêmbung.
kalingking = jênthik.
kale = pênding.
kalêntit = itil.
karna = kuping, sungu.
karni = ambaning kuping, sungu.
kalpa = ali-ali.
kalpika = ali-ali.
kalbu = ati.
kisi = kancing gêlung.
keswa = rambut.
kocika = palanangan.
koce = sondhèr.
koswa = panganggo.
komis = brêngos.
kurug = kalung.
kurita = rante.
kukya = kuku.
kêning = alis.
dara = wêtêng.
darani = caping.
drastha = makutha.
drasthi = alis.
driya = ati.
dênta = gadhing, untu.
tatab = kêbuk.
taling = kuping.
tyas = ati.
--- 157 ---
tiwe = swiwi.
tungkat = têkên.
têkit = cêthik.
sarija = itil.
sadak = kancing gêlung.
salemuka = pilingan.
sandhang walikat = kêris
sardala = siyung.
sikara = tangan bau.
singsim = ali-ali.
sèntèl = kempol.
sonya = suwêng.
suweda = driji.
sulaksana = awak.
sulastri = patrêm.
sêlah = kêmbên.
wacu = klambi.
waju = klambi.
waga = pawadonan.
wanda = awak.
wardaya = ati.
waktra = rai.
wastra = jarit.
waspa = êluh.
wiso = usus.
wismaka = kêthu.
wèni = rambut.
lanat = cucuk.
lak-lak = têlak.
lidhah = ilat.
lik-lik = sêntil.
locana = pasuluhan.
ludaka = cêthik.
--- 158 ---
ludira = gêtih.
ludhaha = idu.
lungaya = gulu.
lêmak = gajih.
pani = godhoh.
panika = palanangan.
pacu = sikut.
pada = sikil.
paduka = sikil.
palam = daging.
payudara = susu.
paksa = uwang, swiwi, bau.
pranaja = dhadha.
praswa = githok.
prastha = githok.
prasthi = alis.
prambayun = susu.
puhun = jêmpol.
purus = palanangan.
pêrot = usus.
dhara = wêtêng.
dhiri = awak.
dhêsthi = alis.
dhrêstha = siyung.
jalagra = riyak.
jaludha = gadhing.
jatha = siyung.
johar = sêsotiya.
jêngku = dhêngkul.
manik = sêsotiya.
mirata = maras.
mèdi = silit.
muka = rai.
murda = êndhas.
--- 159 ---
gliga = uci-uci.
griwa = cêngêl.
gutis = sikut.
guluda = gorokan.
bauwarna = gêlang.
badhong = pawadonan.
baga = pawadonan.
bijang = pundhak.
burat = borèh.
buwahpada = dlamakan
buja = bau
bujakara = kêlat bau
4. Namanipun Têtuwuhan, Sêsêkaran sarta Sowohan
alaya = jae
agêr-agêr = ganggêng
ambawang = pakèl
canga = lombok
cêndhani = cêndhana
cêthèthèt = kêcipir
ratuh = lumut
rayung = glagah
rangin = dhadhap
randhêh = randhu
risakan = kiring
rondhon = godhong
rutan = pênjalin
rêwawa = luntas
kêkatang = sukêt
kalurak = kapundhung
--- 160 ---
kamal = asêm
kamijara = sêre
kroya = waringin
kunira = kunir
kuranji = asêm
kurita = oyod
kusuma = kêmbang
kumuda = kêmbang tunjung
kêtur = cêndhana
kêndhuru = wit gêndhuru
dukut = sukêt
duryan = durèn
tahên = kayu taun
taratya = wit trate
taru = godhong
taruwara = kêkayon
tarkas = endhong
tangke = êpang
tilarsa = lêmpuyang
timuna = timun
trêna = êlung
sahang = mrica
saing = cabe
sarasidya = kêmbang trate
sari = kêmbang
salatara = woh mlandhingan
singgang = poke dami
sumarsana = kêmbang kanthil
sêrah = suru
warêgung = gudhe
wratsari = kêmbang cêpaka
wratmaka = kêmbang gambir
winata = kêmbang tunjung
wila = maja.
--- 161 ---
wilaja = maja alas.
wipanca = dlima.
wot = oyod.
wulon = rambutan.
wêtis = pace.
wêlada = êlo.
wrêksa = kayu.
lata = oyod.
latuha = lumut.
latang = latêng.
lalang = alang-alang.
ladha = lombok.
limaya = jêruk.
limus = timun.
limbe = kimpul.
luda = tlutuh.
lêngis = waru.
parai = timun.
patra = godhong.
pala = uwoh.
palarêkta = bolu.
pantên = pari.
pandhana = pandhan.
padma = kêmbang tunjung.
pudhaka = kêmbang pandhan.
puspa = kêmbang.
puspakrêsna = tlasih.
puspita = kêmbang.
dhadhak = tlutuh.
dhukut = sukêt.
jirak = kapundhung.
jugul = boncis.
jêring = jèngkol.
nyu, ênyu = cêngkir
--- 162 ---
mandira = wit waringin
manggistha = wit manggis
grandim = jagung
gile = katumbar
gintungan = woh kusambi
gêrot = bondhot
gêtêm = bêton kaluwih
gurda = kayu wringin

Hak Pengarang Kaayoman Staatsblad. Sêrat punika bilih tanpa tôndha tangan, botên afsah kawontênanipun
Boekh S. M. DIWARNO