Jumat, 07 November 2014

Merapi

Outbond dengan LeTo dan bB-Organizer
Sabtu, 01 November 2014 08:00:14 Fotografer: M Safuan/bB-GtS

Tim dari LeTo dan bB-Organizer yang berada di bawah Blok Media Promosindo (BMP) group yang mendampingi studi banding dan peningkatan kapasitas aparatur desa se Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro, mengajak seratusan peserta outbond di kompleks Villa Taman Eden 2 di Jalan Kaliurang yang hanya beberapa kilometer dari Gunung Merapi. Tampak, peserta ceria dengan game ringan yang mengutamakan kekompakan di tim.



Menyusuri Sisa Erupsi Merapi
Sabtu, 01 November 2014 11:00:26


Fotografer: Safuan/bB-GtS

Untuk melihat kondisi dari dekat bagaimana warga di sekitar Gunung Merapi melanjutkan hidup pasca erupsi, seratusan aparatur desa se Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro, menyusuri jalanan dengan jeep yang disediakan oleh warga setempat. Lava Tour, begitu biasa disebut mendekatkan pengunjung dengan sisa-sisa erupsi di tanah Mbah Marijan, tokoh setempat yang mashur. 




Menikmati Keindahan di Sekitar Merapi
Sabtu, 01 November 2014 12:00:30 Fotografer: Safuan/bB-GtS

Setiap lokasi yang dilalui jeep, peserta studi banding dari Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro, tidak ingin melewatkan. Kades, Sekdes, BPD dan Bagian Keuangan, serta pejabat di tingkat kecamatan, dengan seksama mengamati bangunan yang hancur, warga mencari rumput, penjaga portal yang dilalui jeep, sampai yang berjualan di museum erupsi Merapi. Di ujung rute Lava Tour, tampak keindahan di sekitar Merapi, tepatnya di samping bungker untuk pengaman erupsi.     
 
 
 

Kamis, 06 November 2014

Pelaporan Akun Facebook Kang Zen Samin , Polres Masih Periksa Saksi

 Polres Masih Periksa Saksi
Reporter: M. Yazid

blokBojonegoro.com - Terkait laporan Imam Wahyu Santoso, warga Kelurahan Mojokampung Kota Bojonegoro, yang melaporkan akun facebook Kang Zen Samin terkait dugaan pencemaran nama baik. Pihak Polres Bojonegoro masih memeriksa beberapa saksi, terkait laporan tersebut.

"Kasus ini masih akan terus berlanjut, saat ini kami masih harus memeriksa saksi terlebih dahulu. Termasuk memastikan pemilik akun (Kang Zen Samin)," kata Kapolres Bojonegoro AKBP Ady Wibowo, Kamis (6/11/2014).

Dijelaskan, masih proses pemeriksaan pelapor tekait kasus yang dilaporkan ke Polres Bojonegoro. Selain itu, Kapolres juga akan memeriksa pemilik akun tersebut.

Meskipun sudah diselesaikan kekeluargaan, kasus tersebut bisa saja dilanjutkan. Pasalnya ada beberapa unsur dalam laporan kepihak kepolisian, memberikan manfaat, keadilan dan kepastian hukum.

"Agar terlapor tidak mengulangi perbuatannya dan demi keadilan," imbuhnya.

Seperti yang diberitakan blokBojonegoro.com, Imam Wahyu Santoso yang juga pegawai Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro itu, melaporkan akun facebook, Kang Zen Samin. Sebab dalam status yang diupload di akun facebook tersebut membuatnya merasa kurang nyaman.

Dalam akun Kang Zen Samin, tertulis Imam Wahyu Santoso, diubah menjadi Imam Wes Suloyo. Laporan tersebut diterima Kanit SPK Polres Bojonegoro, laporan Imam WS ini langsung dilanjutkan ke Bagian Reskrim Polres Bojonegoro. Tetapi laporan tersebut masih terus diselidiki dan akan memanggil terlapor untuk dimintai keterangan. [zid/ana]

Merasa Dicemarkan di Facebook, Lapor Polisi



 Merasa Dicemarkan di Facebook, Lapor Polisi
Reporter: M. Yazid

blokBojonegoro.com -
Imam Wahyu Santoso, warga Kelurahan Mojokampung Kota Bojonegoro, mendatangi Polres Bojonegoro, Rabu (5/11/2014). Pegawai Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro itu, melaporkan adanya dugaan pencemaran nama baik.

"Saya melaporkan akun facebook, Kang Zen Samin. Sebab dalam status itu saya merasa kurang nyaman," ujar Imam Wahyu Santoso.

Ditambahkan, dalam akun Kang Zen Samin, tertulis Imam Wahyu Santoso, diubah menjadi Imam Wes Suloyo. "Saya tidak tahu masalahnya, yang jelas tidak ada masalah pribadi," sambungnya usai keluar dari uang SPK Polres Bojonegoro.

Menurutnya, ia dengan terlapor berteman baik. Selain itu, disinggung terkait permasalahan festival bengawan, ia mengaku tidak ada hubungannya. Pasalnya dalam kegiatan perayaan Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke 337 itu  diselenggarakan sesuai aturan.

Setelah diterima Kanit SPK Polres Bojonegoro, laporan Imam WS ini langsung dilanjutkan ke bagian Reskrim Polres Bojonegoro. Tetapi laporan tersebut masih terus diselidiki dan akan memanggil terlapor untuk dimintai keterangan.

Data yang didapat blokBojonegoro.com, dalam akun facebook Kang Zen Samin tertulis :

Imam WS = Imam Wis Sulaya. Ia pejabat yg menjadi trouble maker dalam kegitan Festival Bengawan Bojonegoro. Pria ini pernah berkeinginan kuat menjadi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro.

Andai saja ambisinya terpenuhi, sudah barang tentu kebudayaan di Bojonegoro makin amburadul.

Pria ini terakhir kali ingin menjabat staf ahli bupati Bojonegoro.

Ia punya motif menghambat kegiatan Festival Bengawan Bojonegoro karena kegiatan ini tahun depan anggarannya makin besar dan ia ingin meyerahkan projek ini ke event organizer tertentu.

Pejabat kayak gini, menurut saya, sebaiknya segera dipensiun dini. [zid/ana]

Senin, 01 September 2014

FACE BOOK SEBAGAI WAHANA PEMERTAHANAN BAHASA IBU

gampang-prawoto.blogspot.com


MAKALAH SEMINAR INTERNASIONAL BAHASA IBU DI BALAI BAHASA BANDUNG, 18-19 Agustus 2014
FACE BOOK SEBAGAI WAHANA PEMERTAHANAN BAHASA IBU : GEGURITAN
ESTI ISMAWATI

UNIVERSITAS WIDYA DHARMA KLATEN

ABSTRAK

Makalah ini akan mendeskrpsikan peran face book dalam pemertahanan bahasa ibu dalam bentuk geguritan berbahasa Jawa. Pertanyaan yang akan dijawab adalah : (1) mampukah face book menjadi sarana pemertahanan bahasa ibu (bahasa Jawa)?. (2) Bagaimanakah bentuk geguritan dalam face book?. (3) Layakkah geguritan dalam bahasa Jawa itu dikatakan sebagai karya yang bernilai sastra?. Metode yang digunakan adalah deskriptif inferensial, yakni mendeskripsikan geguritan dalam face book yang dimuat dalam bulan Maret 2014 hingga bulan Mei 2014. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa: (1) face book mampu dijadikan sarana untuk pemertahanan bahasa ibu (bahasa Jawa) karena face book merupakan media jejaring sosial yang murah dan meriah. Penyair atau penulis tinggal mengunggah karyanya di face book tanpa harus menunggu kapan dimuat. (2) bentuk geguritan yang ada di dalam face book sangat beragam tema dan bentuknya, sangat menarik isi atau pesan yang ditulisnya, dan sangat indah bahasa Jawa yang digunakannya. (3) geguritan dalam bahasa Jawa yang dimuat di face book sangat layak dimasukkan dalam kategori karya sastra yang bermutu, yang mengandung nilai-nilai sastra yang sangat beragam, dan dapat dijadikan sebagai bahan ajar dalam pembelajaran bahasa ibu bahasa Jawa. Dengan kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa bahasa ibu (bahasa Jawa) tidak akan tenggelam bahkan diduga akan terus dapat hidup subur karena selalu digunakan dalam kehidupan masyarakat modern (masyarakat sekarang) hingga kapan pun jika bahasa tersebut tetap digunakan dalam media sosial.
Kata kunci : face book, bahasa ibu (Jawa), geguritan.

Pendahuluan
Di era hightech sekarang ini dunia terasa kecil karena batas-batas antar negara tiada lagi setegas dulu. Bahkan batas-batas itu hilang dengan munculnya teknologi komunikasi dan informasi yang cepat dan murah seperti face book, twitter, whassap, instagram, dan seterusnya yang menjadi ciri kehidupan modern. Tak pelak lagi, bahasa dunia yang digunakan tentulah bahasa negara-negara adi daya, bahasa Inggris. Kita pun menjadi was-was, mampukah bahasa ibu (bahasa daerah) terus bertahan di era modern ini?. sebagaimana diketahui bahwa kelangsungan hidup suatu bahasa sangat dipengaruhi oleh seberapa besar bahasa itu digunakan oleh komunitasnya. Peran bahasa ibu (bahasa etnik pun) mulai terpinggirkan. Padahal bahasa daerah atau bahasa ibu adalah bahasa cinta kasih, bahasa watak kita yang pertama, bahasa komunitas yang pertama. Dan kita pun khawatir bahasa ibu kita akan tenggelam. Apakah kekhawatiran akan tenggelamnya bahasa ibu (dalam hal ini bahasa Jawa) betul-betul menjadi kenyataan?. Berikut ini hasil survei yang saya lakukan di media jejaring sosial face book selama tiga bulan, dari bulan Maret hingga bulan Mei 2014. Dari survei selama tiga bulan di face book, ternyata bahasa ibu digunakan oleh pengguna fb untuk berceloteh, solilokui, atau ungkapan-ungkapan motivasi diri yang berupa kalimat-kalimat pendek seperti berikut ini :
“nyakseni kule ing setuhune boten wenten pengeran kangden sembah anging Allah, lan nyakseni kule ing setuhune Kanjeng Nabi Muhammad niku utusane Allah”. (Muhammad Rois Rinaldi).
“ning dunya pira suwene, njur bali ing panggonane, ning akherat iku sejatine, mung amal becik, sangune aja ngucap bodho ya ben golek elmu kudu telaten”. (Wong Sien Thing). “ana sega mambu, nalika omah joglo, arang sinawang, angel tinemu. Apa pawangsulan, nalikane putra wayah, aweh pitakonan, kamangka, gaplek, karag lan karuk, bacut diurupake dolar”. Bojonegoro,18052014. Joglo. (Gampang Prawoto). anak-anakku sing apik2, tinimbang melu kisruh nghibah pilpres, melu pae wae: ngaji, dzikrul ghofilin, lan ziarah makam. ndadani atine dhewe wae. kabeh wis ana sing ngatur. sering-sering ziarah, ben eling yen awake dhewe bakal mati. lan yen wis mati, mengko ana sing ngenang apa ilang keterak lakune zaman”.
(Kusprihyanto Namma).


Hasil Penelitian dan Pembahasan
Penelitian ini berlangsung selama tiga bulan, yakni mulai bulan Maret sampai dengan Mei 2014. Dari kurun waktu tersebut ditemukan lima penulis geguritan yang sangat produktif menulis geguritan dalam bahasa ibu yang menjadi status-status mereka, yakni Dyah Sekartadji, Susilaning Hardjono, Yanti S Sastro Prayitno, Arieyoko, dan Gampang Prawoto. Yang terakhir ini tidak aktif. Data penelitian berupa geguritan. Geguritan yang diunggah di face book dibaca berulang-kali lalu dianalisis. Sebagai catatan bahasa ibu yang digunakan dalam fb bukan hanya dalam bentuk geguritan, namun juga dalam bentuk celoteh, berbagai bentuk ungkapan, dialog-dialog singkat, dan kata-kata mutiara. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa geguritan dalam face book itu dapat diklasifikasikan ke dalam kategori-kategori, sebagai berikut :
Kategori pertama, kategori pernyataan deskriptif. Kategori ini meliputi berbagai bentuk pernyataan tentang diri, tentang keadaan, tentang rasa hati (renjana), tentang dialog dengan diri sendiri (soliloqui) sebagaimana tampak pada geguritan-geguritan di bawah ini :

SURASANING ATI
Apa sejatine kang mbok lari / perang kurusetra wis lawas purna..
gendhewamu wis putung ajur sakwalang-walang...
apa isih guna,warastra-warastra kang tharik-tharik mbok tata
Apa sejatine kang mbok gantha? / menawa atimu wus rojah-rajeh tan mangga puliha...
tatu arang kranjang lan luntaking ludira / wus kuwawa gawe semplah jangkahira..
Nanging, yayi sliramu durung palastra.../ Isih kudu kokpecaki lurung-lurung dawa...
nadyan kanthi perihing ati / nadyan kanthi tatuning nala....
Memujia yayi.../ isih ana katresnan jati
kang nganthi kamulyan ing donya temekeng delahan
Semarang, 5 Agustus 2012. Yanti S Sastro Prayitno

Geguritan di atas berisi dialog antara aku lirik dengan seseorang yang disebut ‘yayi’ atau adik. Ia menanyakan apa sebetulnya yang akan dicari ketika perang telah usai dan luka telah menggores di sekujur tubuh jiwa dan raga?. Aku lirik masih optimis bahwa masih ada cinta yang sejati dalam kehidupan dunia hingga akhirat. Geguritan berikut ini adalah deskripsi keadaan pagi hari dipadu dengan suasana hati yang mencinta :

GURIT PARAK ESUK
Ing sepining parak esuk iki / bukaken korining tyasira Kangmas
sun kepengin leledhang ing impenmu / bebarengan lelayaran ing samudraning kalbu
Ing beninge bun-bun ing gegodhongan iki / sun titip kapangku
nadyan bakal sirna dening sunaring bagaskara / sesuk esuk bakal bali ngabyantara
Ing reseping angin esuk iki Kangmas / sun titip donga-donga suci
sumundhul ing ngawiyat / rumesep jroning ati / muga tresnaku-tresnamu tansah manggihi margi / tumuju karahayon sejati
Yogya, 12 Mei 2014. Yanti S Sastro Prayitno

Meski masuk kategori deskriptif, geguritan di atas bukan hanya mendeskripsikan keadaan pagi hari. Yanti S Sastro Prayitno juga berdoa agar cintanya selamat sampai pada kebahagiaan yang sesungguhnya, bukan kebahagiaan semu sebagaimana embun yang akan sirna jika terkena sinar mentari. Deskripsi mengenai suasana pagi hari juga tampak pada puisi yanti berikut ini :
“Saben ing bang wetan wus rantak-rantak kapuranta / aku setya ngenteni ing korining tresna
mapag tekamu nganthi prasetya / senadyan dalan rumpil jurang jero kebak bebaya
jer iku marganing mulya / jangkahmu tetep tumata
Rikala lintang panjer rina isih andher ngabyantara / elingen kangmas
aku isih setya ngrakit ukara / tambaning nala kang kapidhara
ing dina-dina kang kebak paeka
Lan rikala bagaskara wus leledhang ing akasa
ing kene aku tetep angranti marganing katresnan jati”.
Smg, 19052014. Yanti S Sastro Prayitno.

Kategori kedua, adalah geguritan sebagai alat pengungkap perasaan : cinta, kesetiaan, pengabdian, ketualusan, doa, dan seterusnya. Puisi berikut ini adalah ungkapan kesetiaan seorang perempuan (aku lirik) kepada seorang lelaki yang dicintainya. Bahasa yang digunakan dalam geguritan ini adalah bahasa Jawa sehari-hari tanpa gaya bahasa yang penuh bunga-bunga (sebagaimana yang sering digunakan dalam ‘nyandra’) sehingga geguritan ini mudah dipahami dan enak dibaca. Doa yang dipanjatkan kepada Tuhan pun serasa meresap dengan bahasa Jawa dalam geguritan di bawah ini :

DONGA WENGI
Atise wengi iki / ing sisaning udan wayah sore / ngregem kangen nabet ing ati / njalari wengi saya tintrim lan sepi / Ing sumribiting angin wengi iki / suntitip kapanging ati / kang tumus saka katresnan jati / nyawiji ing raos syukur mring Gusti
Dhuh, Gusti kang ngratoni tresna / ing wengi iki kepareng sun memuji
Paringana dalan lempeng lan suci / nyawijining ati loro kaiket ing janji
bebarengan gandheng kunca leladi / ngudi kuwajibaning titah
ing donya nganti alam sapupute iki
Meteseh, 21Mei 2012. Yanti S Sastro Prayitno.

GURIT KANGEN
Ing miditing angin wengi / Sun titip kapangku iki / Kekepen in dhadhaning ratri / dimen ngancani jroning ngimpi / Ing sepining dalu / Aku isih ngrakit kangen ing kalbu
Kepengin tak tali ing atimu / Dimen bisa ngancani nendramu / Dhuh, wengi kang edi / Geneya atiku datan kuwawa / Nduwa brantaning tyasiki / Nglari katresnan jati
Ing telenging ratri / sun titip donga lan pepuji / dadia mustika kang edi
ndayani katresnan sejati / Ing sepining angkasa / rungakna tembang asmarandana
tumiyub binarung sumribiting maruta / nganthi tresna kang nyata / Senadyan mung ukara
dadiya marganing mulya / karakit kanthi tulusing nala
mung kanggo sliramu, Kangmas paraning sedya
aja nganti lirwa ing kupiya / mugi Gusti tansah njampangi karsa / tan ana kupiya kang muspra
Semarang, 22 Mei 2014. Yanti S Sastro Prayitno

DONGA TRESNA ING WANCI RATRI
Rikala ratri wus prapta / wengakna korining nala / tumiyub endahing ukara
ngrakit reroncen donga / tumuju kang maha mulya / Rikala sepi sumusup jroning wardaya
biraten rasa sungkawa / jer urip pancen kebak rubeda / teteg tatag aja tidha-tidha
tumiyub donga kabuncang ing maruta / sumundhul ing ngawiyat ngabyantara mring kang maha kuasa / Ing wengi puniki / aja lali nganthi katresnan sejati / dimen tansah den ayomi
dening Gusti kang maha suci. Semarang, 25 Mei 2014. Yanti S Sastro Prayitno.

DONGA WENGI
Ing telenging ratri / sun titip donga lan pepuji / dadia mustika kang edi
ndayani katresnan sejati / Ing sepining angkasa / rungakna tembang asmarandana
tumiyub binarung sumribiting maruta / nganthi tresna kang nyata
Senadyan mung ukara / dadiya marganing mulya / karakit kanthi tulusing nala
mung kanggo sliramu, Kangmas paraning sedya / aja nganti lirwa ing kupiya
mugi Gusti tansah njampangi karsa / tan ana kupiya kang muspra
Semarang, 27 Mei 2014. Yanti S Sastro Prayitno

DONGA TRESNA ING WANCI RATRI
Angin semribit nyangking pawarta / pari-pari wus padha mrapu
udan wus arang tumiba / wangi sekar mlathi angambar ngebaki ratri
Wengine saya temuwa / kartika abyor padha seba
ngrenggani angkasa tanpa mega / muji syukur mring sang maha kuasa
Ing desa klairan / sepi kadya widadari tetembangan
ngumandhangake sekar asmarandana / rumambat rumesep jroning kalbu
sinawung miditing angin dalu / dadia sangu impenmu.
Semarang, 25 Mei 2014. Yanti S Sastro Prayitno.

AMPYAK AMPYAK SUKOWATI
kadya iring iringan perjurit / mangkubumi bedah kutha ngoyak kumpeni
blangkon, surjan lurik dadi seksi / keris, tombak lan tameng dadi aji
para satriyo narapraja tumplek dadi siji / mbelani negeri nyawiji rakyat bela pati
nyawiji Pangeran Mangkubumi / mandegani ampak ampak Sukowati
delengan surya sumirat ngawe-awe / bedah bumi praja merdhiko
sayuk rukun saeka kapti / marak sowan ngabyantara / caos upeti nyawa
lan tetesing ludira / kagem kuncarane negara / mbangkang tan sudi dadi gedibale walanda
(sugeng ambal warsa 27 Mei 2014 kutha Sragen Asri).
sragen , 27 Mei 2014. Sus S Hardjono.

DLUWANG JINGGA
Geneya durung prapta / Geneya isih semaya / Apa ora trewaca ing kana
Gurit katresnan ing dluwang jingga / Sing saben sore dak anggit bareng sumilire samirana
Nalika sonya anelahi mega / Kotabumi, lingsir sore. Dyah Sekartaji

LINGSIR WENGI
Lingsir wengi binarung sepi / Eling nalika kaaras pipi
Lan kok geget lathi / Kaya-kaya isih wingi uni
Miyak ati mecaki wengi / Ndlidir pindha laku kawuri
Kang linambar arum gandaning mlathi / Kepranan wewayang kang edi peni
Dhuh ati / Jagadmu ana ngendi / Kapan rasa kapangku iki arep diusadani
Kotabumi, madya ratri. Dyah Sekartaji.

N G L A N G U T
aku isih ing kene, kang / antaraning pangangening tawang kita
sangisore damar gantung lan tarupala / jroning omah joglo gapuk pereng arjuna
aku isih ing kene, kang / antaraning pangangen kang lana
sing sasuwenen iki nyelaki unine kasunyatan / kanggo nemokake werdining tresna
sing ora winates mung ana karep lan pepinginan
kangen iki isih nebet, kang / nanging rasa kangen kang ora beda kaya tembung kapang
sing kaucapake gegodhongan marang angin / sawuse kembang-kembang padha gogrog
prapta ing bumi. pereng arjuna,10 mei 2004. Dyah Sekartaji

Kategori ketiga, puisi-puisi kritik sosial seperti tampak pada geguritan di bawah ini :

NEGARA KERE I
apa negara iki wis kere tenan ta, paman / awit aku weruh playune uwong oyak-oyakan / ngoyok rembulan kerahinan / apa negara iki wis kere tenan ta, bibi / awit kayu-kayu sengkleh dibabati
kaspe-kaspe tanpa aji / gaplek-gaplek dipepeni / pawone wis ora bisa ngukus ambune dangdangan pari / lan angete kopi wis ilang tanpa lari / banjur sapa...? / sapa sing arep gugat marang isen-isening jagad / sing pijer royokan brekat / tan keguh kidung pangruwat
kotabumi, madya ratri, 1 Mei 2014. Dyah Sekartaji

NEGARA KERE II
ingendi dununge katentreman / awit kahanan wis ora nyawisake papan / kanggo pisambat lan
ngutahake pangrasane rakyat / sabab kabeh panguwasa / padha rumangsa wis dadi malaekat
hee,,panguwasa....!!! / galo sawangen / matamu rak ya weruh ta / bengawane padha asat
iwake megap-megap / padha ngelak gorokane
ya gene kowe kok mung pamer esem rupa kucem / kok gendhong, kok indhit
jebul isine mung genthong-genthong mlompong / lan mblegendhuke weteng kadut isi wisa sarta
jerohan rempela atine kawula / sing kok kaniaya
sadawaning dalan sing ana mung pipihan gombal ora pakra
kanggo sumpel kupinge jaran lan / kacamata ireng jebul ora tembus panyawang...!!!
SIKAT... !!! GASAK... !!! SRUDUK...!!! MAJUUU...!!! ASU...!!!!
kotabumi, 10 mei 2014. Dyah Sekartadji.

Kritik yang sangat keras di atas tidak terlalu terasa ketika dituangkan dalam bahasa ibu (bahasa Jawa) karena bahasa ibu penuh dengan perasaan dan ketika ia digunakan untuk mengkritik pun suasana cinta menyelimuti kritik tersebut. Dari sini diiippperoleh data bahwa bahasa ibu adalah bahasa cinta, bahasa rindu. Tentang rindunya Dyah Sekartadji kita dapat menikmati geguritan yang beraneka versi. Dalam mengungkapkan rindu (kapang) Dyah mempunyai setidaknya lima model geguritan yang dapat disimak berikut ini :

KA P A N G (1)
lelewane langit timbreng /semu sengsem samudana samun / lelamisane mega-mega peteng /
ngrucat gumbira / mucetake pengangen / gumandhul tan bakuh talining ati
mungguhing praptamu dhuh kakang / dak pepuji dak pupus rerepan ati / watara suwe nggonku ngenteni / baya kapan silramu bali.
Gejayan, 2005. Dyah Sekartadji.

K A P A N G (2)
padhang jingglang ing awang-awang / cumlorot sasat ewoning lintang pindha damar kencana ayuta /
daksawang ana tlaga pangalembana Ing kana / kang aweh beninge banyu prewita / sing sasuwene iki dadi panjangka / dhuh tresna / bangetku kapang kepingin wujudmu sanyata
Gejayan, 2005. Dyah Sekartadji.

K A P A N G (3)
kekidungan tembang kinanthi / tigumanti siyat-siyut andudut ati / pikir sing rinakit njlarit / tembung kang tinali singset / kongang udhar / marani jlantraning kekarepaning ati / lelumban ing jagading sonya ruri / kadiparan impenku wengi iki, Yayi / nglangut pengangen saka telenge ati / dakjaluk kapangmu wingi / sing kacicir ing pinggiring sepi / ing wengi / ing lali
sauntara rembulan njlarit tansah nggemateni wengi / ngenteni tekane rahina ijen tanpa meri
Kotabumi, madya ratri. 3 Februari 2014. Dyah Sekartadji.

KAPANG-KU (4)
Dak urut dalan iki / Lire bisa'a sambang marang kapangku / Marang ngujiwate esemu / Marang liring netramu / Kang nyasapi sadawaning laku-ku /
Ing uni / Sadawaning lurung iki / Ana gumuyu ngetung lintang
Ana esem nyawang rembulan / Rerangkulan, gegandhengan / Ngumandhangke kidung katresnan
Saiki / Endahing tresna karingkus mangsa / Manising janji kapegat pesthi
Lintang-lintang padha ilang / Lan rembulan uga ngglewang / Ninggal panandhang
Ing pantog watesing lurung kapang iki / Mung ana tangis-tangis lirih
Lan impen-impen sing kalindhih / Ninggal pangrintih / Perih.
Kotabumi, madya ratri. 4 Mei 2014. Dyah Sekartadji.

LELAGON KAPANG (5)
gegambangan lelagon kapang / ngujiwat nelungake pang eseme / agganda arum mlati rinonce
ndayani lathi angucap asmane / kang rina wengi dadi impene / sauntara sumiliring angin
saya kekes pangeluse. Kotabumi, madya ratri. 4 Mei 2014. Dyah Sekartadji.

Selanjutnya pembaca saya persilahkan menikmati geguritan-geguritan di bawah ini dan silahkan mencoba memasukkan kriteria geguritan yang mana. Apakah deskritif, apakah pangudarasa atau solilokui, ataukah kritik sosial. Dalam kurikulum bahasa Indonesia 13, seluruh pembelajaran dimulai dari teks, baik teks deskriptif, eksplanatif, laporan hasil observasi, prosedur kompleks, anekdot, cerita pendek, pantun, dan seterusnya. Kiranya hal ini pun bisa juga diterapkan dalam bahasa ibu (bahasa Jawa), sehingga bahasa ibu (bahasa Jawa) pun bisa berkembang sebagaimana halnya bahasa Indonesia. Marilah kita nikmati geguritan berikut ini dan masuk kategori mana ?

PANGGRESAH (1)
Jroning panggresah / Nratab pikir nutuh pangangen-angen
Sumendhal sumedhot rasaning driya / Satemah mbabar lilihing rasa
Binarung kekembeng waspa / Kumrangsanging rasa / Saka gempalaning driya
Tansah ngagodha / Mbalela / Ngampah duhkita / Lungkrah raga iki dakselehake
Sayah pikir iki dakleremake / Ing dhipan tuwa njero kamarku / Winates bisa tinemu anglere turu
Nadyan, tanpa impen-impen sing wingi dakwiru.
Kotabumi, Wengi Sintru. 5 Mei 2014. Dyah Sekartadji.

PANGGRESAH (2)
rikala surup klawu nawani branange panggresah / marikelu njlumati rantase panjangka
lan sumiliring samirana / kekes rumesep saranduning angga
gandrung ririh nganyut jiwa / prasasat tan eling dina
ing sapinggiring tlatah manah kang perih kagurit eri / nunggoni tekane ratri
nuhoni janjine ati / tanpa ana pesthi
sauntara tinarunge ati, tumapak nglindhes katreming wengi
Kotabumi, Lingsir sore. 12 Maret 2014. Dyah Sekartadji.

S E P A
kepengin rasane bisa mumbul ana ing tawang / kekitrang / sinentor angin sungsang
ngluwar sakehing rerenggan / kumleyang tanpa sanggan / bisa ngrangeh kumrelipe lintang
bisa nggrayang eseme rembulan / sing biyen nate aweh pepadhang / ing kalane kapang
eman sing kasisa mung kari remukane ambegan / sing nyoba ngunjal sakehing panandang
lan sengklehe pang-pang gegayuhan / kang rutuh katendhang / warayang
kotabumi, madya ratri. 2 Mei 2014. Dyah Sekartadji.

L U N G S E
Ngajab sumilire angin sore / Ngronce impen ngawe-awe
Sanadyan ta crita lawas wus saya lungse / Perih tan ana pedhote
Kotabumi, lingsir sore. 29 April 2014. Dyah Sekartadji.

KIDUNG WENGI
Langgam kinanthi mung kirim janji / tumiyupe angin wengi
asmaradana isih semaya / sanadyan wus ngegla-ngegla
tembang pocung layung-layung / geneya saya temlawung
ndhodog korine wengi, nyawang ati nggurit sepi.
Kotabumi, madya ratri. 29 April 2014. Dyah Sekartadji.

REMBULAN PANGLONG
Wis ta kakang / Suda lan kandhegana
Crita muspra kang kok tembangake jroning impenku
yen mung tembang resep samangsa liwat / Lan gawe sureming panyawang mripat
Kaca wewatesing kahanan / Antaraning impen lan kasunyatan
Padha dene adoh lan nuwuhake pisatronan / kendhang ing madyaning karingkihan
Rembulan panglong / Kawistara celong / Nglawu pandulu / Atiku rempu
Kotabumi, madya ratri. 28 April 2014. Dyah Sekartadji.

JA N J I
janji kang kinucap / lir duwure gunung / lan luase samodra kang biru
sliramu marang aku / lathimu dadi sirep / nilep panyawang netra
kagawa janji kang mijil / kelem ing kasunyatan
rina tumeka / wengi gumanti / dawa ngalela / ora beda
Jebul kabeh janji, amung ngimpi
Kotabumi, madya ratri. 28 April 2014. Dyah Sekartadji.

P U P U S
Dak sampirake pangarep-arep kebak wewayangmu / Ngupiya nylamur pangeling-eling ngegla ing dhadha / Rasa sepi lan kalunta / Kang wis ora geduga rinengga lara
Mabura / Sakombule langit / Slulupa / Sadedeg telenging samodra
Lepasa / Sakjembare ara-ara / Sagungliwunge wanawasa / Dimen ilang sakehing duhkita.
Kotabumi, madya ratri. 28 April 2014. Dyah Sekartadji.

REMBULAN
oalah, jebule rembulan kuwi wus panglong / awit praupane wus katon celong
ginapit dening kumrelipe lintang / kairing mega-mega malang
runtung-runtung njangkah mecaki tawang / ati kiyi kapang
lelumban ing kumandhanging katresnan / mesem ing edhuming swara pangeman
lerem ing weninge warih kaswargan / dhuh ati / gawa'a aku ing jagading lali
rembulan njedhul saka waliking mendhung / bali lelayaran ing langit tumlawung.
Kotabumi, madya ratri. 27 April 2014. Dyah Sekartadji.

WISA HAWA
wisa hawa ngracuni atimu / wisa hawa wusana ngremuk atiku
srengenge bunder isih dadi pitakonan / rembulan ijen malah dadi rasanan
apa lintang-lintang kae ora ngerti ing kasetyan...?
wisa hawa sumawur ing jagadmu / wisa hawa wekasan kolu kontal ing jagadku
sangsaya lampah laku aboting nandhang ati rengu / duhkita babar dadi tangising tresna
rinegem ing eri-eri mangu. Top of Form
22 April 2014. Dyah Sekartadji.

KANGEN
Dak suwek wingiting wengi / Dak luru suwunge ati
Hmm... / Tintrim rinasa ngrerujit / Mulasara kangen iki / Kangenmu /
Kotabumi, madya ratri. 12 April 2014. Dyah Sekartadji.

NGANAM RASA
Layung wus luluh / Gurit wus lungse
Nganam rasa / Njumputi trisna sing kacicir lan
Angen sing kelem ing kasunyatan / Endah nadyan suwung
Sabab impen isih merdika / Sepi sing kumlawut ing wengi
Sepi kang mungkus ati / Sekardhadhu kangen sliramu / Rasa kapang diulu /
Kotabumi, madya ratri. 11 April 2014. Dyah Sekartadji.

N E N D R A
Pangename rasa / Tuwuh mbabar cepaka mulya
Ndedel akasa / Ninggal ati njarem nelangsa
Mara / Sanja / Amburu lena / Anungka yitna / Nendra
Kotabumi, madya ratri. 8 April 2014. Dyah Sekartadji.

L U H
rembulan kae / mendahneya jero ngawiyate / kasilep ana sawalike mendhung
kebak dening pangamun-amun / kapang kang dakanam
ing amping gigire jurang atiku / wis kebacut nglumut / dening luh kang kutah
wujud getih kang ora abang / kebak panandang
kamangka isih durung rampung anggonku / natah rerangken prasasti tresnamu, Yayi
kotabumi, 7 April 2014. Dyah Sekartadji.

EMBAN KENCANA
pangangenku gremet-gremet lumaku / ing endah warnane gegayuhan ginadhuh
ing sumrebak gandane mlati / kang tumungkul mendem donga asmara
mapag mangsa wohing janji wenang diundhuh / emban kencana
kumelap ngrengga driji sing kiwa / minangka tandha / kembaring rasa
sumarahe jiwa raga lan tresna / katur ndika
Semana, 2005. Dyah Sekartadji.

ASMARADANA
wis ilang watese, kang / guritku lan guritmu wis manjing ing rerakiting ukara
nalika gatra mbaka gatra / kojah ngidungake sekar asmaradana
apa wis kok pasangke rembulan ing tawang kita / dimen petenging wengi ora meneh dadi memala
lan lintang-lintang bisa lelangen maesi mega / apa wis kok kemuli hyang bagaskara
dimen katrem anggone nendra / dimen lali nyunari marcapada / lan wengi iki umure dawa
wengi-wengi lan sliramu / sengsem anggonku.......
kotabumi, madya ratri. 1 April 2014. Dyah Sekartadji.

Kakang Mantri / Aku Ъϊśå misah cahyane geni saka panase
Aku Ъϊśå misah banyu klawan adheme / Nyawa lan ragaku uga Ъϊśå tak pisahake
Aku uga Ъϊśå ninggal wewayanganku / Aku Ъϊśå misah Ω̶ apä wae
Kang ana ing alame manungsa Ω apa dene kang ana ing alame para dewa
Ananging kakang / Aku ora Ъϊśå pisah klawan sliramu
29 Maret 2014. Dyah Sekartadji.

W U Y U N G
tumapak ing awang-awang / anglangut tanpa dunung / sasar kurang nalar / nut ilining sedya / golek pangarem-arem lajering ati / ngreridhu tentreming driya / sinandhing jatmika puja
miluta memalat sih / ngrerepa ngarih-arih / tinukup teteping ati / linarut kledhange wengi
ngalumpruk tanpa daya / kataman ing asmara
Kotabumi, 15 maret 2014. Dyah Sekartadji.

ELEGI SORE
ati mosik / golak-galik / kebrongot mramong sepa / latu panalangsa / ngobong langit werna jingga
pangimpenku ilang kasilep ing / walik angslupe surya /.
Kotabumi, Lingsir sore. 12 Maret 2014. Dyah Sekartadji.

GURIT IKI
gurit iki / pangudarasaku marang wengi / sing kebacut anggone nguja sepi
gurit iki / pangundhamanaku marang angen
kang pijer nggetuni tangan / sing durung gaduk ngrentengi lintang
ngranggeh rembulan / papan jujugane tangan kamulyan / gurit iki / tuwuh ing antarane gebyaring lintang pengarep-arep / sawise tetaunan kandheg ana rasa lan lelamunan
Gejayan, 2005. Dyah Sekartadji.

KIDUNG PALASTRA
Raga wus wiwit ringkih / Kinrikitan ilining mangsa
Was-was ngrengga jroning rasa / Getun keduwung tansah ngagodha
karana nglenggana nyangga aboting dosa / Kuciwa rumangsa durung bisa ngukir harjaning suksma
Kaselak pralambang lon-lonan paring tengara / Mawa maneka warna tandha kang nyata
Lingsiring yuswa / Gusti,,,ing ngendi dunung-MU sayekti
Ing pasepen kori sinandhi. 10 Maret 2014. Dyah Sekartadji.

ELEGI WENGI
Kinanthi kidung lir gumanti / Ngaru-ara sauruting rumambate angin
Ngaras reroncening ati / Nitih nam-naming batin
Kang ginubel ing / Jembaring pangangen-angen
Nyuntak impen-impen / Nganam rasa lawan ganthilaning sukma
Dimen biruning langit atiku / Bisa dakgambari manising esemu
Bareng kumrosaking swara wit-witan / Keterak angin lelaku
Kotabumi, Madya ratri. 10 Maret 2014. Dyah Sekartadji.

CUTHEL
dakungkuri pereng wektu mawa panggresah / kareben ta gurit-gurit gumlasah sebah
nyatane sumiliring angin ora kuwawa / nitir gegadhangan kebak panjangka
dakungkuri pereng napas kebak kapang / nyatane ati iki mung keplatrang, kebimbang
kaya dene ngoyok rembulan kerahinan / ing pucuke tawang
kanyatan wus lumaku adoh, kang / kanyatan wus lumaku adoh
nyatane sumiliring angin mung kuwawa / nggambar patemon sing ginaris ing lembar nostalgia
apa isih ana sing saguh cawis klasa gelaran / papan mirunggan kanggo ngrembug biruning tawang
kang setya nyimpen sewu pepadhang / nglaras ngrangine langgam panguripan...?
kotabumi, 29 mei 2014. Dyah Sekartadji.

BALI ELING ALAM
Kula namung petani / Lemah sawah kula openi / Kanggo cukupe urip sakbrayat sami
Nganti kapan ndika ngrusak alam? / Nganti kapan wit-witan ndika tebangi?
Nganti kapan kewan-kewan ndika pateni? / Nganti kapan gunung-gunung ndika tambangi?
Rina-wengi pengin kula ndika bali / Bali eling alam / Bali eling alam / Bali eling alam
Jonegoro, 8 Mei 2014. Arieyoko.

GURIT KANJENG IBU
Ibuku kang kinasih / kinasihan cahyane Gusti / dadi swargane getih kang terus / mblabar ing plataraning : atiku / Ibuku sing mondhong berkah rahayuku, / rahayuning jagad gedhe lan jagad cilikku, / dadiyo banyu mili linambaran / uripku lan uripmu
Ibuku lan Bapakku / dadiyo Gusti Allah katon / ing pucuk'e lelakuku
lan kabeh pandongaku. Ibuku, / punjer'e dalan / kaswarganku
Jonegoro, 030114. Arieyoko.

GURIT DINA SETU
Iki dina Setu wayahmu bali mring atiku / kaya janjine Kalinyamat karo Pangeran
Hadirin rikala pegat nyawa ing kali / Kembang Sore. Kae
Nganti wengi ora ana wewayanganmu / kumlebat teka. Pojok desa isih garing
angine semriwing tanpa gandha tanpa / rupa
Sapa sing nyandhet tekamu ing dina / Setu ? Apa wis mlipir atimu ?
Sapa sing isa nentremke gronjalanne / nyawaku kang wis semampir kiwir-kiwir tanda daya tanpa suksma / Guritku dina Setu / muspra digiles cathu / kang arerindu
Jonegoro, 280913. Arieyoko.

GURIT KEMBANG SORE
Yen kudhu'ne awak'e dewe / ngurut playune srengenge, / ayo enggal tata-tata aja
padha nggugu karep'e dewe / Yen kudhu'ne atimu sumeleh / mring umur kang kemlebat
banther kaya lakune angin, / ayo padha sujud nrimo ing / pandhum'e urip
tak gambar ayang-ayangku / ana gisik ing kali kembang sore / gegandhengan anslupe srengenge
Jonegoro, 190514. Arieyoko

Simpulan
Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa face book mampu menjadi alat atau sarana pemertahanan bahasa ibu dengan bentuk mengunggah status dalam bahasa ibu (bahasa Jawa) yang berupa curahan hati, solilukui, deskripsi, eksposisi, dan seterusnya dalam bahasa sastra (geguritan). Makin banyak yang mengunggah status dalam bahasa ibu makin dapat dipastikan bahwa kelangsungan hidup bahasa ibu dapat terus dipertahankan sepanjang zaman. Demikian juga, makin banyak yang membaca atau menangkap makna status dalam bahasa ibu dapat juga menjadi indikator bahwa bahasa ibu masih hidup dan bahkan tidak tertinggal oleh perkembangan zaman. Dalam hal ini peran pemerintah daerah wajib mengembangkan, membina, dan melindungi bahasa dan sastra daerah agar tetap memenuhi kedudukan dan fungsinya dalam kehidupan bermasyarakat sesuai dengan perkembangan zaman dan agar tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia ( pasal 42 UU RI nomor 24 Tahun 2009).


Daftar Pustaka
Kadarisman, A. Effendi. 2007. Dari Etnopuitika ke Linguistik : Menampilkan Potret Lain Bahasa Jawa. Dalam PELBBA 18. Jakarta : PKBB Unika Atmajaya.
Pusat Bahasa. 2010. UU RI nomor 24 Tahun 2009.
Sry Satriya Tjatur Wisnu Sasangka. 2005. Kamus Jawa Indonesia Krama Ngoko. Jakarta : Yayasan Paramalingua.
Sudaryanto. 1994. Pemanfaatan Potensi Bahasa. Yogyakarta : Gajah Mada UP.
Sudaryanto, Pranowo. 2001. Kamus Pepak Basa Jawa. Yogyakarta: BP Kongres Basa Jawa.
Biodata Penulis
Dr. Hj. Esti Ismawati, M.Pd. bekerja di Universitas Widya Dharma Klaten sebagai dosen PNS sejak 1986. Beberapa buku di bidang pengajaran bahasa dan sastra telah ditulisnya. Beberapa penelitiannya didanai DP2M Dikti. No telephon no 0272 323806. HP 08156860336. Pos el ibu_esti@yahoo.co.id gampang-prawoto.blogspot.com

Minggu, 31 Agustus 2014

ayokesekolah.com: Pengumuman 20 Puisi Terbaik untuk Lumbung Puisi Sa...

ayokesekolah.com: Pengumuman 20 Puisi Terbaik untuk Lumbung Puisi Sa...: 20 Puisi Terbaik untuk Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Jilid II, 01. Gampang Prawoto Pelabuhan Jiwa 02.Roni Nugraha Syafroni KEBINGUN...

  20 Puisi Pilihan  "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" 02


01. Gampang Prawoto
Pelabuhan Jiwa
02.Roni Nugraha Syafroni
KEBINGUNGAN
03. En Kurliadi Nf
GUBUK KAMI
: kapung ragang
04. Esti Ismawati.
SELAMAT PAGI KAMPUNGKU
05. Dhito Nur Ahmad
Hari Setelah Gerimis
06.Nurul Hidayah
EPISODE YANG HILANG
07. Syarif hidayatullah
Nun dan Alif kampungku
-di atas pulau terapung
08. Budhi Setyawan
Kodil – Bogowonto
09. Fatmawati Liliasari
Syair Untukmu, hadiah untuk kotaku
10. Ekohm Abiyasa
Pesan Jogja
11. I Putu Wahya Santosa
Akar Kata
12. Sofyan RH. Zaid
KAMPUNG HALAMAN KATA
13. M. Ardi Kurniawan
Purwarupa
14. Anung Ageng Prihantoko.
Setapak yang Bercerita
15. Sokanindya Pratiwi Wening
~kampung halaman ~
16. Ali Syamsudin Arsi
IA LEKAT DI PELUPUK MATA
17. Wadie Maharief
Kenangan tentang Emak
18. Lukni Maulana
Padasan Retak di Kotaku
19. Hasan Bisri BFC
KAMPUNG YANG KUSANJUNG
20. Imam Eka Puji Al- Ghazali
Keterasingan

Indramayu, 21 Agustus 2014
Ketua Tim Penyeleksi,
Wardjito Soeharso, MPd.

Rabu, 27 Agustus 2014

Antologi Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Jilid II

 

PENYAIR

001. Abdul Wahid (Karanganyar)
002.Ali Syamsudin Arsi (Banjarbaru)
003.Alra Ramadhan (Kulonprogo)
004.Alya Salaisha-Sinta (Cikarang Kab. Bekasi))
005. Aloeth Pathi (Pati)
006. Anita Riyani (Tanah Bumbu, Kalsel)
007.Andrian Eksa (Boyolali)
008 .Anung Ageng Prihantoko (Cilacap)
009. Aulia Nur Inayah (Tegal)
010 . Bambang Widiatmoko (Jakarta)
011. Badruz Zaman (Sumenep)
012.Budhi Setyawan (Bekasi)
O13.Devi yulianti wafiah(Paseh)
014.Dewa Putu Sahadewa (Kupang)
015. Dhito Nur Ahmad( Makasar)
016.Dhinar Nadi Dewii (Sukoharjo)
017. Diah Natalia (Jakarta)
018.Diah Budiana (Serang)
019.Dian Rusdiana (Bekasi)
020.Dianie Apnialis M (Bandung)
021.Djemi Tomuka (Manado)
O22.Devi yulianti wafiah(Paseh)
023.Dwi Rezki Hardianto Putra Rustan (Maros)
024.Elvis Regen (Palembang)
025. Ekohm Abiyasa (Karanganyar)
026. Esti Ismawati (Klaten)
027. En Kurliadi Nf (Sumenep)
028.Fatmawati Liliasari (Takalar)
029.Fasha Imani Febriyanti (Bandung)
030.Fitrah Anugerah (Bekasi)
031.Fitrah Rahim. (Maros)
032. Gampang Prawoto (Bojonegoro)
033.Ghufron Cholid (Sampang)
034.Hasan Bisri BFC (Bogor)
035. Hidayatul Hasanah (Trenggalek)
036.Imam Eka Puji Al-Ghazali (Batuputih)
037. I Putu Wahya Santosa (Bulelelng)
038.Iska Wolandari (Ogan Komering Ilir)
039.Jack Efendi (Bekasi)
040.Julia Hartini (Bandung)
041.Lucky Purwantini(Bekasi)
042.Lukni Maulana
043.M. Amin Mustika Muda (Barito Kuala,Kalsel)
044.M. Ardi Kurniawan(Jogyakarta)
045.Malisa Ladini (Semarang)
046.Ma'sum (Sumenep)
047.Muchlis darma Putra (Banyuwangi)
048.Novia Nurhayati (Bogor)
049.Nurul Hidayah (Banjarmasin)
050.Nyi Mas Rd Ade Titin Saskia Darmawan (Denpasar)
051.Niam At-Majha (Pati)
052.Novi Ageng Rizqy Amalia (Trenggalek)
053.Nur Lathifah Khoerun Nisa (Cilacap)
054.Nastain Achmad (Tuban)
055.Nila Hapsari (Bekasi)
056.Pradita nurmalia (Surakarta)
057. Roni Nugraha Syafroni (Cimahi)
058. Rachmat Juliaini (Makasar)
059.Rachmad Basuni
060. Refa Kris Dwi Samanta (Purwokerto)
061.Seruni Unie (Solo)
062.Syarif hidayatullah (Banjarmasin)
063. Sofyan RH. Zaid (Bekasi)
064.Sokanindya Pratiwi Wening (Medan)
065.Sugi Hartono (Batanghari)
066.Suyitno Ethex (Mojokerto)
067. Sindi Violinda(Medan)
068. Tuti Anggraeni (Bekasi)
069.Thomas haryanto soekiran (Purworejo)
070.Vera Mutiarasani (Karawang)
071.Wadie Maharief (Jogyakarta)
072.Wayan Jengki Sunarta
073. Wintala Achmad (Cilacap)
074.Wong agung utomo (Bekasi)
075. Wulandari ( Nawang Wulan)
076. Yusti Aprilina (Bengkulu Utara)
077.Zen AR
078.Diana Roosetindaro (Surakarta)
079.Ardi Susanti (Tulungagung)
080. Lailatul Kiptiyah
081. Munadi Oke

Indramayu, 22 Agustus 2014


20 Puisi Pilihan  Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Jilid II


Imam Eka Puji Al-Ghazali
Keterasingan

Kami mulai resah menghitung angka dari jarak kedatangan dan kepulangan. Secepat apa saja yang ada di benak kami itulah yang kami buru dengan gerak dan do’ado’a. Jalan yang mana lagi yang akan kami rangkaki_ mengurai segala asing dan kepenatan. Kami linglung dari mana kami datang, kenapa kami seperti tak mengenal lagi araharah tanah kelahiran.
Sebab terdesak_sesak, oleh tanya dan huru-hara konsep hidup untuk besok, dan lusa, yang terus membahana menyelimuti kuping, hidung, mulut, dan usus.

Kamilah delapan orang pemuda, yang tertatih, _berupaya termuntahkan dari diri gelap dan gempita keterasingan. Bila harus madura lalu apakah kami musti berdiri tegap mengangkat arit. Tapi siapa yang harus mati, Ki Sanak.

Malam telah datang, hanya angin yang dinginnya menulang yang setia memeluk tubuh; tubuh gerincang_cacingan, karena terserang wabah sungkan dan lagi-lagi karena keterasingan. Ah, kami terbuang dari tempat asal, menjumpai mahluk semacam kuntil bermulut lima, giginya bertaring bersilap- silang, yang kapan saja siap jadi pemangsa paling heroik.

Malam kedua ini, kami memilih merapatkan jemari_ menusuk dada langit dengan tembang do’a, kemudian bumi, kami banjirkan dengan air mata tulus pinta agar segalanya berubah jadi asal. Asal mula kita dilecutkan dari rahim tanah ibu yang penuh bunga, yang betapa sangat kami rindui.

Romben Guna, 09/06/13; 10:13 Wib


Hasan Bisri BFC
Kampung Yang Kusanjung

1/ kota santri
ketika orangorang bertanya dimanakah letak kota santri
dengan bangga kutepuk dada, “itulah kotaku.”
maka tak satu pun ada membantahnya
maka kaulihat, saudagarsaudagar merapat
menunggu waktu shalat
perempuanperempuan berkerudung menjadi penyejuk mata
anakanak bersarung batik dengan peci miring tak ketinggalan juga
tataplah masjidmasjid dan mushala riuh suara akanakkanak membaca Alqur’an
tapi itu dulu,
sebab para saudagar melepas lelah di cafe
perempuanperempuan berkerudung membonceng motor pacarnya
dan anakanak asik di depan layar kaca
maka, kelak anakanak kita akan mengenal kota santri dari kamus bahasa
Indonesia

2/ kota batik
ketika orangorang manca menggores tinta
resmilah kota kami menjadi kota batik adanya
kampungkampung dihias dengan gapura perkasa
pembatikpembatik sumringah
para majikan amat bungah
meski serbuan batik murah tak bisa dicegah lagi
Kota Batik, ah berapa hektare sawah menjadi sesak oleh limbah
para petani menggantung cangkul dan berlumur kecewa
ikanikan tak lagi menjadi sahabat nelayan
kampung yang senantiasa kusanjung kini siap menampung bah airmata

Pekalongan, 31 Juli 2014

Lukni Maulana
Padasan Retak di Kotaku

Dimana air sumber ilmu itu
Ku temui ia meluber lalu melukai keindahan
Akan aku cengkram andai tangan ini mampu
Akan kuletakan di kotaku
Menghias wajah suram yang luka
Agar ia bangkit
Terapung diatas sana

Namun sumber ilmu tetap terpasung
Sebab kecoak memberi kabar
Bahwa air padasan telah retak di kotaku
Anak muda penuh panorama desa
Memajang rasa malu ditelinga
Keluar tanpa beban derita

Inilah kebodohan yang belum kusadari
Aku hanya bermimpi atau sekedar harapan palsu
Lalu mati
Aku hanya bertutur kepadanya
sahabat, air hujan memberi keberkahan
tapi hanya sedikit yang kita nikmati

Semarang, 31/07/2014





Wadie Maharief
Kenangan tentang Emak

Perempuan cekatan itu
adalah emakku
Ngurus anak sepuluh hampir tak pernah mengeluh
Serba bisa meski tak pernah sekolah
tapi menjadi guru bagi anak-anaknya
Aku belajar segala dari emak
Mulai menampi beras, menanak dan menjerang air
Bikin gulai dan menyeduh kopi
Emakku perkasa, ratu yang agung
Rumah dan berandanya selalu bersih
Gemulai ia menyapu setiap pagi
Tangannya tak pernah berhenti
Seperti penari yang penuh energi
Aku rindu emak
Yang telah mengajari aku tentang hidup
dan kehidupan ini
Aku mengerti kenapa beras mesti ditampi
Sebelum ditanak, kenapa menyapu
Harus pelan tapi bersih....?
Jangan melakukan kesia-siaan dalam hidupmu, nak….
Begitu pesannya

Yogya, 25 Mei 2014


Ali Syamsudin Arsi
Ia Lekat di Pelupuk Mata
aku pernah kecil dan tak punya daya berlari di antara semak daun embun bahkan ranting duri - ia lekat di pelupuk mata - geriap sungai kecil aku pernah berenang bahkan hampir tenggelam pada pasir di dasarnya - ia lekat di pelupuk mata - suara-suara yang dahulu aku ingat semakin berloncatan di dahan-dahan pohon enau pohon buah karet dan daun-daun pisang sebagai kenangan – terasa sangat purba -
sebatas apa bila rinduku pada rimbun kembali melambai agar pulangku adalah bagian dari kerinduan langka nun jauh sudah jejak kaki berjarak nian dari detak akar-akar padi

ia lekat di pelupuk mata

ibuku menyatukan daun-daun pisang lantas dibawa ke tengah pasar untuk ditawarkan aku ikut di sampingnya dengan langkah kecil tatapan mata kecil dan harapan-harapan kecil – aku pernah kecil dan tak punya daya ketika berlari di jalan setapak yang berkelok-kelok menuju arus sungai berpasir dengan jamban-jamban pemandian – kecipaknya aku sangat merindukan

ia lekat di pelupuk mata

akar-akar padi dalam lumpur mengisyaratkan agar aku lekas-lekas kembali

/asa, banjarbaru, juli 2014


Sokanindya Pratiwi Wening
~kampung halaman ~

kampung halamanku, katamu
dimana? kalau nyatanya aku lahir dan besar di
penjara

hijau hijau itu bukan dedaunan
tapi muka-muka masam bermata dalam
dentum-dentum itu bukan mercon perayaan
namun amuk senjata penuh kemarahan

bukan matahari sebagai teman
diam dan ancaman serupa menu makanan
terhidang kapan saja penguasa doyan

tuhan seperti tidur; aku ngelindur
bicara kampung halaman yang subur makmur
rakyatnya ramah tak doyan tawur
panen kapan saja tanpa nandur;
nyatanya, ayahku mati tanpa kubur

indonesia terbakar tanpa api...!

Krueng Geukueh, 09/06/2014


Anung Ageng Prihantoko
Setapak yang Bercerita

Setapak yang bercerita
Tentang pematangmu yang terlentang
Hilang dihisapi mimpi masa depan
Dadamu yang gembur meriap pucuk-pucuk padi
punah terpendam pertempuran ekskavator dengan
Danyang-danyang yang bimbang
Akar-akar tunggang besi tulangan menerobos bumi menembus perut cacing-cacing tanah
Beton dan batu bata yang tumbuh subur menjalar meraih
Gumpalan awan-awan perawan di langit
Dan rumah-rumah kotak kubus itu telah mengubur tanah rumputan
Anak-anak kami gelisah mencari tempat bermain bola dan mengejar layang-layang
Akhirnya mereka tersesat di rental play station dan sebagian ditelan televisi
Alangkah kenangan kami lindap bersama detik-detik yang ranggas
Pada jam tua yang merangkak di desing angin malam yang asing
Belasan tahun lalu sungai adalah surga tempat kami mencari ikan dan thoe
Dan kemarin sungai itu meratap mengerang
Kesepian dan hampir mayat karena terlupa
Belasan tahun lalu kami asik bergetek di telar mencari biji bunga teratai
Yang di ujung lidah terasa begitu manis dan lezat
Tapi sekarang bunga-bunga itu telah entah
Bulan merah telah rapuh
Tubuhnya mengapur penuh abu
Dulu dia teman kami
Menerangi kami berlari menyusuri ladang-ladang tempat sembunyi
Bermain jonjang umpet selepas isya bersama tawa
Berhari-hari aku mencari
Sekotak permainan masa kecil
: gundu, thihtik benthik, dos-dosan, gobag sodor, jonjang umpet dan permainan lainnya
Akan kuajarkan pada anak-anakku
Tapi tersesat dimana mereka
Aku lupa di ruang otak sebelah mana aku menyimpannya.

Cilacap, 8 Juli 2014


M. Ardi Kurniawan
Purwarupa

Yogyakarta beralih rupa
Menjadi purwarupa ibukota
Jalanan menjadi sesak
Setiap menjelang senja

Setiap vakansi tiba
Orang kota ramai-ramai bergembira
Sementara orang asli Yogya
Terus bekerja dan bekerja

Deru mesin ibukota makin terasa di Yogyakarta
Mendesak-desakkan suaranya
Menggantikan jarak dan jeda
Di antara ruang-ruang kota

[Yogyakarta, 2014]


Sofyan RH. Zaid
Kampung Halaman Kata

kami duduk-duduk sepi # di beranda suatu pagi
cangkir kopi # beraroma hari
hari kamis # selepas gerimis
sisa air menetes dari daun # gending musim mengalun

kami berbincang perihal kabar # sebuah negeri yang terbakar
asap seketika menyebar # dada kami berdebar-getar
kami terbangkan doa # langit merah saga
air mata perlahan batu # mulut kami jadi bisu
kami duduk-duduk sepi # kemudian pergi menunda mati

2014


I Putu Wahya Santosa
Akar Kata

Dengan apa pohon gejolak pikiran
Berkembang biak
Selain dengan cinta akar kata
Yang merentangkan setiap batang gelisahnya

Dengan apa pohon cuaca yang gamang di katakan
Dapat dicerahkan
Selain dengan kebijaksanaan akar kata
Yang selalu memberi kesadaran
bagi jiwa yang ingin bertumbuh
Menjadi dewasa di setiap musim

Dengan apa teka teki akal
Dapat diburu kekal
Selain dengan mempelajari pertumbuhan akar kata
Yang selalu menyerap mata air kedalam nuraninya



Ekohm Abiyasa
Pesan Jogja

lengang malam senin
tulang-tulang dingin
sesekali asap motor melesap
orang-orang di angkringan bertukar cakap

ini sebuah kota yang dingin
jejak-jejak dan memori selalu mengerling

singgahlah ke gubug lama
tempat di mana kata-kata lahir
tempat di mana rindu-rindu mengalir

Jogja selalu berwarna
sudut-sudut kota
matahari pembatas
halaman yang terlepas

Jogja selalu setia
menanam damai
pada pengembaraan yang kian trengginas

Surakarta, Mei 2014


Fatmawati Liliasari
Syair Untukmu, hadiah untuk kotaku

Suatu saat orang-orang akan tahu
Tentang ceritaku, cerita kita
Meskipun aku ragu kau bisa mengenalinya
Wanita penyendiri itu telah melihatmu
Dia mencarimu, menyusuri jalan-jalan
hitam, sawah bertingkat sembari sesekali bercermin
pada dinding kaca berdebu
melihat bayangan raksasa di sebelah sana yang dengan angkuh
hendak mencakar langit.

Dia menemukanmu di sebuah gedung impian
Hamparannya luas, kata orang gedung itu
Adalah rumah para intelektual
Tetapi akhirnya aku hanya merasa gedung ini tak punya nyawa
Ia hanyalah rumah bagi dua tetangga yang selalu bersilang pendapat
Ataukah salah satu dari mereka ketakutan ?
Akhirnya ; kehadiranku di sini dilupakan
Aku berjalan di sampingmu tapi kau tak melihatku
Aku tersenyum ramah tapi engkau bermuka masam

Oh.. betapa kasihan, wangi gadis desa tersapu kelabu
Semburat jingga senyumnya di tampik dingin embun.

Bontorea, 25-27 Juni 2013


Budhi Setyawan
Kodil – Bogowonto

1/
yang memancar kecil
seperti kerlip rindu di kaki Menoreh
lalu mengumpul menyatu
tetes menjelma alir doa dan mantra
lewati rumput dan perdu duri
melalui batu batu sepi
terus melangkah-menari
matamu acap mengerdip pada iklim
susuri liku ranah berpilin
keteguhan pada cita bermukim

dan orang orang mencuci angan
dengan sari kesederhanaan dari curahmu
dan lubuk lubuk nampak berdiam
seperti pertapaan matahari
dalam kegaiban sunyi

2/
dari pinggang Sumbing, muasal lahirmu
lalu memanjang syair dan zikirmu
dengan jeram jeram yang dingin
dan kecipak derai di gulir musim
pandangmu jauh pada kampung dan sawah
dan jemarimu yang asih, menjamah
dahaga yang retakkan iman
hingga batang-batang padi berbinar segar
pepohonan pun turut senandungkan riang
tempat hinggap burung burung
yang betah merawat sarang
dan mereka yang mencari ikan
berkali menebarkan jalanya
mengembangkan harapan
sampai ke langit jernih
tempat bulan bermain
dengan tembang dolanan yang kian lirih

3/
di Tempuran, pertemuan penuh haru
berabad abad dipisah jarak
tanpa kabar dan percakapan, namun
anak dan ibu yang selalu menjaga ingatan
di tebing tebing perasaan
yang kokoh dalam gempuran cuaca
dan tafsir tafsir zaman yang menggema

di antara derap-kerjap pancaroba
tetaplah rekah bunga
tergambar deras arusmu
tekun merawat kesabaran dusun dusun
dan ketabahan penempuhan usia
yang terus mendegup hingga ke muara selatan
membawa asin kenangan ke tanjung perantauan

2014


Syarif hidayatullah
Nun dan Alif kampungku

-di atas pulau terapung
Nun yang bercerita tentang mimpi di kaki bukit
Yang berenang bersama jentik-jentik nyamuk
Sedang katak hanya mampu berceloteh kosong
Dengan keangkuhan yang menggelikan

Nun yang bercerita tentang hujan di sela tawa dan senyuman
Sedang kerenyahan matahari di tertawakan oleh lumut yang menghijau
Karatan-karatan tanah yang menguning dengan bangkai-bangkai perusak bumi
Pohon tak lagi tumbuh
Ia melapuk dalam kebiadaban
Alif yang tegak menjulang di dasar nun yang bergenang kubangan
Pulau-pulau semakin dekat dengan nun
Sedang alif semakin sering dirobohkan
Terkoyak kenistaan

Alif yang tersenyum getir dengan nun
Menangis iba bersama hentakan kaki
Langit penghibur lara
Sedang mesin terus meneriakkan keangkuhannya
Ku punya mimpi
Alif yang tumbuh di atas nun
Hingga bersemayam hutan, kampungku
Besok aku ingin mereka bersatu di atas pulau ini

Banjarmasin, 16 desember 2013


Nurul Hidayah
Episode Yang Hilang

Bundaku mengibarkan selendangnya
Membawaku ke masa di mana aku menjalani masa kecilku
Di bawah pohon kelapa yang melengkung indah
Ditambah pasir putih yang bersahabat dengan gelombang di tepi pantai
Aku bermain dengan deretan semut dan beberapa siput
Lalu aku dipindahkan ke hamparan emas
Aku bernyanyi dengan burung-burung pipit yang mulai menyentuh emas kekuningan berisi
Seketika lagi aku berada dalam gemericik air di bawah dedaunan
Berlari memercikkan air ke sana kemari ditemani terik mentari pagi
Lalu menyapa matahari yang mau kembali ke peraduan
Bundaku berbisik ,”dia mau tidur, sayang”.

Kemudian bundaku kembali membalikkan selendangnya
Kini aku berada di antara bangunan-bangunan yang menjulang tinggi
Mencium bau selokan yang padat dengan sampah
Aliran air kotor mewarnai kehidupan
Ditambah dengan lagu-lagu pertiwi yang berganti isi dan makna
Di mana aku sekarang berada?
Yang kuharapkan hanya satu,”Bunda, bisikkan kembali di telingaku bahwa ini hanya mimpi belaka!”
“Bunda kembali balikkan selendangmu dan kembalikan suasana yang dulu untukku!” rintihku.
Dengan tersenyum lembut ia berkata,” Inilah tempatmu wahai anakku. Lihatlah gedung di sampingmu, sampah di selokan yang sekarang tepat di belakangmu, kebisingan oleh motor di sekitarmu, dan berbagai penyakit yang menghadang jiwa-jiwa yang lengah.”
Kini aku sadar bahwa tanahku telah berubah
Zaman telah berganti dan roda kehidupan terus berputar
Tapi kutekadkan niat dalam hati
Ini adalah tanahku, maka kutakkan tinggalkanmu
Namun, akan kutaklukkan perubahanmu
Bukan waktu yang menguasaimu tetapi aku yang akan mengendalikanmu
Aku mencintaimu wahai tempat hidupku, halaman terindah dalam jilid peristiwa jiwa
Aku rindu dikau yang dulu



Dhito Nur Ahmad
Hari Setelah Gerimis

Kenangan-kenangan, kehilangan-kehilangan, dan kesakitan-kesakitan
Adalah dingin semilir angin setelah gerimis
Pertemuan-pertemuan, janji-janji kebersamaan, dan perpisahan-perpisahan
Adalah langitnya yang berganti lembayung
Selalu ada rinai setelah gerimis
Ingatan tentang bunga kenanga yang berguguran di halaman
Rumah kampung halaman
Mengalirkan air di hadapan wajah
Dingin, dingin tak biasa
Setelah gerimis
Hari mendinginkan tulang
Kenangan menjadi hangat
tentang pohon dan rumput yang berdiam pilu
Menjalarkan kesunyian dan kenangan
Setelah gerimis
Selalu ada sisa rintikan kenangan yang berlalu di balik jendela
Kampung halaman bercerita
Tentang kerinduan dan kekalahan
Bahwa zaman telah merampok semuanya
Setelah gerimis
Langit berwarna lembayung
Lantas sepi pun menari di tepi hari

Makassar, 2014


Esti Ismawati
Selamat Pagi kampungku

semesta begitu hening
embun tersenyum menyambut terang
kelelawar tertidur dan burung sikatan beterbangan
hanyut dalam merdu keroncong Tanah Airku

seekor manyar jantan terlihat sibuk
memungut rumput helai demi helai
dirangkainya megah istana
ia pun siap berumah tangga

seekor manyar betina memandang malu-malu
tersenyum bangga
mengangguk mesra
rumah sempurna bagi anak mereka

selamat pagi kampungku
negeri sepanjang musim
beribu pulau jalin-menjalin
menyatu dalam perahu kedamaian
menyibak riak kehidupan
mendayung beribu ombak perjuangan
melintas samudera asa, menghamba jiwa katulistiwa
menggapai hari-hari penuh mimpi, luas ladang terbentang
satu-satu tergapai menang.

Klaten, 20 Mei 2014.


En Kurliadi Nf
Gubuk Kami
: kapung ragang

di sini, gubuk kami berdiri dan kami bangun
dengan ladang dan kicau burung terbang
bilik pintu dari bambu kuning
jendela tanpa kaca juga
atap dari rumbia kuning campuran kolare
yang di senjai kekeringan

gubuk ini kami bangun dengan keringat kuning
pagi yang merapat pada senja
ternak yang dilepas ke ladang
sedangkan bila terbangun dari tidur
sungai mengirim kecipak airnya kehilir
ke tanah seberang, tempat jagung dan padi tumbuh juga
batu yang kanvas diantara hutan belukar

bila malam larut dan beranjak :bulan mengapung
ke halaman, membuka celana
mematangkan rindu yang diperam bulan

perempuan-perempuan yang dipanggil ibu
oleh anak-anaknya, membuka rahim surganya
sejak kabar magrib membakar sepi
di lenca' kaju ia telah menggantung nasib
yang berputar merapal hidup
berpendar meruangi segala risalah waktu
yang tinggal ampas pada tubuhnya

gubuk ini kami bangun dengan kasih sayang
jauh dari kota-kota yang telanjang
udaranya yang mengapung diantara deru dedaun
musim menyusui aksara hujan
membuat cinta, menyisakan doa
yang halimun : tak pernah sirna
kami ucapkan di beranda sajadah

di sini, gubuk kami berdiri
dengan seribu doa dan cahaya
yang tak akan pernah mati
sampai kami tandas usia

gili-genting, 2013


Roni Nugraha Syafroni
Kebingungan

Liuk lengkung pemandangan hijau permadani,
membuat mata sesiapapun jua tak akan lekang.
Bening air mengalir dari sudut gunung di sisi,
melepas dahaga hati sekecil kapas teruntuk siang.
Hari-hari jemu bagai pindah ke dalam batu hitam sungai,
kokoh menunggu aliran dari hulu hingga hilir.
Pagi yang sendu tak lagi sedang merindu tampak melambai,
mendatangi diri secepat kilat dibantu angin semilir.
Tataplah mata cinta tanpa berkedip,
yakin akan tiada ‘kan berpaling.
Meski hanya sekejap kerlip,
selalu bersama nyanyian seruling.
Terkadang tetesan penyesalan merasuk,
melihat berjuta para perusak berdatangan.
Merayu pohon-pohon hutan dengan buruk,
ceria senyum mistis berubah kritis bersalaman.
Sawah mulailah berubah gelisah,
tampak menunggu untuk dikeringkan.
Canda petani-kerbau sudahlah punah,
buat perasaan padi tak akan dimakan.
Satu niscaya walau begitu,
tetap rakyat akan bangga.
Kepada sang waktu,
selamanya membela.
-Itulah kebingungan untuk kampung halaman yang rata oleh pusat perbelanjaan-

Cijerah-Cikijing, April 2014


Gampang Prawoto
Pelabuhan Jiwa

tengah malam
wajah rembulan tak lagi melukis
ibu menisik selendang

pigura pigura menapak selaksa
gerak nadi hati menghias raut
terusik pada tilas langkah
kaku kaki lalu
imigrasi dari hari kehari
mungkin detik dan menit
kehendak tak ditimpa kisaran waktu
karena jam hanya sebuah rotasi

kalender lusuh kuning kecoklatan
melipat bulan menumpuk tahun
setia pada dinding
dinding penanggalan buram
pendar tanpa merah, hitam atau hijau
rerimbun luput
kelam dipematang hati tanpa hari

imigran - imigran hari
berlayar pada pusaran ombak
hingar terompet, petas kembang api
menutup nanar candikala
ketika hati tertusuk kata
rasa tertikam oleh waktu
hanya tersisa ini hari
hari tanpa hati.

menepi pada arah menara
menara rasa pelabuhan jiwa

Bojonegoro, 27122013