Selasa, 17 Februari 2015

Vanera El-Arj Penyair Yang Pulang

EL, PENYAIR YANG PULANG


Oleh Muhamad Rois Rinaldi *(

Dalam lingkaranMu, yang kucoba pahami adalah cinta. Namun selalu yang engkau minta aku pahami adalah duka. Kini dalam purnama, luka dan duka adalah dua jiwa dalam satu nyawa bernama Cinta; menjadi aku yang senantiasa menjadi purba dalam lautan pemahaman dan makna tanda baca. Engkau dan hanya Engkau tujuanku, dan kerelaanMu yang kucari. Engkau lebih mengerti jalan mana yang harus kulalui. (Vanera El-Arj)

I/
Saya tidak bisa mengaku bahwa saya mengetahui banyak hal tentang Vanera El-Arj. Tidak, sungguh tidak banyak yang saya ketahui mengenai Vanera, atau El, atau Va, atau panggilan-panggilan kasih sayang lainnya yang beragam ditujukan padanya.  Karena begitu banyak hal yang tidak saya pahami darinya, baik dari caranya diam atau caranya bicara. Meski demikian, sebagian kecl yang mulai saya pahami darinya, karena perkenalan dengannya tidak dapat dikatakan sebagai perkenalan yang singkat. Sekitar tahun 2011-2012 saya mulai mengenalinya, bukan dari nama atau rupa, melainkan karya yang saya baca dari buku yang diterbitkan Sembilan Mutiara. Entah apa judulnya, mungkin Guci Berdarah atau Kamboja. Buku itu hadiah dari Noor Aisya, penyair Singapura yang karya-karnyanya juga tergabung di dalamnya.

Saya sempat mengatakan pada Noor Aisya bahwa saya suka puisi yang ditulis oleh penyair bernama Vanera El-Arj, tentu lengkap dengan catatan-catatan kecil yang saya minta agar disampaikan pada Vanera El-Arj (kemudian saya lebih merasa akrab memanggilnya, El). Saya melihat potensi kesadaran jiwa yang besar dalam diri seorang El. Potensi kesadaran itu yang akhirnya membuat saya kerap memaklumi berbagai hal teknis yang dilalaikan.  Sebagian ahli sastra mungkin akan menanggapnya sebagai kesalahan elementer, sementara saya kadang menyepakati kadang tidak, tergantung mana yang lebih bermanfaat.

Lelaki kelahiran Wonosobo 13 April 1989 yang memili nama asli Ahmad Muadzin El-Zahid ini kemudian cukup menyita perhatian, meski saya tidak selalu menunjukkan ketertarikan dengan cara yang verbal. Saya dan El kemudian dipertemukan melalui media sosial, Facebook. Dimulailah penelusuran-penelusuran saya terhadap penyair muda berbakat ini. Melalui obrolan di berbagai kesempatan, ia lelaki yang tidak banyak bicara. Kalimat-kalimat yang digunakan cenderung singkat dan padat. Dari kalimat-kalimat padat dan singkat itu, saya menemukan kedalaman cara pikirnya: tenang dan sangat hati-hati. Bagi saya, ketenangan dan kehati-hatian dalam diri anak muda berusia 20-an merupakan gejala langka. Sebagaimana kita ketahui--apalagi di zaman serba panas ini--manusia lebih senang dengan ketergesa-gesaan dan kepanikan. Mengetahui potensi kematangan emosional yang dimiliki El, saya semakin optimis, pada waktunya ia akan menemukan maqam puisi yang cemerlang.

Alumni Fakultas Syari’ah dan Hukum Islam Universitas Sains Al-Qur'an (UNSIQ) Jawa Tengah di Wonosobo yang aktif menulis sejak tahun 2003 ini, rasanya tidak berlebihan jika dianggap sebagai penerus keusastraan Indonesia yang layak diharapkan.  Selain kematangan emosioanal ia juga memiliki semangat berkarya yang menggembirakan. Akan tetapi, harapan adalah harapan bukan keputusan yang dapat dipegang teguh kepastiannya. Pada 29 Desember 2014, saya ditelpon Arafat AHC, penyair Demak--yang juga sahabat saya--menyampaikan kabar bahwa Vanera El-Arj pulang ke pelukan Gusti Allah. Dengan suara yang memberat dan napas yang agak patah, saya berkali-kali menanyakan pada Arafat mengenai kebenaran kabar tersebut. Saya sempat berusaha atau sebut saja berharap Arafat sedang bercanda. Sayang sekali, Arafat tidak memberi saya ruang untuk berharap lain, El telah pulang lantaran penyakit radang selaput otak yang dideritanya dan saya yang sudah lupa kapan terakhir kali meneteskan airmata, tidak sanggup menahan tangisan. Penyair muda yang sudah saya anggap seperti adik sendiri pulang begitu cepat: di usia 25 tahun, di mana ia sedang begitu keras memperjuangkan harapan-harapannya. Bukan tidak mengikhlaskan, tetapi manusia pada suatu perpisahan kerap tidak sanggup menampik kesedihan.

Saat keadaan lebih tenang, saya mulai mengingat-ingat: ketika El muntah darah di Cilegon dalam Temu Penyair Asia Tenggara pada Oktober 2014, saya--meski sangat khawatir--tidak menduga bahwa darah sebagai pertanda pertahan badan El sudah di ambang batasnya. Atas informasi dari Arafat, saya meminta tim saya untuk mengantarnya ke klinik terdekat. Sepulangnya dari klinik, saya menanyakan kepada tim saya ihwal hasil pemeriksaan dokter, tapi rupanya El sengaja tidak mengaja tim saya masuk sehingga tidak ada informasi yang saya dapatkan mengenai penyakitnya. Saya juga tidak bertanya pada El, karena ia pasti akan menjawab bahwa ia baik-baik saja. Jawaban yang kadang sulit saya terjemahkan, kemana arah dan muara 'baik-baik saja' itu.

Setelah kegiatan Temu Penyair Asia Tenggara selesai, saya, Dimas Indiana Senja, Ka Tyo, dan Arafat memutuskan untuk berwisata alam ke Baduy Banten.  El pun tampak begitu bersemangat, bahkan ketika akan naik ke Baduy Dalam yang harus menempuh 4-5 jam pendakian, ia tidak sama sekali mengajukan protes atau tampak lelah. Saya yang mengajukan protes, karena fisik saya yang tidak memungkinkan juga kesehatan El yang masih mengkhawatirnya. Wal hasil, kami hanya berputar-putar di wilayah yang tidak terlalu tinggi. Dalam perjalanan itu, berkali-kali saya melihat begitu banyak yang ia sembunyikan. Semacam kegelisahan tapi bukan kegelisahan, semacam ketenangan tapi bukan ketenangan yang sebagaimana biasa saya temukan di mata kebanyakan orang. Sikap El, secara langsung membuat saya begitu ingin bicara banyak dengannya.

Sambil menunggu Arafat dan Dimas selesai belanja pernak-pernik Baduy, saya dan El memilih duduk santai di jembatan rotan. Ia memegang setangkai ranting dengan kaki yang terjulur, sedangkan saya dengan tangan kosong, sesekali menyentuh kakinya. Selain bicara mengenai pohon-pohon besar yang mulai langka dan tentang bagaimana air mengalir dari sumber ke muara, ia juga banyak bicara tentang kebaikan, ketulusan, dan pengorbanan manusia atas manusia. Saya berusaha tidak banyak bicara--aslinya saya sangat cerewet--dan dengan khidmat mendengarkan setiap kalimat yang diutarakan El. Hanya sesekali saya menimpali dan mengingatkan agar El tidak lupa minum obat.

Tentu tidak hanya saya yang punya cerita, Mirza Sastroatmodjo (Kudus) yang sempat sekamar dengan El, mungkin punya banyak cerita di bulan-bulan terakhir menjelang kepergian El. Tetapi, baiknya kita tidak terlampau melankolia, toh, El pernah bilang, bahwa segala yang ada di dalam dirinya suatu ketika akan hilang dari kefanaan. Saya takut El tidak merestui jika banyak cerita tentang dirinya. Cukuplah pembaca tahu, El adalah penyair muda yang dimiliki Indonesia. Penyair yang pulang dengan segala keheningan yang ditinggalkan di kepala dan jiwa orang-orang yang dekat dengan dirinya, dan mungkin keheningan itu akan masuk dalam kepala jiwa para pembaca.

II/
Mengenai asal mula rencana penerbitan antologi puisi ini. Rasanya belum sampai tiga hari setelah kepulangan El, banyak inbok Facebook yang masuk. Inbok-inbok tersebut dengan redaksi yang berbeda menyampaikan isi yang sama: El ingin menerbitkan antologi puisi tunggal, itu harapan yang tidak dapat ia realisasikan semasa hidupnya. Noor Aisya (Singapura), Anna Mariyana (Kalsel), dan Dimas Indiana Senja (Yogyakarta) juga menyampaikan hal yang serupa. Dalam hati sempat terbersit rasa bersalah dan permohonan maaf, "Maafkan kami, El, kami benar-benar terlambat!"

Meski merasa terlambat, tidak jadi alasan untuk tidak menerbitkan puisi-puisi Vanera El-Arj. Persoalannya kemudian, bagaimana cara menerbitkannya?Menerbitkan antologi puisi bukan perkara mudah, lantaran puisi masih jadi anak tiri dalam khazanah penerbitan masa kini. Ternyata apa yang sempat saya duga akan sulit, tidak demikian nyatanya. Kawan-kawan yang mengenali dan dekat dengan El, antusias menyambut rencana penerbitan antologi puisi tersebut. Pustaka Senja Publishing, Sembilan Mutiara Publishing, dan Lentera Internasional secara serempak menyanggupi. Tentu saja beradasarkan kemampuannya masing-masing. Selain itu, banyak kawan yang juga turut mendukung secara personal. Nama-nama yang saya rahasiakan beradasarkan permintaan yang bersangkutan. Sungguh, keterlambatan ini tidaklah menjadi sia-sia. Penerbitan antologi puisi Vanera El-Arj adalah jalan yang layak ditempuh. Karena jejak seseorang yang 'berarti' tidak boleh begitu saja dihapus dari setiap ingatan.

Kendala lain kemudian muncul, bukan mudah pula mengumpulkan puisi-puisi El, tidak ada yang tahu di mana El menyimpan semua puisinya. Jalan yang ditempuh akhirnya mengumpulkan puisi-puisinya yang sudah diterbitkan dalam buku, di catatan facebook, maupun yang ada dalam dokumen pribadi kawan-kawannya El. Dengan demikian, boleh jadi puisi yang diterbitkan tidak secara keseluruhan sudah sampai pada tahap pematangan si penyairnya. Dalam hal ini, berdasarkan masukan kawan-kawan, editor disarankan untuk tidak mengubah kata perkata dalam puisi El sebagaimana yang terjadi pada puisi Chairil Anwar. Alasannya sederhana, untuk menyuguhkan kemurnian penciptaan dan tidak menyimpangkan orientasi pesan penyair.

III/
Seperti apa sesungguhnya puisi-puisi El, dan apa sesungguhnya yang ingin disampaikan penyair sebelum ia pulang ke keabadian? Banyak! Begitu banyak yang ingin disampaikan. Sebagaimana penyair pada lazimnya, El ingin menyampaikan kegelisahan-kegelisahannya mengenai hidup dan kehidupan. Di mana ia kadang meletakkan dirinya sebagai objek dan kadang sebagai subjek atau kadang tidak berada di keduanya. Hal yang paling spesifik dan yang saya tandai dari puisi-puisinya adalah cinta yang tidak profan. Cinta yang begitu ia sakralkan sebagai inti atom pemikiran-pemikirannya. Penyair ini tampak bersikeras mengurai nilai-nilai cinta dalam berbagai aspek, sebagaimana dalam penggalan beberapa puisi berikut ini:

...
Catatan-catatan yang pernah kutulis dan akan kupelajari yang selanjutnya berharap aku memahaminya seakan-akan tak pernah ada. Yang kurasai selalu engkau masih dalam satir yang begitu dalam - misteri yang begitu gelap. Sedang siluetmu senantiasa melambaikan tangan agar aku lekas memelukmu.
...
(Akan Engkau)

...
Aku masih terus mencari aku-engkau
dalam jasad yang satu.
Sebagaimana aku
berusaha meleburkan aku-ku ke dalam jiwamu
...
(Rindu yang Gelap)

...
Kau masih saja sebagai misteri
dalam otakku yang kecil,
dalam hatiku, kandil.
meski kau ada
bersama sepanjang sejarah:
Nafas
...
(el-Firzh)

...
maukah engkau mengajakku duduk di beranda atau sekedar duduk di teras, pun bahkan apabila duduk-duduk hanya di tepi jalanaku sungguh merasa sendiri, dan berharap engkau berkenan menyapamengajakku bercerita tentang entah tentang brantahmelahirkan diskusi-diskusi konyol penuh tawa, juga mempuisikan hidup yang semakin membuat lena seperti tragedi telenovela
...
(I am Still Alone)

...
Dan benar, sebentar saja sinar matahari yang jatuh ke permukaan tanah tikungan sebelum jembatan itu merubah suasana angin yang berkesiur. Sedari subhuh yang masih sayup, waktu itu masih hanya sekedar seberkas sinar putih yang menembus fajar
...
(Tikungan Sebelum Jembatan)

Begitulah cara El, menyelipkan Cinta dalam puisi-puisinya,  kadang kata 'cinta' digunakan sebagai penegas keberadaan cinta dalam cinta sang pecinta dan kadang ditiadakan untuk menyembunyikan tirakat cinta sang pecinta cinta, tanpa menghilangkan esensi cinta itu sendiri.

Selain cinta atas pengertian yang luas dan dalam, ada hal-hal yang dapat diperhatikan melalui puisi-puisinya, yakni kesadaran mengenai 'kematian'. Begitu banyak soal kematian yang ia tulis, baik kematian yang ditulis dengan tegas ataupun dengan samar dan nyaris sulit diterka. Bahkan pada 12 November 2014 sebelum akhirnya saya dan kawan-kawan tidak dapat berkomunikasi dengan El baik melalui facebook maupun handphone, ia mengirimkan puisi terakhirnya melalui inbok:

Dalam Cahaya

Kau
dan aku adalah jarak;
melebur dalam cahaya.

Grand Mangkuputra, Cilegon, 23 Oktober 2014

Tanpa Alas

Tanpa alas kaki Sang pejalan
tak berhenti sampai
cahaya tak silaukan mata.

Cilegon, Dzulhijjah 1435 H

Apakah dua puisi di atas sebagai isyarat atau firasat? Apapun, firasat atau isyarat sesungguhnya bukan hal yang amat sangat tidak dapat disentuh manusia. Pada dasarnya, alam semesta senantiasa memberikan sinyal pada jiwa manusia, mengenai hal-hal yang tidak kasat. Tidak heran, jika kemudian penyair mempu menangkap sinyal-sinyal itu, terlepas dengan sadar atau tidak.  Karena simpul-simpul kehidupan, uraian-uraian kejadian, serta rahasia-rahasia sesungguhnya tertutup dan terbuka.  Manusia dapat menangkap itu, tentu saja pada batas-batas kesanggupannya semata.

Dari berbagai kenangan yang masih terawat oleh ingatan, hal yang paling dekat adalah status yang ditulis El pada 29 November 2014, sebulan sebelum ia berpulang. Dalam statusnya tersebut, El dengan sangat gamblang meminta doa kepada kawan-kawannya agar didoakan husnul khatimah. Meski beberapa kawan mengamini status tersebut, tentu tidak ada yang menyangka hanya berjarak 30 hari El benar-benar pulang, semoga juga benar-benar husnul khatimah sebagaimana pengaminan sahabatnya, Rini Intama dan kawan-kawan dalam status.

Lebih sederhana, barangkali perlu ditarik juga ke ranah yang lebih logis dan memungkinkan dapat diterima dengan mudah: El sesungguhnya tengah membangun kesadaran-keadarannya sebagai seorang manusia yang penyair atau sebagai penyair yang manusia. Bahwa segala yang baru akan rusak dan hilang. Setiap yang dilahirkan akan menemukan kematian:kesinambungan kesadaran akan hakikat dunia dengan kefanaannya serta hakikat alam akhirat dengan kekekalannya. Rasanya, apa yang dipikirkan dan direnungkan oleh seorang Vanera El-Arj sangat penting dan perlu juga direnungkan oleh kita semua.

Mengenai kepulangan penyair ini, tidak ada yang terbaik selain doa dari semua pembaca. Diharapkan kesediannya mengirim alfatihah bagi El (Ahmad Muazin El-Zahid). Sebagai penutup, bacalah penggalan puisi El yang seolah sebagai wasiat bagi keluarga, sahabat, dan kerabat. Wasiat yang memberikan rambu-rambu bagaimana mengenang seorang Vanera El-Arj:

...
aku ingin mengenangmu bukan dalam takutku,
aku ingin mengenangmu bukan dalam tangisku,
aku ingin mengenangmu bukandalam bimbang dukaku,
namun....
aku ingin mengenangmu dalam cinta
...
(AKU, KAU dan DIA)


*(Muhammad Rois Rinaldi, penggiat sastra, tinggal di Kramatwatu, Banten.

Mirza Sastroatmodjo (kiri) dan Vanera El-Arj (kanan) sedang makan kacang, di hotel Grand Magkuputra Cilegon 24 Oktober 2014.Mirza Sastroatmodjo (kiri) dan Vanera El-Arj (kanan) sedang makan kacang, di hotel Grand Magkuputra Cilegon 24 Oktober 2014.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar