Jumat, 13 Desember 2013

Uki Bayu Sejati : SASTRA & JAMAN : SEIRING SEJALAN

gampang-prawoto.blogspot.com












Uki Bayu Sejati
SASTRA & JAMAN : SEIRING SEJALAN

Yang berkecimpung di ranah sastra ingin “memasyarakatkan sastra—menyastrakan masyarakat”. Yang kiprah di ranah olahraga sudah lama mencanangkan “memasyarakatkan olahraga, mengolahragakan masyarakat”, yang berselancar di ranah matematika berjuang “memasyarakatkan matematika—mematematikan masyarakat” (hati-hati membaca, hindari lidah keseleo).
Jadi, pepatah “kepala sama hitam, pendapat berbeda-beda” pas dan tepat. Kaitan dengan jargon-jargon yang terpampang di paragraf awal jelas. Di antaranya begitu banyak kepala manusia di dunia ini yang keinginan, niat, hasratnya dibuat jargon dan diminati oleh sebagian anggota masyarakat. Andai semua dipublikasikan maka riuh-rendah dan semaraknya wacana yang beredar di sekitar kita. Pada saat yang sama sebenarnya dalam diri setiap manusia sudah begitu bersliweran niat, hasrat, beserta potensi-potensi lainnya.
Sama halnya dengan kenyataan bahwa sejak lahir setiap manusia memiliki status dan peran. Janin dalam rahim bunda adalah status, namun sudah berperan, antara lain: menjadi harapan pasutri maupun kakek-nenek, termasuk menjadi incaran produsen susu untuk dijadikan konsumen. Makin tambah usia makin banyak status dan peran yang disandang setiap manusia, maka bukan mustahil terjadi “ketegangan”. Misal, statusnya anak usia lima tahun, perannya siswa baru di Taman Kanan-kanak, mestinya ia menjalankan perannya itu, namun entah kenapa pagi itu mogok. Bagaimana sosok manusia yang berstatus ibu maupun guru harus melakukan perannya agar si anak pulih? Jadi, tampak besar-kecilnya porsi peran yang di”main”kan oleh status-status makhluk berpengaruh terhadap “ketegangan” di antara sosok-sosok manusia.
Sapardi Djoko Damono—saat menjadi pembicara pada peluncuran buku puisi Tiga Menatap Takdir, awal bulan ini—berpendapat bahwa pernyataan yang antara lain menyatakan anak remaja sekarang malas membaca buku sebaiknya tak dinyatakan lagi. Dengan kata lain diralat. Sebab, anak remaja masa kini hidup di tengah pusaran pesatnya teknologi komunikasi yang dalam waktu “sedetik” dapat mengakses sekian banyak informasi, itu galibnya sama dengan sedang membaca. Buku yang berupa kertas lambat laun bakal paperless. Jika sekian tahun lalu, kita amat sering melihat sosok-sosok manusia di suatu negara ketika berada dalam trem, bus, terus membaca buku sambil berdiri dengan dua kakinya, sekarang sudah berubah. Alat yang dipegang, berupa gadget, seluler, elektronik yang fiturnya lengkap, diutak-atik, tak peduli duduk lesehan, jongkok maupun berdiri—dengan tekun dan asyik—sekali pun dengan satu tangan.
Dunia berubah. Ya dan pasti.
Demikian pun di “dunia” sastra. Jelas selalu berada di dalam pusaran perubahan bersama “dunia-dunia” lain, saling berelasi, berinteraksi, pengaruh-mempengaruhi, dan sebagainya.
Sastra adalah produk budaya karya manusia—yang minat, senang, nikmat terhadap keindahan. Maaf, hindari mengklaim bahwa hanya sastra yang akrab dengan estetika. Karena Sang Maha Pencipta menyukai keindahan maka setiap mahluk dilengkapi dengan keindahan maupun rasa indah dan mampu merasionalkannya. Jadilah berbagai cabang, aliran, jenis, bentuk yang sedemikian ragam, beserta posisi dan porsi masing-masing yang berbeda.
Tanpa ingin menggurui bolehlah kita saling mengingatkan ihwal luasnya pengertian ‘sastra’. Bukan hanya menulis dalam artian menyambung huruf menjadi suku kata, kata, kalimat yang ditatah apik di daun lontar maupun kayu, digoreskan tangan jemari dengan halus dan indah di kertas dan kain, jadi simbol-simbol teknik informatika di komputer, seluler, juga—jangan lupa—tentang sastra lisan utamanya yang tradisional wedarkan kebijakan lokal dari jenius empu lokal, dan lebih dari itu sedemikian tak terhingga ‘sastra’ yang masih imaji berkeliaran di mayapada.
Jadi tak berhenti dan terpaku pada buku. Begitulah mestinya kita semua sampaikan kepada sedulur-sedulur yang berstatus guru di sekolah/madrasah/pesantren, pedagang/pengusaha di kaki lima sampai gedung pencakar langit, sipil—militer, politisi—birokrat, dan sebagainya. Marilah membuka pancaindera, aqal qalbu, rohani jasmani—luaskan wawasan. Siapa pun memiliki potensi ‘sastra’ dalam dirinya. Maka saat ia menyampaikan kepada sesiapa galibnya ia boleh disebut ‘sastrawan’, sebagaimana kita semua memiliki banyak status dan peran. Sekali lagi, yang berbeda tentu pada posisi dan porsinya.
Dengan demikian bukan mustahil pengertian ini membongkar batasan-batasan yang selama ini mengangkangi dan mengungkung kita. Di ‘dunia’ sastra boleh saja ada angkatan “Poejangga Baroe”, ”Angkatan ’45”, “Angkatan Balai Poestaka”, “Angkatan ’66”, ”Angkatan 80”, “Angkatan Facebook”, dan seterusnya, yang penting tak saling menghakimi, meninggikan diri/kelompok sendiri—merendahkan pihak lain.
Tentu saja bakal ada yang bertanya ihwal mutu alias kualitas, yang mengartikan adanya yang ‘menilai’ dan ‘yang dinilai.’ Karena kita yakin bahwa setiap manusia memiliki hak sekaligus kewajiban, maka pada hakikatnya “penilaian” bagaimana pun sifatnya relatif. Saat kita sebut: sesuatu, maka sebenarnya masih bisa digali lagi apa dan bagaimana “sesuatu” itu. Ini menunjukkan pengetahuan manusia di suatu waktu terbatas, dan terus berkembang. Yang kita nilai hari ini “buruk” besok berubah jadi “belum bagus,” setahun kemudian ada yang menyatakan “bagus.” Ya, bukan mustahil demikian, karena segalanya berubah, bahkan kata ‘ubah’ itu sendiri selorohnya, a.l. change (Inggris), obah (Jawa), anderung/tausch (Jerman), autre (Prancis).
Dunia berubah. Ya dan pasti.
Maka ada baiknya kita senantiasa belajar, belajar dan belajar. Hindari perasaan terlambat. “Pendidikan berlangsung dari janin sampai liang lahat”. Mempelajari, meminati, menikmati, mengolah sastra secara kreatif seiring sejalan dengan perubahan jaman. Demikian pula dengan berbagai kegiatan kehidupan lainnya. “Tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan”. Tetap dan terus semangat. Mudah-mudahan bermanfaat. (Uki Bayu Sedjati).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar